Novel Lakuna karya Khrisna Pabichara menghadirkan kisah yang tidak sekadar berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang warisan luka, sumpah masa lalu, dan takdir yang menjerat generasi demi generasi.
Sejak halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada konflik yang keras dan penuh emosi, sebuah penolakan lamaran yang bukan hanya berujung pada penghinaan, tetapi juga melahirkan kutukan yang menggema lintas waktu.
Tokoh Sappe, dengan amarah dan harga dirinya, menolak lamaran dari keluarga Makkarawa dengan cara yang sangat kasar. Ludah yang ia lontarkan bukan sekadar simbol penghinaan, melainkan juga penegas batas sosial yang tak ingin ia langgar.
Dalam sumpahnya, ia mengutuk bahwa jika suatu hari keturunannya menikah dengan garis keluarga Makkarawa, maka mereka akan ditimpa penderitaan, berupa bassung (busung lapar) atau teanang anging (kehamilan tanpa janin).
Sumpah ini menjadi fondasi konflik utama dalam novel, membangun nuansa mistis sekaligus tragis yang membayangi alur cerita.
Memasuki masa kini, kisah beralih kepada Emir, seorang pemuda yang hidup dalam ritme sederhana namun perlahan menemukan makna baru dalam kebiasaannya. Setiap Senin, ia duduk membaca di kedai kopi, hingga kehadiran Naya mengubah rutinitas itu menjadi sesuatu yang dinanti.
Naya bukan sekadar teman berbincang, namun ia menjadi bagian dari harapan Emir, bahkan mungkin kebutuhan emosional yang tak ia sadari sejak awal.
Relasi Emir dan Naya berkembang secara halus, penuh percakapan ringan yang justru menyimpan kedalaman rasa. Di balik suasana santai kedai kopi, terselip kegelisahan yang perlahan tumbuh, tentang ketergantungan, tentang kemungkinan kehilangan, dan tentang sesuatu yang lebih besar dari sekadar perasaan, yakni takdir yang mungkin telah ditentukan jauh sebelum mereka lahir.
Kekuatan utama novel Lakuna terletak pada cara penulis merajut dua lapisan cerita: masa lalu yang penuh dendam dan masa kini yang sarat harapan.
Novel ini berada dalam genre fiksi drama dengan balutan roman dan kearifan lokal. Tema utama yang diangkat berkisar pada konflik adat, perbedaan status sosial, cinta yang terhalang, serta pertarungan antara kehendak pribadi dan tuntutan tradisi.
Isu yang dihadirkan terasa relevan, terutama dalam konteks masyarakat yang masih menjunjung tinggi garis keturunan, kehormatan keluarga, dan norma sosial yang kadang mengekang kebebasan individu.
Khrisna Pabichara berhasil menghadirkan konflik yang tidak hitam-putih. Sappe tidak sekadar antagonis, namun ia adalah representasi dari trauma dan ketakutan sosial. Begitu pula Emir dan Naya, yang bukan hanya tokoh romantis, tetapi juga simbol generasi yang harus menanggung konsekuensi dari keputusan leluhur mereka.
Gaya bahasa dalam novel ini terasa puitis namun tetap mengalir. Narasi deskriptifnya mampu menghadirkan suasana dengan kuat, baik dalam adegan penuh emosi maupun momen-momen sederhana yang intim.
Pembaca diajak menyelami perasaan tokoh-tokohnya, merasakan ketegangan sumpah yang menggantung, sekaligus menikmati kehangatan interaksi yang manusiawi.
Secara tematik, Lakuna berbicara tentang kekosongan atau luka yang belum selesai, sesuai dengan makna judulnya. Kekosongan itu hadir dalam berbagai bentuk, seperti hubungan yang terlarang, harapan yang terancam, hingga identitas yang dipertanyakan.
Novel ini seolah ingin mengatakan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu; ia hidup dalam ingatan, dalam darah, dan dalam pilihan-pilihan yang kita buat.
Secara keseluruhan, Lakuna adalah novel yang memadukan romansa, konflik budaya, dan sentuhan mistis dengan kuat. Ia tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan bagaimana masa lalu dapat membentuk, bahkan membelenggu masa depan.
Profil Singkat Penulis
Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan, pada 10 November 1975. Ia dikenal sebagai penulis produktif yang mengawali kariernya dari buku-buku bertema neurologi sebelum terjun ke dunia sastra. Karya-karyanya meliputi kumpulan cerpen Mengawini Ibu (2010), novel Sepatu Dahlan (2012), dan kumpulan puisi Pohon Duka Tumbuh di Matamu (2014).
Selain aktif menulis, ia juga sering diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan literasi di Indonesia.
Identitas Buku
Judul: Lakuna
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, April 2021
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-602-391-855-3
Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
-
Kitab Tanbihul Ghafilin: Mengetuk Hati yang Lalai di Tengah Gemerlap Dunia
-
HONOR Pad 20 Pro Rilis: Tablet Tipis dengan Snapdragon 8s Gen 4 dan Baterai 10.100 mAh
-
Motorola Rilis Moto G Max, Andalkan Baterai Jumbo dan Desain Tangguh
Artikel Terkait
-
Review Orang-Orang Biasa: Ketika Rakyat Kecil Terpaksa Merampok Untuk Biaya Pendidikan
-
Jejak Darah dan Rahasia: Menguliti Thriller Killing Her Softly
-
Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat
-
Novel Pengurus MOS Harus Mati, Misteri Kematian Tragis Para Senior
-
Refleksi Ketika Negara, Gereja, dan Rakyat Bertabrakan di Oetimu
Ulasan
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Review Serial Reacher Season 2: Drama Kriminal Penuh Adrenalin dan Taktik!
-
Drakor Our Beloved Summer: Kisah Mantan Kekasih yang Bikin Gagal Move On
-
Bukit Premium Pasuruan: Negeri di Atas Awan Dekat Bromo yang Bikin Betah
-
Ulasan Dan Bandung: Adaptasi Novel Pidi Baiq yang Sukses Menguras Air Mata
Terkini
-
Serbaguna! 5 Pelembap Wajah dan Tubuh Ampuh Mengunci Kelembapan Kulit
-
Maba Wajib Tahu! 5 Tata Krama Biar Nggak Kena Culture Shock di Jogja
-
Modern Dad dan Warisan Patriarki: Mengubah Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan
-
Segera Daftar! Ini Syarat dan Tips Lolos Seleksi Beasiswa Unggulan 2026
-
Aging Population dan Gen Z yang Terjepit Generasi Sandwich