M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Sebuah dekonstruksi epik Ramayana yang menggugat peran pengarang dan menyuarakan penderitaan rakyat kecil korban perang. (gramedia)
Taufiq Hidayat

Jangan tertipu oleh judulnya. Meskipun Togog, tokoh punakawan yang menjadi narator, memohon dengan sangat agar kita tidak membaca buku ini karena dianggap membuang waktu, Kitab Omong Kosong justru merupakan salah satu pencapaian sastra terbaik Indonesia.

Novel setebal 444 halaman ini awalnya terbit sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada 2001, sebelum akhirnya mengantarkan Seno Gumira Ajidarma (SGA) meraih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Prosa pada tahun 2005.

Rama, Sinta, dan Tragedi Kemanusiaan

Seno membuka tabir Ramayana dengan sudut pandang yang tidak biasa. Kita diajak melihat kegalauan Sri Rama yang terjepit antara cinta dan citra sebagai raja. Setelah Sinta kembali dari penculikan Rahwana, rakyat Ayodya meragukan kesuciannya. Pilihan pahit pun diambil: Rama memilih rakyatnya, dan Sinta memilih pergi.

Namun, drama tidak berhenti di sana. Upacara persembahan kuda yang dilakukan Rama sebagai bentuk penebusan dosa justru memicu peperangan dan kehancuran wilayah. Dalam versi SGA, pertemuan kembali Rama dengan Sinta serta anak-anak mereka, Lawa dan Kusa, tidak berakhir dengan kebahagiaan surgawi, melainkan sebuah penutup yang tragis. Melalui dialog tajam antara Sinta dan sang pengarang, Walmiki, kita diingatkan bahwa di balik alam yang mengagumkan, perilaku manusia sering kali jauh dari kata mulia.

Perjalanan Maneka dan Satya: Mencari Keadilan dari Sang Penulis

Fokus cerita kemudian bergeser kepada Maneka, seorang pelacur bertato kuda, dan Satya, seorang remaja korban perang. Mereka adalah representasi rakyat kecil yang hidupnya hancur akibat ambisi dan konflik tokoh-tokoh besar seperti Rama dan Rahwana.

Maneka dan Satya melakukan perjalanan panjang lintas benua untuk satu tujuan yang luar biasa: menuntut tanggung jawab Walmiki sebagai penulis cerita. Mereka, bersama tokoh-tokoh lain, mempertanyakan satu hal fundamental: "Mengapa kami tidak bisa mengatur nasib kami sendiri? Mengapa hidup kami harus ditentukan oleh ujung pena seorang pengarang?" Ini adalah gugatan terhadap takdir dan otoritas yang sangat filosofis.

Mencari Pengetahuan yang Musnah

Setelah menghadapi Walmiki, perjalanan berlanjut dengan misi mencari "Kitab Omong Kosong", sebuah kumpulan pengetahuan yang diyakini musnah saat perang besar melanda. Satya menyadari bahwa menghancurkan sebuah peradaban sangatlah mudah melalui pedang dan api, namun membangunnya kembali membutuhkan waktu dan kearifan yang tak terkira. Pengetahuan yang dianggap "omong kosong" oleh penguasa, mungkin justru merupakan kunci penyelamat bagi peradaban yang tersisa.

Kesimpulan

Seno Gumira Ajidarma berhasil menjahit mitologi, kritik sosial, dan filsafat eksistensialisme ke dalam satu alur yang memikat. Novel ini adalah pengingat bahwa sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, sementara penderitaan mereka yang kalah hanya dianggap sebagai catatan kaki. Jika Anda siap untuk berpikir kritis dan mempertanyakan kembali narasi-narasi besar yang selama ini kita telan mentah-mentah, maka "omong kosong" ini adalah bacaan yang sangat berisi.

Identitas Buku:

  • Judul: Kitab Omong Kosong
  • Penulis: Seno Gumira Ajidarma
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Tahun Terbit: 2004 (cetakan pertama), 2021 (republish)
  • Tebal Buku: 444 halaman (republish), 524 halaman (edisi 2006)
  • ISBN: 979-3062-19-3 (2004), 9786022918004 (2021)
  • Genre: Fiksi / Sastra