Menjalani hidup bahagia itu ternyata ada seninya. Di antara seni hidup bahagia dalah pandai bersyukur dan tidak gemar membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Berusaha mencintai diri juga termasuk bagian dari seni agar hidup yang kita jalani menjadi lebih tenang dan bahagia.
Mencintai diri sendiri artinya berusaha berdamai dengan takdir, menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri kita. Tapi ini bukan berarti kita hanya berpasrah diri tanpa mau berusaha. Dalam menjalani hidup, tentunya kita harus terus memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.
Ada sederet tahapan agar kita mampu mencintai diri sendiri. Ujwar Firdaus dalam buku Cintai Diri, Maka Kamu Akan Bahagia menjelaskan, untuk ada di tahap mencintai diri, ada beberapa hal harus kita pahami betul. Salah satunya mengenai self awareness. Sederhananya, self awareness itu bentuk pemahaman kita terhadap diri sendiri. Paham dari atas sampai bawah. Mulai dari hal terkecil sampai terbesar. Mulai dari dalam sampai luar. Bahkan, kita paham tentang perasaan yang sedang kita rasakan saat itu.
Namun, self awareness tidak hadir begitu saja jika kita tidak menggali, mempelajari, dan merenungkannya. Kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa self awareness akan mengantarkan kita kepada banyak sekali kebaikan. Misalnya, peluang-peluang pekerjaan, ketenangan, dan ketahanan terhadap ucapan orang lain yang mungkin menyakitkan diri, atau bahkan mengantarkan kita untuk mempunyai rasa syukur yang besar kepada Tuhan (halaman 2).
Orang yang mencintai diri sendiri tentu akan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Ia tidak akan membuang waktunya dengan sia-sia untuk melakukan beragam aktivitas yang merugikan, baik merugikan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Ia hanya akan fokus pada hal-hal positif saja. Ia juga akan berusaha menggali berbagai potensi dalam dirinya.
Menggali beragam potensi diri dan kemudian berusaha mengembangkannya akan membuat hidup kita lebih berwarna dan bahagia. Dalam buku ini diterangkan, di antara banyaknya hal yang harus kita gali dalam diri adalah memahami cara berkomunikasi diri sendiri (ini termasuk bagian dari self awareness). Kita harus memahami bagaimana perilaku, tindakan, dan kata-kata kita. Semakin kita menggali itu semua, semakin besar kemungkinan kita bisa berkomunikasi dengan tepat. Baik komunikasi dengan diri sendiri atau dengan orang lain.
Kita sering tidak sadar bahwa perkataan bisa sangat berefek untuk banyak hal. Ucapan kita yang sangat percaya diri bisa membuat lawan bicara turut bersemangat. Hingga mungkin lawan bicara bisa sangat terkesan dan menghargai. Sementara, ucapan kita yang terkesan pelan, dengan kepala menunduk, dan badan membungkuk bisa saja memberikan efek kurang baik. Entah mungkin tidak tercapainya kerja sama (jika konteksnya untuk suatu pekerjaan) atau mungkin lawan bicara punya pemikiran yang merendahkan kita karena cara kita berkomunikasi (halaman 29-30).
Buku ini patut dibaca oleh kaum muda sebagai cara untuk memotivasi diri agar berusaha menjadi versi terbaik bagi diri sendiri. Lewat buku ini juga, kita bisa belajar bahwa mencintai diri bisa menjadi semacam solusi untuk beberapa masalah yang sering terjadi di hidup kita. Insecure melebur. Tak ada lagi aktivitas membandingkan diri dengan orang lain. Bahkan, kita jadi lebih fokus belajar banyak hal hingga menjadi versi terbaik.
Data Buku
Judul Buku: Cintai Diri, Maka Kamu Akan Bahagia
Penulis: Ujwar Firdaus
Penerbit: Quanta (PT Elex Media Komputindo) Jakarta.
ISBN Digital: 978-623-00-7529-2 (pdf)
Tahun Terbit: 2024
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Kenangan yang Tak Pernah Kering dalam Buku 'Orang-Orang Berpayung Hitam'
-
Ulasan Novel Anak Asli Asal Mappi, Dedikasi Anak Negeri Tanah Papua
-
Menikah Bukan Sekadar Cinta: Ulasan Buku Karena Menikah Tak Sebercanda Itu
-
Di Era e-Book, Mengapa Buku Fisik Tidak Pernah Tergantikan?
-
Membongkar Ambisi Nuklir di Balik Retorika Soekarno
Ulasan
-
Nyai Moena: Potret Hitam Pergundikan dan Luka Berlapis Perempuan Pribumi
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Menyelami Kisah Adik dan Tante Kun di Novel Wingit
-
Ulasan Film Hokum: Teror Supernatural di Penginapan Irlandia yang Mencekam!
-
Dari Angkot sampai TTS, Alasan Film Dilan 1990 Sangat Ikonik!
Terkini
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Sinopsis System, Film India Bertema Hukum yang Dibintangi Sonakshi Sinha
-
Sinopsis Avatar The Last Airbender Season 2, Misi Baru Aang ke Ba Sing Se
-
Jangan Biarkan Uang Menguap, Ini 2 Investasi Aman saat Rupiah Melemah