Buku Beauty and the Bis karya M. Faizi menghadirkan sebuah sudut pandang yang tidak biasa dalam dunia literatur perjalanan. Jika selama ini perjalanan identik dengan destinasi wisata yang indah seperti pantai, gunung, atau lanskap eksotis, buku ini justru mengajak pembaca menyusuri cerita dari balik kaca jendela bus, menyusuri bentangan jalan panjang Pulau Jawa yang tak pernah benar-benar tidur.
Pulau Jawa, dengan jalur darat yang membentang dari barat ke timur, menjadi panggung utama dalam kisah ini. Di saat sebagian orang terlelap, roda ekonomi tetap berputar melalui bus-bus malam yang melaju tanpa henti.
Dari sanalah lahir potongan-potongan cerita tentang harapan, kelelahan, perjumpaan, hingga kehidupan sederhana yang sering luput dari perhatian. Bus, dalam buku ini, bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang hidup yang menyimpan banyak kisah manusia.
Keunikan buku ini terletak pada sudut pandang penulisnya. Faizi bukan sekadar pelancong yang menggunakan bus untuk mencapai tujuan, melainkan seorang penikmat perjalanan sejati.
Ia menaiki berbagai jenis bus bukan karena harus pergi ke suatu tempat, tetapi karena ingin merasakan pengalaman itu sendiri sembari menikmati sensasi duduk, memperhatikan mesin, hingga mengamati karakter sopir dan kondektur. Bahkan, tak jarang ia sengaja memperpanjang perjalanan demi merasakan lebih lama kehidupan di atas roda.
Gaya penulisan M. Faizi terasa ringan, mengalir, dan sangat detail. Ia mencatat perjalanan dengan ketelitian yang mengagumkan, mulai dari waktu keberangkatan, suasana di dalam bus, hingga pengalaman kecil seperti berhenti makan di perjalanan.
Pembaca seolah diajak duduk di sampingnya, memandangi pemandangan di luar jendela, mencium aroma jalanan, dan merasakan denyut kehidupan yang bergerak bersama laju kendaraan. Ada pula momen-momen kurang menyenangkan, seperti perlakuan kurang ramah dari awak bus, yang justru memperkuat kesan realistis dalam kisah ini.
Menurut saya, isu yang diangkat cukup relevan dengan kondisi saat ini, di mana mobilitas tinggi sering kali membuat manusia lupa untuk berhenti sejenak dan merenung. Buku ini hadir sebagai pengingat bahwa perjalanan fisik bisa menjadi pintu masuk menuju perjalanan batin.
Ketika penulis menyinggung komunitas pencinta bus atau bus mania, menjadi salah satu bagian yang menarik untuk disorot. Dari sini terlihat bahwa bus bukan sekadar kendaraan umum, melainkan juga memiliki penggemar dengan kecintaan yang mendalam. Perspektif ini memberikan warna tersendiri, sekaligus memperluas cara pandang pembaca terhadap dunia transportasi yang sering dianggap biasa.
Sebagai kumpulan catatan perjalanan, buku ini memang tidak menawarkan alur cerita yang penuh konflik atau kejutan dramatis. Bagi sebagian pembaca, hal ini mungkin terasa monoton. Namun di situlah letak kekuatannya.
Faizi berhasil mengangkat hal-hal sederhana menjadi bermakna. Ia menunjukkan bahwa perjalanan bukan hanya soal sampai di tujuan, tetapi tentang bagaimana setiap momen di sepanjang jalan dapat dimaknai dengan lebih dalam.
Buku ini juga memuat beragam kisah yang hidup di dalam bus, seperti sopir yang religius, dinamika persaingan antarcalo, hingga interaksi antarpenumpang. Semua itu menjadi refleksi kecil tentang kehidupan sosial masyarakat. Dari perjalanan yang tampak biasa, muncul pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan cara memandang hidup dengan lebih sederhana.
Meski tidak semua pembaca dapat langsung merasa terhubung dengan pengalaman yang disajikan, terlebih bagi yang jarang menggunakan bus, Beauty and the Bis tetap menawarkan pengalaman membaca yang unik dan berbeda.
Buku ini cocok bagi penikmat catatan perjalanan, terutama mereka yang tertarik pada kisah-kisah keseharian yang jujur dan membumi.
Intinya, buku Beauty and the Bis adalah sebuah pengingat bahwa keindahan tidak selalu hadir dalam hal-hal besar dan megah. Terkadang, ia justru tersembunyi di balik perjalanan panjang, deru mesin, dan kursi sederhana dalam sebuah bus yang terus melaju di antara kota-kota.
Identitas Buku
Judul: Beauty and the Bis
Penulis: M. Faizi
Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
Cetakan: I, Januari 2018
Tebal: 216 Halaman
ISBN: 978-602-6651-77-8
Genre: Nonfiksi/Spiritual & Sosial
Tag
Baca Juga
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
-
Kitab Tanbihul Ghafilin: Mengetuk Hati yang Lalai di Tengah Gemerlap Dunia
-
HONOR Pad 20 Pro Rilis: Tablet Tipis dengan Snapdragon 8s Gen 4 dan Baterai 10.100 mAh
-
Motorola Rilis Moto G Max, Andalkan Baterai Jumbo dan Desain Tangguh
Artikel Terkait
-
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
-
Berhenti Mengejar Checklist: Tips Mengembalikan Esensi Perjalanan di Era Digital
-
Buku Ngaji Rasa: Ketika Hati Menjadi Ruang Belajar yang Paling Jujur
-
Novel Pengurus MOS Harus Mati, Misteri Kematian Tragis Para Senior
-
Gerundelan Penulis Kere: Kontradiksi Idealisme dan Hegemoni Kapitalisme
Ulasan
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Review Serial Reacher Season 2: Drama Kriminal Penuh Adrenalin dan Taktik!
-
Drakor Our Beloved Summer: Kisah Mantan Kekasih yang Bikin Gagal Move On
-
Bukit Premium Pasuruan: Negeri di Atas Awan Dekat Bromo yang Bikin Betah
-
Ulasan Dan Bandung: Adaptasi Novel Pidi Baiq yang Sukses Menguras Air Mata
Terkini
-
Jangan Bolak-balik Servis, Ini 5 Tanda Sudah Waktunya Kamu Ganti Laptop Baru
-
Yel-yel Regu Tulip di Jamnas 2026 Viral, Ghea Indrawari Nyanyikan Live!
-
Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?
-
Serbaguna! 5 Pelembap Wajah dan Tubuh Ampuh Mengunci Kelembapan Kulit
-
Maba Wajib Tahu! 5 Tata Krama Biar Nggak Kena Culture Shock di Jogja