Hayuning Ratri Hapsari | Gita Fetty Utami
Ilustrasi Keris yang Tak Mau Dibuang (ChatGPT)
Gita Fetty Utami

Di antara anak  keturunan Mbah Sukmo, hanya Dar yang dipercaya lelaki tua itu untuk mewarisi Keris Nogo Songo.

Suatu malam yang diiringi gerimis, Mbah Sukmo sengaja memanggil cucunya itu ke kamar khusus tempatnya melakukan semedi. Ia tahu waktunya di dunia hampir selesai, sehingga suksesi harus lekas ditunaikan.

“Dar…” suara lelaki tua itu berat dan serak. “Keris ini sekarang jadi tanggung jawabmu.”

Dari balik kain mori putih, Mbah Sukmo mengeluarkan sebilah keris berlekuk sembilan. Bilahnya hitam kusam, tetapi memantulkan cahaya kemerahan seperti bara api. Pada gagangnya terukir kepala naga dengan mata kecil berwarna merah.

Dar merinding saat keris itu diletakkan di tangannya. Dingin. Bukan dingin biasa. Rasanya seperti memegang bongkahan es dari dasar sumur tua.

“Kenapa harus saya, Mbah?” tanyanya pelan.

Kakeknya memberikan tatapan dalam sekali sebelum menjawab lirih. “Karena cuma kamu yang kuat dan sanggup memegangnya.”

Belum sempat Dar bertanya lagi, lampu mendadak padam. Bersamaan dengan itu terdengar suara gamelan samar dari luar rumah. Ia seketika melempar pandangannya melewati jendela terbuka di kamar Mbah Sukmo.  Tidak ada siapa-siapa di luar.

Ketika lampu kembali menyala beberapa jenak kemudian, suara gamelan itu lenyap.  “Mbah?” panggil Dar. Namun Mbah Sukmo  telah memejamkan mata untuk selamanya.

**

Sejak malam kematian kakeknya,  rumah  Dar mulai mengalami keanehan. Saban malam Jumat, akan terdengar suara langkah kaki mengitari rumah. Kadang terdengar bunyi logam bergesekan dari dalam lemari tempat keris disimpan.

Istrinya  pernah melihat lemari itu terbuka sendiri tengah malam.Dan suatu malam Jumat yang kesekian kalinya, anak mereka yang berumur lima tahun  menangis histeris sambil menunjuk ke arah lemari.

“Ada kakek hitam di situ, Yah! Bu!” ucapnya  gemetaran di sela-sela tangisan. 

Namun ketika lemari dibuka, tak ada apa-apa selain keris pusaka yang terbungkus kain putih.

Meski begitu, Dar tetap tidak percaya hal mistis. Baginya, keris hanyalah benda kuno yang dibesar-besarkan orang-orang di kampungnya. Demi membuktikan pendiriannya, ia  memutuskan akan  membuang keris itu ke Kali Serayu.

“Benda beginian cuma mendekatkan orang pada kemusyrikan saja,” tukasnya.

Dar pergi ke tepi Kali Serayu sore hari menjelang senja. Debit  Serayu sedang deras dan keruh sehabis hujan. Tanpa ragu, ia lemparkan keris pusaka itu ke tengah arus.

Benda itu tenggelam seketika. Dar menghela napas lega. Akhirnya ia berhasil menyingkirkan keris bermasalah tersebut. Namun saat ia hendak pergi, angin berhenti berembus. Sunyi. Lalu dari tengah sungai terdengar suara tawa mengikik.

Dar menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Permukaan sungai hanya bergelombang pelan. Kecuali di tempat keris tenggelam, muncul pusaran kecil. Semakin lama membesar. Lalu  sesuatu menyembul perlahan dari dalam sungai. Bentuknya panjang dan hitam seperti tangan manusia.

Bulu kuduk  Dar langsung berdiri. Mulutnya spontan mendaras doa-doa perlindungan. Kemudian  dengan tergesa-gesa, ia tinggalkan sungai tersebut  tanpa menoleh lagi.

**

Beberapa bulan kemudian, Dar dan lima temannya berencana mendaki Gunung Slamet lewat jalur Bambangan. Mula-mula semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Mereka masih sempat bercanda dan berfoto di pos satu, dua, dan tiga. 

Kondisi berubah drastis saat mereka memasuki jalur menuju pos empat. Kabut  turun perlahan-lahan, semakin  tebal. Pepohonan besar menjulang seperti raksasa hitam di kanan kiri jalur. Udara terasa lembap dan dingin menusuk tulang. Suara  hutan mendadak menghilang. Sunyi. Terlalu sunyi.

Salah seorang temannya tiba-tiba mengeluh pusing. Yang lain merasa pundaknya berat seperti memikul batu.

“Aku nggak kuat,” gumam seorang temannya sambil terduduk lemas.

Tak lama kemudian, seorang lagi muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Wajahnya pucat seperti mayat.

“Kayaknya tempat ini nggak beres,” bisik salah satu dari mereka.

Akhirnya mereka memutuskan beristirahat di sebuah tanah lapang kecil di tepi jurang. Anehnya, di tengah kelelahan teman-temannya, Dar justru merasa tubuhnya ringan. Tidak lelah sedikit pun. Perasaan ganjil mulai merayapi benaknya. Ia  berdiri dan memeriksa keadaan sekitar seorang diri.

Langkahnya perlahan menyusuri semak-semak basah di pinggir jalur. Hanya suara sepatu menginjak ranting yang terdengar di tengah hutan gelap itu. Lalu, matanya menangkap sesuatu yang berkilat di balik semak.

Lelaki ini menghentikan langkah. Cahaya itu kembali muncul, redup berwarna kekuningan seperti bara api. Dengan tangan gemetar, ia menyingkap ranting-ranting di depannya. Saat itulah darah di tubuhnya seperti tersirap.

Di atas tanah lembap, tergeletak sebilah keris bersarung kayu cendana dengan gagang berbentuk kepala naga. Keris Nogo Songo!  Dar mundur selangkah. 

“Mustahil,” gumamnya syok.

Jantungnya berdegup keras. Keris itu sudah ia buang  ke Kali Serayu. Tidak mungkin benda itu berada di lereng Gunung Slamet. Angin  dingin berembus dari arah belakang. Bersamaan dengan itu terdengar suara lirih berbisik di telinganya.

 “Bawa pulang …”

Ia  merasa tengkuknya meremang. Aneh, kedua kakinya seperti sulit digerakkan. Ada dorongan aneh yang membuatnya ingin mengambil keris tersebut. Tangannya perlahan terulur. Namun tepat sebelum menyentuh gagang keris, ia tersadar.

“Astaghfirullah. Aku sudah membuangmu. Jangan ganggu aku lagi!” bentaknya.

Seolah membalas bentakannya, angin menderu keras.  Di antara pepohonan itu, samar-samar berdiri sosok tinggi berambut panjang. Wajahnya pucat. Matanya merah menyala. Sosok itu menunjuk ke arah keris.

“Ambil!” Suaranya menggema ke segala arah.

Dar mundur ketakutan meskipun  kakinya terasa berat. Dari belakang terdengar bunyi langkah. Saat menoleh, ia nyaris menjerit. Di belakangnya, berdiri sosok Mbah Sukmo dengan wajah pucat kebiruan. Air menetes dari kain kafannya.

“Mbah,” sapa Dar dengan suara bergetar.

Namun sosok itu hanya menatap lurus ke arah keris. “Bawa pulang,” bisiknya parau.

Mendadak tanah di sekitar keris bergerak. Dari dalam tanah muncul tangan-tangan hitam penuh lumpur yang merayap ke arah kaki Dar. Ia  berteriak keras sambil membaca ayat-ayat suci sekuat tenaga.

Angin gunung mengamuk. Pepohonan bergoyang liar.  Kabut berputar-putar seperti pusaran asap. Dan dalam sekejap semua lenyap. Tak ada sosok perempuan. Tak ada Mbah Sukmo. Tak ada tangan-tangan hitam. Yang tersisa hanya keris itu sendirian di atas tanah.

Dengan napas memburu,  Dar mundur perlahan lalu berlari kembali ke rombongannya. Teman-temannya ternyata tertidur pulas dengan wajah pucat pasi. Salah seorang bahkan mengigau ketakutan. Dar segera membangunkan mereka. Setelah menimbang-nimbang keanehan yang terjadi, mereka memutuskan turun gunung tanpa melanjutkan ke puncak.

Namun, teror itu rupanya belum selesai bagi Dar.  Sebab setiap malam Jumat, dari belakang rumahnya kembali terdengar suara gemerincing logam yang sangat dikenalnya. Dan menjelang tengah malam, bau bunga melati selalu memenuhi kamar.