Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal nama Ki Hadjar Dewantara. Setiap tanggal 2 Mei, kita merayakan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Namun, sebuah pertanyaan reflektif muncul: sejauh mana kita benar-benar memahami visi dan pahit getir perjuangannya? Sering kali, kita hanya mengenal beliau sebagai sosok di buku teks tanpa memahami proses transformatif yang beliau alami. Membaca buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan karya Irna H.N. Hadi Soewito adalah langkah tepat untuk menyelami kedalaman karakter sang tokoh sebelum ia memakai gelar Bapak Pendidikan Nasional.
Perlawanan Lewat Pena dan Berdirinya Indische Partij
Buku ini memotret fase krusial dalam hidup R.M. Soewardi Soerjaningrat. Perjuangannya dimulai dengan jalur politik yang radikal pada masanya. Bersama dua karibnya, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangoenkoesomo (yang kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai), Soewardi mendirikan Indische Partij pada 6 September 1912. Partai ini secara berani mengusung paham kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan, sebuah upaya awal untuk menanamkan kesadaran nasional di tengah rakyat Hindia yang masih terlelap dalam cengkeraman kolonialisme.
Puncak ketegangan terjadi pada Juli 1913, ketika pemerintah Hindia Belanda berencana merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis di tanah jajahan sendiri. Rencana ini adalah penghinaan besar bagi kaum pergerakan. Soewardi membalasnya dengan sebuah tulisan satir yang melegenda, "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan yang dicetak sebanyak 5.000 salinan ini menghantam telak wibawa penjajah. Akibatnya, Soewardi ditangkap. Namun, ia bukan sosok yang mudah bernegosiasi demi kebebasan pribadi. Ia lebih memilih hukuman pengasingan daripada harus tunduk pada kemauan kolonial.
Bertahan Hidup dan Diplomasi di Belanda
Hidup di pengasingan Belanda bukanlah perkara mudah. Bersama istrinya, Soetartinah, Soewardi harus berjuang melawan keterbatasan ekonomi dan cuaca yang asing. Namun, di sinilah kecemerlangan intelektualnya semakin teruji. Untuk bertahan hidup, ia menulis di berbagai surat kabar dan majalah Eropa. Ia bahkan mendirikan Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia). Menariknya, melalui biro pers inilah nama "Indonesia" mulai dipopulerkan di panggung internasional, menggantikan istilah Hindia Belanda yang bernuansa kolonial.
Selama di Belanda, Soewardi tidak sekadar menjalani hukuman. Ia menggunakan waktunya untuk melakukan studi mendalam tentang sistem pendidikan. Ia banyak menyerap pemikiran tokoh-tokoh dunia seperti Maria Montessori dari Italia dan Rabindranath Tagore dari India. Pertemuan pemikiran inilah yang kelak membuahkan konsep pendidikan yang khas bagi bangsa Indonesia.
Kelahiran Sistem Among dan Taman Siswa
Keresahan Soewardi terhadap sistem pendidikan kolonial yang mengandalkan perintah, paksaan, dan hukuman (regering, tucht, en orde) membuatnya merumuskan sebuah alternatif yang disebut "Sistem Among". Bagi Soewardi, guru bukan sekadar pemberi perintah, melainkan pemimpin yang mendukung dan mengayomi. Konsep ini kemudian kita kenal dengan semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Setelah dibebaskan dari pengasingan pada 17 Agustus 1917, tepat 28 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia kembali ke tanah air dengan visi yang lebih matang. Berbekal pengalaman dan pengetahuan dari pengasingan, ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Sekolah ini menjadi laboratorium bagi bangsa Indonesia untuk belajar merdeka secara lahir dan batin.
Kesimpulan
Buku karya Irna H.N. Hadi Soewito ini, meski tidak terlalu tebal, berhasil menyajikan informasi yang sangat komprehensif dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti. Penulis berhasil menunjukkan bahwa pengasingan yang dimaksudkan untuk mematikan langkah Soewardi, justru menjadi rahim bagi lahirnya pemikiran-pemikiran besar pendidikan bangsa. Buku ini adalah bacaan wajib bagi para pendidik dan generasi muda untuk memahami bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bermula dari tajamnya pena dan keteguhan prinsip di tengah pengasingan yang sunyi.
Identitas Buku:
- Judul: Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan
- Penulis: Irna H.N. Hadi Soewito
- Penyunting: Avicenna Raksa Santana (pada edisi KPG)
- Penerbit: Balai Pustaka & Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
- Tahun Terbit: 1985 (Balai Pustaka), 2019 (Cetakan Terbaru - KPG)
- ISBN: 9786024812348 (Edisi 2019)
- Jenis: Monograf/Biografi Sejarah
- Deskripsi Fisik: Sekitar 143-144 halaman, ilustrasi, 21 cm
- Subjek: Tokoh Pendidikan/Biografi Ki Hajar Dewantara
Baca Juga
-
Mahakarya Nobel Sastra: Elegi Darah dan Tanah di Ladang Sorgum Merah
-
Membaca Materialisme Budaya: Mengapa Babi Haram dan Sapi Disembah?
-
Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram, Plato hingga Al-Ghazali: Bedah Buku Filsafat Kebahagiaan
-
Resensi Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga: Warisan Revolusi Oktober 1917.
-
Review Orang-Orang Bloomington: Menguliti Kesepian di Balik Wajah Manusia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Seni Mengenal Diri Lewat Teman: Membaca Kita Adalah Siapa yang Kita Temui
-
Buku Waras di Zaman Edan: Seni Bertahan Tanpa Ikut Gila
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu
-
Menapak Jejak Islam di Eropa: Membaca Ulang 99 Cahaya di Langit Eropa
-
Mengulik Amanat dalam Novel Bukan Semillah: Jejak Hidayah di Meja Judi
Terkini
-
Hardiknas Dirayakan, Tapi Mengapa Pendidikan Masih Menyisakan Kekhawatiran?
-
Seunghoon CIX Umumkan Pensiun dari Dunia Musik, Tutup Perjalanan 7 Tahun
-
Mnet Luncurkan Girls Planet 2 pada 2027, Siap Cetak Girl Group Global Baru
-
Manga Blue Box Tembus 10 Juta Kopi, Season 2 Anime Siap Tayang Oktober
-
4 Serum Retinol dan Hyaluronic Acid untuk Lawan Penuaan tanpa Kulit Iritasi