M. Reza Sulaiman | Muhammad Rafi Hanif
Kitab Pertanyaan Karya Pablo Neruda (Dok. Pribadi/Rafi Hanif)
Muhammad Rafi Hanif

Kumpulan puisi Kitab Pertanyaan versi terjemahan (2016) atau yang dalam versi aslinya berjudul The Book of Questions/El libro de las preguntas (1973) karya Pablo Neruda adalah buku yang aneh sekaligus menyenangkan. Aneh karena hampir seluruh isinya berupa pertanyaan. Menyenangkan karena pertanyaan-pertanyaan itu terasa lugu, sederhana, bahkan seperti rasa ingin tahu anak kecil, tetapi justru di situlah kekuatannya. Neruda tidak memberi jawaban. Ia hanya bertanya dan membiarkan kita yang gelisah mencarinya sendiri.

Meskipun Neruda dikenal sebagai penyair yang politis dan lantang, dalam Kitab Pertanyaan ia lebih seperti perenung sunyi. Ia bertanya tentang alam, tentang waktu, tentang kematian, tentang sejarah, tetapi dengan nada yang lembut. Bahkan ketika menyentuh tema besar, ia tetap memakai cara yang intim.

Misalnya dalam pertanyaan seperti:

“Mengapa pesawat yang besar tidak terbang mengitari anak-anak?” (Neruda, I, 21)

Kalimat ini terdengar lugas namun memiliki implikasi sosial. Ada kegelisahan tentang ketidakadilan, tentang masa kecil yang dirampas. Neruda tidak menyebut sistem atau kekuasaan. Ia hanya bertanya. Dan justru karena itu, pertanyaannya terasa lebih kuat.

Buku ini tidak seperti kumpulan puisi cinta yang penuh metafora rumit. Di sini, Neruda seperti duduk santai, memandangi laut, batu, langit, sepatu, dan hujan, lalu tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang terdengar polos, namun diam-diam menohok.

Contoh yang terasa jenaka namun filosofis:

“Katakan padaku, adakah mawar telanjang atau begitulah gaunnya?” (Neruda, III, 23)

Pertanyaan ini terasa lucu di permukaan, tapi sekaligus menyentuh gagasan tentang identitas. Kemudian, ini memantik kita untuk kembali bertanya: Apakah sesuatu itu apa adanya? Atau sebenarnya ia sedang memakai bentuk yang tak bisa dilepaskan? Neruda sering memanusiakan benda, dan membedakan manusia. Dunia dalam buku ini terasa cair, tidak ada batas tegas antara alam dan perasaan.

Nada seperti ini berulang di banyak halaman. Ia tidak berkhotbah. Ia tidak menggurui. Ia hanya mengajak kita melihat ulang dunia dengan rasa ingin tahu yang segar.

Ada lagi pertanyaan yang tak kalah menarik:

“Kapan kupu-kupu mengerti apa yang tercatat pada sayapnya?” (Neruda, LXVIII, 99)

Secara logika, pertanyaan ini nyaris mustahil dijawab. Tetapi secara batin, ia terasa relevan. Tersimpan renungan bagi manusia, kita pun sama halnya dengan kupu-kupu membawa catatan dalam diri berupa riwayat, luka, harapan, garis hidup yang membentuk siapa kita. Namun, seringkali kita tidak berdamai dalam proses dan justru menyalahkan makna dari perjalanan itu. Neruda dengan lembut mengajak pembaca merenung, apakah kita selama ini hanya terbang menjalani hari demi hari, tanpa pernah membaca sayap kita sendiri?

Salah satu pertanyaan puisi yang lain berbunyi:

“Dan bagaimana akar tahu bahwa mereka harus menjangkau cahaya?” (Neruda, LXXII, 105)

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jika dipikirkan lebih lanjut, ia seperti menyentil cara hidup manusia. Di balik bait itu ada gambaran manusia yang hidup dalam keterbatasan, kesedihan, dan kebingungan, namun tetap punya dorongan untuk mencari terang. Seperti akar yang tidak pernah melihat cahaya secara langsung, begitupula manusia sering berjalan dalam ketidakpastian namun masih memiliki naluri untuk terus berusaha sebaik-baiknya dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan.

Hal yang membuat buku ini terasa unik adalah konsistensinya dalam bertanya. Hampir setiap halaman diisi beberapa pertanyaan pendek. Tidak ada paragraf yang panjang, tidak ada narasi rumit. Struktur yang minimalis ini justru memberi ruang besar bagi pembaca. Kita seperti diberi jeda untuk berhenti, menoleh, dan merenungi jiwa masing-masing.

Kelebihan utama buku ini adalah kemampuannya membuat pembaca aktif. Kita tidak bisa membaca cepat lalu selesai. Hampir setiap dua atau tiga baris, kita berhenti. Kadang tersenyum. Kadang mengernyit. Kadang merasa ditampar oleh kesadaran baru. Secara keseluruhan, bagi saya membaca buku ini mirip dengan berjalan di tepi pantai sambil memungut kerang-kerang kecil. Setiap kerang tampak biasa saja, tetapi jika diperhatikan, masing-masing menyimpan suara laut. Pertanyaan-pertanyaan Neruda bekerja seperti itu; kecil, singkat, tapi mampu menggema lama.

Namun bagi sebagian orang, buku ini mungkin terasa repetitif. Formatnya yang terus-menerus berupa pertanyaan, pembaca yang terbiasa dengan puisi naratif atau puisi dengan cerita mungkin merasa kurang gerak. Tidak ada klimaks atau alur. Yang ada hanyalah aliran rasa ingin tahu yang konstan. Sejauh pengetahuan saya, justru dalam repetisi itulah muncul kekuatan tematikanya; dunia ini terlalu luas untuk dijawab dengan satu sudut pandang. Hidup bukan soal menemukan jawaban, tetapi keberanian untuk terus bertanya.

Kitab Pertanyaan ini buku yang sederhana namun mengganggu dengan cara yang baik. Ia tidak menawarkan solusi, tidak memberikan kesimpulan yang besar. Ia hanya mengajak kita kembali menjadi manusia yang heran pada dunia, manusia yang belum kehilangan rasa ingin tahunya. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, kita akan lebih sering berhenti di tengah hari yang biasa, lalu bertanya dalam hati; hal-hal apa yang selama ini luput kita tanyakan?

Identitas Buku:

  • ISBN: 978-602-3091-79-9
  • Cetakan Pertama: Oktober, 2016
  • Penerbit: Indie Book Corner
  • Penerjemah: Hamzah Muhammad
  • Tebal: 112 halaman