Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Ngobrol Berdua, Jatuh Cintanya Sendirian karya Oktabri. (gramedia)
Taufiq Hidayat

Melihat judulnya saja, kita seolah sedang disindir secara terang-terangan. Ngobrol Berdua, Jatuh Cintanya Sendirian adalah kalimat yang sangat "relate" dengan fenomena hubungan masa kini, di mana kedekatan verbal sering kali disalahartikan sebagai ikatan hati. Novel setebal 195 halaman karya Oktabri ini lahir dari rahim Gramedia Writing Project dan diterbitkan oleh Bhuana Sastra pada April 2024. Sebuah bacaan yang sangat direkomendasikan bagi pembaca usia 15 tahun ke atas yang mencari kisah romansa dengan sudut pandang unik.

Perjodohan di Orbit FM: Antara Tra dan Ica

Cerita ini berpusat pada sosok Trubadur, seorang penyiar radio di Orbit FM yang mengasuh program "Yours Truly". Tugasnya berat: menjodohkan dua pendengar yang belum pernah bertemu. Kali ini, "pasien" yang harus ia tangani adalah Tra dan Ica. Melalui blurb-nya, Trubadur sendiri merasa sangsi. Bagaimana mungkin ia bisa menyatukan dua insan yang berbeda bak langit dan Bumi tanpa berakhir dengan salah satu dari mereka patah hati sendirian?

Latar belakang keduanya pun sangat kontras. Tra adalah seorang perantau yang datang ke kota demi mengejar perempuan yang pernah memberinya harapan, namun berakhir dengan luka yang menganga. Di sisi lain, Ica hadir dengan status yang cukup mengejutkan bagi Tra dan Trubadur: seorang ibu tunggal. Kehadiran Ica membawa dinamika baru dalam program perjodohan ini, karena statusnya yang pernah menikah memberikan dimensi emosional yang lebih kompleks daripada sekadar cinta monyet biasa.

Dinamika Perasaan yang Melelahkan namun Candu

Sejujurnya, saya sempat merasa sedikit bosan di awal bab. Namun, memasuki bab ketiga, Oktabri mulai memainkan ritme cerita dengan sangat apik. Melalui berbagai pertanyaan yang diajukan dalam program radio tersebut, pembaca diajak menyelami karakter Tra dan Ica lebih dalam. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar basa-basi, melainkan pintu masuk menuju rahasia-rahasia terkunci.

Penulis sangat berhasil membangun karakter tokoh-tokohnya. Saya secara pribadi bisa merasakan betapa melelahkannya permainan perasaan di antara Tra dan Ica. Ada kalanya mereka tampak saling menunjukkan ketertarikan yang intens, namun di detik berikutnya mereka bisa terlihat seolah tidak peduli sama sekali. Tarik ulur emosional inilah yang membuat saya terus membalik halaman hingga bagian akhir, ditambah dengan beberapa kejutan kecil yang disisipkan penulis dengan cerdas.

Catatan untuk Karakter Pendukung

Meski karakter utama digarap dengan matang, ada sedikit rasa sayang terhadap karakter Elyana. Bagi saya, Elyana adalah sosok yang menyimpan banyak misteri dan tampak sangat piawai menyembunyikan rahasia dari orang-orang di sekitarnya. Sayangnya, karakter ini kurang mendapat perhatian atau porsi eksplorasi yang cukup, padahal ia memiliki potensi untuk memberikan warna yang lebih gelap atau lebih dalam pada narasi cerita.

Kesimpulan

Bagi Anda yang sedang mencari bacaan santai namun tetap mampu mengaduk-aduk perasaan, novel ini adalah pilihan yang tepat. Oktabri mengingatkan kita bahwa komunikasi sehebat apa pun tidak menjamin keselarasan hati. Terkadang, obrolan panjang di malam hari hanyalah sebuah perjalanan menuju jatuh cinta yang dilakukan seorang diri. Sebuah potret hubungan yang jujur, pedas, sekaligus menghibur.

"Sebaiknya, sesakit apapun kamu pada sebuah hubungan dengan laki-laki di masa lalumu, tidak membuatmu harus menutup diri dan menyingkirkan semua lelaki yang berusaha datang untuk membahagiakanmu."

Identitas Buku:

  • Judul: Ngobrol Berdua, Jatuh Cintanya Sendirian
  • Penulis: Oktabri
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (GWP/Grasindo)
  • Tahun Terbit: 2024 (Edisi Cetak/Digital)
  • Genre: Fiksi / Novel / Sastra
  • Kategori: Romansa / Percintaan