Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Saman karya Ayu Utami. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

Sejak pertama kali terbit pada tahun 1998 melalui Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Saman langsung mengukuhkan posisinya sebagai karya monumental. Memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah awal dari kesuksesannya yang masif, terbukti dengan penjualan mencapai 100.000 kopi pada cetakan pertamanya.

Karya ini tak hanya berjaya di dalam negeri, tetapi juga melanglang buana hingga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda (2001) dan bahasa Inggris (2005). Tokoh besar seperti Sapardi Djoko Damono bahkan memuji teknik penulisannya yang segar dan belum pernah ada sebelumnya. Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer mengakui bahwa novel ini sangat menggugah imajinasi, seolah membawa pembaca kembali pada atmosfer ketegangan politik masa lalu.

Empat Perempuan dan Labirin Perasaan

Berlatar mulai dari New York hingga pelosok Sumatra, Saman merajut kisah persahabatan empat perempuan: Yasmin, Laila, Cok, dan Shakuntala. Mereka telah berteman sejak SMA, namun masing-masing membawa beban hidup yang kontras. Yasmin terjebak dalam memori cinta masa lalu hingga berselingkuh; Laila terperangkap dalam asmara terlarang dengan Sihar, pria beristri; Cok memilih kebebasan seksual tanpa ikatan; dan Shakuntala tumbuh menjadi sosok pemberontak (rebel) yang menentang norma.

Konflik memuncak saat Laila mencoba membantu Sihar yang terseret masalah proyek di kantornya. Laila pun menghubungkan Sihar dengan dua sahabatnya: Yasmin sang pengacara andal, dan Saman, seorang aktivis LSM yang menyimpan sejarah kelam.

Transformasi Wisanggeni: Dari Altar ke Barikade

Nama Saman sebenarnya adalah identitas baru bagi Athanasius Wisanggeni, seorang mantan pastor di Desa Prabumulih. Di masa lalunya, Wisanggeni tersentuh melihat Upi, seorang gadis dengan gangguan mental yang hidup dirantai secara tidak manusiawi. Kepeduliannya pada kemanusiaan membawanya lebih jauh; ia membangun ekonomi desa dan mengajarkan masyarakat cara berkebun serta berbisnis.

Namun, keberhasilan itu justru menjadi ancaman. Kepentingan penguasa dan swasta yang ingin merampas lahan warga memicu perlawanan. Teror mulai berdatangan, puncaknya adalah tewasnya Upi secara tragis. Kejadian ini memaksa Wisanggeni menjadi buronan politik. Dengan bantuan Yasmin, ia mengganti namanya menjadi Saman dan melarikan diri ke luar negeri. Pertemuan kembali Saman dan Yasmin dalam kasus Sihar menyulut api asmara yang rumit, penuh dilema, dan menuntut pengorbanan perasaan yang mendalam.

Kritik Berani dalam Balutan Romansa Dewasa

Saman adalah novel dewasa yang jujur. Ayu Utami dengan berani menyisipkan adegan intim dan diksi yang lugas sebagai bentuk eksplorasi seksualitas perempuan yang selama ini dianggap tabu. Lebih dari sekadar romansa, novel ini adalah kritik tajam terhadap ketidakadilan gender, kesewenang-wenangan politik Orde Baru, serta dogma agama yang kaku.

Meski demikian, novel ini memiliki tantangan tersendiri bagi pembaca. Alurnya yang melompat-lompat (nonlinear) sering kali membuat pembaca harus berkonsentrasi ekstra agar tidak bingung dengan perpindahan waktu dan perspektif. Selain itu, penggunaan istilah yang kasar dan konten eksplisit membuat buku ini sangat tidak disarankan bagi pembaca di bawah umur.

Kesimpulan

Hingga saat ini, Saman tetap relevan sebagai cermin sejarah dan kemanusiaan. Ia mengajarkan kita tentang perlawanan terhadap ketidakadilan dan bagaimana cinta sering kali harus berbenturan dengan ideologi. Jika Anda mencari bacaan yang kaya akan informasi sejarah, nilai moral, sekaligus keberanian artistik, Saman adalah jawabannya. Sebuah petualangan emosi yang akan membuat Anda merasakan campuran antara haru, marah, dan kagum secara bersamaan.

Identitas Buku:

  • Judul: Saman
  • Penulis: Ayu Utami
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  • Tahun Terbit Pertama: 1998
  • Tebal Halaman: Kurang lebih 195 - 208 halaman (tergantung edisi cetakan)
  • Genre: Fiksi / Novel Sastra
  • ISBN: 9786024243999 (Edisi KPG)