Film Penerbangan Terakhir (2026) adalah drama thriller Indonesia yang menggali sisi gelap dunia penerbangan, di mana seragam gagah pilot menyembunyikan manipulasi emosional dan skandal romansa.
Disutradarai oleh Benni Setiawan dan diproduksi oleh VMS Studio serta Legacy Pictures, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada pertengahan Januari 2026, tersedia di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis. Dengan durasi 111 menit, rating usia 17+, film ini menawarkan premis segar tentang toxic relationship di ketinggian 30.000 kaki, dan pasti membuat penonton geregetan sekaligus reflektif.
Rahasia Gelap di Balik Kokpit
Sinopsis dimulai dari Kapten Deva Angkasa (Jerome Kurnia), pilot muda berparas tampan dan karismatik yang tampak sempurna. Ia mencapai pangkat kapten di usia dini, tapi di balik aura cool-nya, Deva adalah master manipulasi. Ia sering love-bombing seperti memberikan perhatian berlebih dan janji manis kepada pramugari di maskapainya.
Cerita berfokus pada Tiara (Nadya Arina), pramugari berpengalaman yang kembali bertemu Deva, seniornya dulu. Hubungan mereka rumit, melibatkan Nadia (Aghniny Haque), pramugari lain yang terjebak dalam jaring emosional Deva. Kisah ini bukan sekadar romansa udara, tapi eksplorasi relasi kuasa, di mana jabatan pilot memberi Deva keuntungan untuk memanipulasi korban-korbannya. Film mengajak penonton mengenali tanda-tanda abusive relationship, seperti gaslighting dan emotional blackmail, sambil menyajikan drama skandal yang bikin tegang.
Dari segi narasi, Benni Setiawan berhasil membangun ketegangan secara bertahap. Awal film menarik dengan pengenalan karakter dan setting kokpit serta kabin pesawat yang autentik. Visual penerbangan malam hari, suara mesin jet, dan close-up wajah karakter menambah imersi. Akan tetapi, bagian tengah agak lambat, dengan dialog yang terlalu repetitif tentang gombalan Deva yang bikin geregetan seperti "Kamu adalah penerbangan terbaikku" yang memang dirancang untuk memprovokasi emosi penonton.
Review Film Penerbangan Terakhir
Akting menjadi kekuatan utamanya nih. Jerome Kurnia brilian sebagai Deva, menampilkan dualitas: charming di luar, manipulative di dalam. Matanya menyiratkan tipu daya, membuatku benci tapi penasaran.
Nadya Arina sebagai Tiara kuat, menunjukkan perempuan mandiri yang perlahan terjerat, dengan ekspresi rentan yang relatable. Aghniny Haque sebagai Nadia menambah lapisan, dengan chemistry ketiganya yang intens.
Pemain pendukung seperti Nasya Marcella dan Ayu Dyah Pasha menambah kedalaman, meski peran mereka lebih sebagai katalisator konflik. Sinematografi oleh Roby Herby bagus, dengan angle drone shot penerbangan yang epik, tapi sound design kadang over-the-top, seperti musik dramatis yang terlalu sering.
Tema film ini relevan: sisi gelap relasi kuasa di tempat kerja, khususnya industri maskapai di mana jam kerja panjang dan isolasi menciptakan ruang untuk eksploitasi. Ini segar dibanding film Indonesia biasa tentang selingkuh, karena fokus pada psikologi manipulator dan korban, bukan sekadar sensasi.
Pesan anti-toxic relationship disampaikan tanpa preach, melalui dialog natural dan flashback yang cerdas. Kelemahannya? Pacing tidak merata, dan beberapa subplot seperti persahabatan pramugari kurang dieksplor, membuat film terasa kurang bulat. Juga, ending twist mungkin terlalu abrupt bagi sebagian penonton termasuk aku, meski itu yang bikin memorable.
Jadi bisa kusimpulkan, Penerbangan Terakhir layak ditonton untuk pencinta drama psikologis. Rating pribadi dariku: 7.5/10: kekuatannya ada di acting dan tema, minusnya cuma pacing doang. Di era pasca-pandemi di mana industri penerbangan bangkit, film ini jadi pengingat bahwa di balik glamor, ada manusia dengan luka. Meski filmya tayang hingga akhir Januari 2026, kamu masih bisa melihatnya di platform digital kesayanganmu ya, Sobat Yoursay!
Baca Juga
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
Review Serial Ted Lasso Season 1: Drama Olahraga yang Sangat Menginspirasi
-
Daniel and the Fiery Furnace: Rahasia Iman dan Api Pembuangan di Babilonia!
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri
-
Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Can This Love Be Translated?: Cinta Ternyata Adalah Bahasa Paling Rumit
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
Tak Semudah Hompimpa: Nostalgia yang Berujung Nyesek di Playlist Galau
Terkini
-
Sinopsis Irreplaceable, Dracin Terbaru Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun di Youku
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe