Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Violets Karya Shin Kyung-sook (Perpustakaan Jakarta)
Muhammad Rafi Hanif

Novel Violets (2022) karya Shin Kyung Sook menghadirkan kisah yang tenang, tetapi menyimpan kedalaman emosi yang kuat. Shin Kyung-sook lahir pada 12 Januari 1963 adalah penulis novel terkenal asal Korea Selatan, yang dikenal luas karena karyanya Please Look After Mom (Ibuku Sayang/Mom-eul Butakhae). Ia adalah perempuan dan orang Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan bergengsi Man Asian Literary Prize pada tahun 2011. Sebagai salah satu penulis Korea Selatan yang dikenal lewat karya yang lirih namun menghujam, ia piawai menuliskan kesunyian, luka batin, dan pengalaman perempuan.

Novel ini berpusat pada tokoh utama bernama San, seorang gadis yang hidup dengan rasa keterasingan sejak kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak benar-benar hangat. San tumbuh dengan ibu yang tidak menunjukkan kehangatan. Ibunya cenderung keras, dingin, tidak memberikan perhatian emosional yang dibutuhkan seorang anak. Tidak ada pelukan, dukungan, dan kata-kata yang menenangkan.

San pernah mengalami kejadian traumatis di masa kecil (termasuk pengalaman pelecehan) tetapi ia tidak mendapat perlindungan dan pembelaan yang seharusnya dilakukan keluarganya. Bahkan dalam keluarganya, percakapan terjadi seperlunya saja tanpa kedekatan emosional. San akhirnya terbiasa memendam perasaan dan tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri. Alih-alih menjadi tempat pulang, rumah justru terasa asing bagi San. Ia tidak merasa dimiliki atau benar-benar menjadi bagian dari keluarganya.

Itulah sebabnya San memutuskan pindah ke Seoul dan bekerja di sebuah toko bunga, tempat yang justru menjadi simbol kontras dari hidupnya yang sunyi. Di sana, ia mengembangkan perasaan terhadap seorang pria yang sering ia lihat. Namun seperti banyak hal dalam hidupnya, cinta itu tidak pernah benar-benar terucap, ia hanya mengamati dari jauh, menyimpan rasa, dan membiarkannya tumbuh diam-diam persis seperti bunga violet yang menjadi simbol dalam novel ini.

Latar belakang keluarga yang dingin dan pengalaman masa kecil menyakitkan, San tumbuh tanpa rasa percaya diri dalam hubungan. Ia takut ditolak, takut tidak dianggap, sehingga memilih diam. Ini bukan sekadar malu tapi bentuk dari perlindungan diri. San merindukan kehangatan yang tidak didapatkan ketika kecil dan mengisinya dengan perasaan terhadap pria itu. Lambat laun, rasa suka itu menjadi ruang aman meskipun hanya dalam diam. Dalam kehidupan nyata, tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Ada juga cinta yang hanya tinggal sebagai perasaan, diam, sederhana, tapi membekas lama.

Kutipan dalam Violets

"Ia merasa seperti bayangan yang berjalan tanpa suara di antara orang-orang." (Sook, 34).

Kita seperti diajak merasakan bagaimana menjadi seseorang yang hadir secara fisik, namun tidak benar-benar terlihat oleh dunia.

"Ada hal-hal yang tidak bisa dikatakan, bahkan kepada diri sendiri." (Sook, 79).

Saya merasa penulis ingin menunjukkan bahwa luka batin sering kali terlalu dalam untuk diungkapkan, bahkan dengan kata-kata. Kita semua mungkin pernah berada di titik ini menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan karena beban yang terlalu berat.

"Seperti bunga violet, ia tumbuh diam-diam tanpa pernah meminta untuk diperhatikan." (Sook, 121).

Kutipan ini seolah merangkum keseluruhan novel. Bagi saya ini bukan hanya tentang San, tapi juga tentang banyak orang di dunia nyata yang hidup dalam kesunyian tanpa pernah benar-benar dipahami oleh orang lain.

Fakta unik dari novel ini adalah penggunaan simbol violet itu sendiri. Dalam banyak budaya, violet digambarkan melambangkan kerendahan hati, kesetiaan, dan cinta yang tersembunyi. Penulis memanfaatkan simboi ini dengan sangat halus, menjadikannya representasi dari karakter San dan perjalanan emosionalnya.

Namun, tentu saja novel ini tidak tanpa kekurangan. Bagi sebagian pembaca, alurnya mungkin terasa lambat dan minim konflik eksternal. Tidak ada kejadian besar yang dramatis, sehingga bisa terasa sepi. Selain itu, karakter San yang sangat tertutup mungkin membuat kita sulit memahami tindakannya di beberapa bagian. Saya sendiri sempat merasa ingin lebih banyak penjelasan tentang latar belakang emosionalnya.

Sebagai penutup, saya merangkai Violets adalah karya yang cocok dibaca perlahan. Kita tidak bisa membacanya dengan tergesa-gesa, karena setiap halaman mengandung emosi yang perlu dirasakan. Melalui kisah San, kita diajak memahami bahwa tidak semua luka terlihat dan tidak semua kesepian bisa diucapkan. Kadang seperti bunga violet, kita hanya perlu ada tanpa sorotan.

Identitas Buku

  • Alih bahasa: Lingliana
  • Desain Sampul: Sukutangan
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • ISBN: 9786020658124
  • ISBN Digital: 9786020658131
  • Tebal: 288 Halaman