Hayuning Ratri Hapsari | Inggrid Tiana
Buku Maaf Aku Lahir ke Bumi (Dok. Pribadi/Inggrid Tiana)
Inggrid Tiana

Buku Maaf Aku Lahir ke Bumi karya Marchella FP merupakan buku ketujuh yang hadir dengan nuansa lebih personal, emosional, dan reflektif. Jika beberapa karya sebelumnya lebih banyak berbicara tentang kehidupan secara umum, kali ini Marchella seperti mengajak pembaca masuk lebih dalam ke perasaan-perasaan yang sering dipendam sendiri.

Dari judulnya saja, buku ini sudah terasa cukup menampar secara emosional. Kalimat maaf aku lahir ke bumi terdengar sederhana, tetapi menyimpan rasa lelah, rasa bersalah, dan pertanyaan tentang keberadaan diri sendiri.

Buku ini terasa seperti suara hati banyak orang yang sering merasa tidak enak kepada orang lain (people pleasure), terlalu memaklumi keadaan, atau terbiasa mendahulukan orang lain sampai lupa memperhatikan dirinya sendiri.

Buku ini bukan novel dengan alur cerita yang panjang, melainkan sebuah antologi berisi kumpulan tulisan, puisi, dan esai reflektif. Gaya penulisannya khas Marchella FP, sederhana, tetapi emosinya terasa dekat. Banyak kalimat yang terdengar seperti isi kepala sendiri yang akhirnya dituliskan oleh orang lain. Karena itu, buku ini terasa cukup personal saat dibaca.

Hal yang menarik, buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang membantu menyampaikan emosi di setiap bagian. Visual dalam buku ini bukan hanya pelengkap, tetapi ikut memperkuat suasana dan perasaan yang ingin disampaikan. Ada rasa sunyi, lelah, dan rapuh yang terasa cukup kuat dari perpaduan tulisan dan ilustrasinya.

Menurut saya, kelebihan buku ini ada pada bagaimana ia membahas budaya tidak enakan yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama generasi muda yang sedang memasuki fase dewasa.

Banyak orang tumbuh dengan kebiasaan selalu mencoba menyenangkan orang lain, takut mengecewakan sekitar, atau merasa bersalah saat memilih dirinya sendiri. Lama-lama, kebiasaan itu membuat seseorang terus memendam emosi dan lupa bahwa dirinya juga pantas diprioritaskan.

Melalui buku ini, Marchella seperti ingin mengingatkan bahwa rasa bersalah tidak selalu harus dipelihara terus-menerus. Tidak semua hal harus dipikul sendirian. Kadang manusia terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai kehilangan ruang untuk memahami dirinya sendiri.

Salah satu hal yang membuat buku ini terasa berbeda dibanding karya Marchella sebelumnya adalah hadirnya enam kolaborator dari latar belakang yang berbeda. Ada Ariel, Sal Priadi, Reza Chandika, Michael Sofyan, Mechio DAC, dan Marcel Lukman. Mereka ikut menuliskan perspektif masing-masing di setiap bab buku ini.

Kolaborasi tersebut membuat isi buku terasa lebih kaya secara emosional. Menariknya, mereka tidak membagikan cerita secara gamblang atau terlalu detail, tetapi justru menyampaikan potongan emosi dan sudut pandang yang terasa relatable. Dari situ pembaca bisa melihat bahwa setiap orang, bahkan mereka yang terlihat baik-baik saja, ternyata juga memiliki sisi rapuh yang jarang diperlihatkan ke publik.

Buku ini juga menghadirkan sosok simbolis bernama Nuvola. Figur ini seperti representasi dari rasa bersalah dan beban emosional yang sering mengikuti hubungan manusia, baik dengan keluarga, orang lain, maupun diri sendiri. Kehadiran Nuvola membuat buku ini terasa lebih puitis sekaligus reflektif.

Meski tema yang dibahas cukup berat, gaya bahasa dalam buku ini tetap mudah dipahami. Marchella tidak menggunakan kalimat yang terlalu rumit, sehingga pembaca bisa menikmati isi bukunya dengan lebih santai. Namun justru karena kesederhanaannya itu, beberapa bagian terasa lebih mengena.

Buku Maaf Aku Lahir ke Bumi adalah buku yang cocok dibaca saat sedang merasa lelah secara mental atau terlalu keras pada diri sendiri. Buku ini tidak memberikan solusi instan, tetapi lebih seperti teman yang duduk diam menemani dan berkata bahwa tidak apa-apa merasa lelah.

Secara keseluruhan, buku ini berhasil menjadi ruang refleksi bagi pembaca yang sering memendam rasa bersalah dan terbiasa mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri. Maaf Aku Lahir ke Bumi bukan hanya tentang luka, tetapi juga tentang belajar memahami diri sendiri dengan lebih pelan dan lebih manusiawi.