Sangat bersyukur aku membaca buku ini saat remaja jadi sesuai dengan umur. Di antara pusingnya tumpukan tugas Matematika Wajib dan Matematika Peminatan, aku menemukan novel ini di perpustakaan SMA 10 yang membuatku bisa sedikit waras.
Novel ini berhasil bikin aku menangis karena sosok Ily. Dia itu ibarat kakak bagi trio petualang asal klan bumi—Raib, Seli, Ali.Di antara kekanakan dan cerobohnya perangai mereka bertiga yang masih sering kalah sama kacaunya hormon dan ketidakdewasaan, sosok Ily itu semacam abang yang kalem dan sabar.
Sebagai buku kedua dalam serial Bumi, Bulan melanjutkan petualangan Raib, Seli, dan Ali. Kali ini, pembaca diajak menjelajahi Klan Matahari. Sebuah dunia yang digambarkan berada di atas awan, jauh dari jangkauan manusia biasa.
Sinopsis Novel
Ily bukan tokoh utama, tapi kehadirannya terasa penting. Di tengah sifat tenang Raib yang penuh beban, Seli yang emosional, dan Ali yang ceroboh sekaligus jenius, Ily hadir sebagai penyeimbang. Ia tenang, sabar, dan bisa diandalkan. Sosok yang tidak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus ada.
Bagi Raib, kehadiran Ily seperti sosok yang akhirnya bisa mengimbangi sosok Raib Sendiri yang kerap goyah dan ragu-ragu. Ia akhirnya memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi. Tentang kecemasan, tentang tanggung jawab sebagai Putri Bulan yang datang terlalu cepat. Relasi ini terasa hangat, bahkan memberi harapan bahwa dalam perjalanan yang penuh risiko, mereka tidak sendirian.
Dan mungkin, justru karena itu, kehilangan terasa begitu menyakitkan.
Tere Liye dikenal dengan satu pola yang sering membuat pembaca gemas: menghadirkan karakter yang kita butuhkan, lalu menghilangkannya. Ily menjadi salah satu contohnya. Kepergiannya bukan hanya mengejutkan, tapi juga meninggalkan rasa marah. Seolah semua yang terjadi terasa sia-sia.
Dalam cerita, kematian Ily berkaitan dengan misi mencari bunga matahari. Sebuah keputusan yang terasa dipenuhi ego dan kepentingan pihak-pihak yang lebih berkuasa. Di titik ini, novel tidak hanya bercerita tentang petualangan, tetapi juga tentang kritik halus terhadap kekuasaan. Bahwa sering kali, keputusan besar diambil oleh mereka yang memiliki otoritas, tanpa benar-benar mempertimbangkan konsekuensi bagi orang lain.
Dan yang lebih menyakitkan, hal ini terasa dekat dengan realitas.
Kelebihan dan Kekurangan
Di luar cerita, kita juga sering melihat bagaimana ego dan ambisi bisa mengorbankan banyak hal, termasuk nyawa. Dalam konteks ini, Bulan tidak hanya menjadi bacaan fiksi, tetapi juga refleksi sosial yang terselubung.
Di balik kekuatan emosional dan tematiknya, novel ini tidak lepas dari kekurangan. Salah satu yang cukup terasa adalah pembangunan dunia Klan Matahari yang kurang konsisten. Secara konsep, dunia ini digambarkan sangat maju, bahkan lebih dari Klan Bulan. Tetapi dalam detail tertentu, logikanya terasa tidak seimbang.
Misalnya, sistem ekonomi yang menggunakan “kelereng” sebagai alat tukar. Di satu sisi, teknologinya maju ribuan tahun, tetapi sistem pembayarannya justru terasa mundur. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi sebenarnya cukup penting dalam membangun dunia yang meyakinkan.
Begitu juga dengan beberapa teknologi yang kurang dijelaskan secara rinci, sehingga sulit dibayangkan secara realistis. Padahal, dengan konsep yang begitu luas, Bulan memiliki potensi besar untuk menghadirkan dunia yang benar-benar hidup.
Meski begitu, kekurangan ini tidak sepenuhnya mengurangi daya tarik cerita. Karena pada akhirnya, yang paling diingat dari Bulan bukan hanya dunianya, tapi perasaan yang ditinggalkan.
Dan mungkin, itulah kekuatan sebenarnya dari sebuah cerita: bukan seberapa sempurna ia dibangun, tapi seberapa dalam ia tinggal di hati pembacanya.
Identitas Buku
- Judul: Bulan
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
- Tahun Terbit: 2022
- Tebal: 400 halaman
- ISBN: 9786239726287
- Genre: Fiksi, Petualangan, Fantasi
- Seri: Bumi #2
Baca Juga
-
Stop Normalisasi Lebaran Flat: Ini Hari Raya, Bukan Hari Senin
-
Setahun Sekali Aja Masih Gengsi? Minta Maaf Itu Bukan Aib
-
Dari Bandar Narkoba hingga Kekerasan Seksual, Isu Berat di My Name (2021)
-
Ketika Ayah Jadi Trauma Terbesar Anak Perempuan, Ironi di Buku Sea Me Later
-
Membaca Novel ILY: Saat Petualangan Berubah Jadi Pilihan yang Menyakitkan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Dari Rumah Penuh Konflik ke Puncak Kesuksesan: Transformasi Jennifer Lawrence di Film Joy
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia
Terkini
-
Diet Berita: Tutorial Tetap Waras di Zaman yang Terlalu Ramai
-
Bau Badan Wassalam! 5 Siasat Wangi Paripurna Meski Panas-panasan di Jalan
-
Apresiasi The King's Warden: Film Sejarah Korea yang Sukses Memukau di Box Office
-
Social Battery Habis Lebaran? Ini Trik 'Kabur' Elegan Tanpa Dicap Sombong
-
Duel Karbo Lebaran: Ketupat vs Nasi, Siapa yang Paling Bikin Gula Darah Meroket?