Kadang, hubungan tidak rusak karena satu masalah besar, tapi karena banyak hal kecil yang dibiarkan. Awalnya terlihat baik-baik saja, komunikasi masih jalan, perasaan masih ada. Tapi pelan-pelan berubah—mulai ada jarak, keraguan, dan hal-hal yang tidak lagi dibicarakan. Situasi seperti inilah yang jadi inti cerita dalam Mr. & Mrs. Egois karya Wahyu Sujani.
Novel ini mengangkat beberapa tokoh dengan konflik cinta yang saling berkaitan. Fokus utamanya ada pada hubungan Rossa dan Kemal, serta Nazriel dan Kintan. Ceritanya tidak berpusat pada kisah cinta yang manis, tapi lebih ke dinamika hubungan yang realistis—tentang masa lalu, kesalahpahaman, dan keputusan yang tidak mudah diambil.
Rossa, Kemal, dan Rasa Takut yang Masih Ada
Rossa adalah sosok yang masih membawa luka dari masa lalu. Ia pernah gagal menikah karena calon suaminya meninggal, dan pengalaman itu memengaruhi cara pandangnya terhadap hubungan. Saat bertemu Kemal, Rossa mencoba membuka diri lagi, meskipun tidak sepenuhnya lepas dari rasa takut.
Di awal, hubungan mereka terlihat serius dan menjanjikan. Kemal hadir sebagai sosok yang tenang dan bisa diandalkan. Namun, seiring waktu, sikap Kemal mulai berubah. Ia menjadi lebih sibuk, sulit ditemui, dan komunikasinya berkurang. Hal ini membuat Rossa mulai mempertanyakan hubungan mereka.
Dari sini terlihat bahwa masalah tidak selalu datang dari luar, tapi juga dari dalam diri—terutama dari rasa takut dan pengalaman sebelumnya.
Masalah Kecil yang Lama-lama Jadi Besar
Salah satu hal yang menarik dari novel ini adalah cara konflik berkembang. Tidak ada kejadian besar yang langsung mengubah segalanya. Justru masalah muncul dari hal-hal kecil yang tidak diselesaikan sejak awal.
Kurangnya komunikasi, asumsi yang dibiarkan, dan sikap yang berubah perlahan membuat hubungan menjadi renggang. Ini terlihat jelas dalam hubungan Rossa dan Kemal, maupun Nazriel dan Kintan.
Nazriel dan Kintan juga menghadapi masalah yang tidak jauh berbeda. Ada masa lalu yang belum selesai dan perasaan yang tidak sepenuhnya jujur. Akibatnya, hubungan mereka berjalan tanpa kejelasan dan penuh keraguan.
Ego yang Tidak Bisa Dihindari
Judul “egois” dalam novel ini benar-benar terasa di setiap konflik. Setiap tokoh punya prinsip dan cara berpikir masing-masing. Mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka anggap benar.
Masalahnya, apa yang dianggap benar oleh satu orang belum tentu bisa diterima oleh orang lain. Di sinilah konflik muncul. Keputusan-keputusan yang diambil sering kali terlihat menyakitkan dari sudut pandang pasangan.
Melalui cerita ini, Wahyu Sujani menunjukkan bahwa ego tidak selalu berarti buruk. Dalam beberapa situasi, ego muncul karena keinginan untuk melindungi diri atau menghindari luka yang sama.
Cinta Tidak Selalu Berakhir Bersama
Berbeda dengan banyak cerita romantis, novel ini tidak menawarkan akhir yang sepenuhnya bahagia. Ada hubungan yang tidak bisa dipertahankan, meskipun perasaan masih ada.
Hal ini membuat cerita terasa lebih realistis. Tidak semua hubungan bisa diperjuangkan sampai akhir, dan tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan. Kadang, keputusan untuk tidak bersama justru dianggap sebagai pilihan terbaik.
Proses Menerima yang Tidak Instan
Satu hal yang cukup menonjol dari buku novel ini adalah proses yang dialami para tokohnya. Tidak ada perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Semua berjalan bertahap, sesuai dengan konflik yang mereka hadapi.
Tokoh-tokohnya butuh waktu untuk memahami situasi, menerima kenyataan, dan menentukan langkah selanjutnya. Proses ini digambarkan dengan cukup detail, sehingga pembaca bisa melihat perkembangan setiap karakter.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Dari segi cerita, kelebihan utama novel ini ada pada konflik yang realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karakternya juga terasa manusiawi, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Namun, karena ceritanya cukup panjang, beberapa bagian terasa sedikit lambat. Ada momen di mana alur berjalan cukup lama tanpa perkembangan yang signifikan. Selain itu, perpindahan fokus ke beberapa tokoh bisa membuat pembaca perlu waktu untuk menyesuaikan.
Penutup: Cerita Sederhana dengan Makna yang Dekat
Mr. & Mrs. Egois adalah novel yang tidak berusaha terlihat rumit, tapi justru kuat karena kesederhanaannya. Ceritanya membahas hal-hal yang sering terjadi dalam hubungan, seperti kurangnya komunikasi, pengaruh masa lalu, dan perbedaan cara berpikir.
Dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, novel ini cocok untuk pembaca yang ingin melihat sisi realistis dari sebuah hubungan. Secara keseluruhan, buku ini mengingatkan bahwa dalam hubungan, masalah tidak selalu tentang siapa yang benar atau salah, tapi tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan di tengah situasi yang tidak mudah.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
-
Violets: Melawan Masa Kecil Kurang Bahagia dari Anak yang Tidak Diinginkan
-
Drama Melo Movie: Refleksi Luka, Kehilangan, dan Keberanian Mencintai Lagi
-
Membaca Realitas di Novel Bekisar Merah: Kala Suara Tak Pernah Diberi Ruang
-
Ulasan Novel A untuk Amanda, Beban Berat di Balik Nilai Sempurna
Terkini
-
Bye Keriput! 5 Body Wash Kolagen untuk Kulit Lebih Kencang
-
Bukan Sekadar Melindungi Rakyat, Ini Alasan Pemerintah Menahan Kenaikan BBM
-
AKMU Temukan Harmoni Hidup di Lagu Terbaru 'Joy, Sorrow, A Beautiful Heart'
-
4 Inspirasi Sporty Look ala Park Min Young, Tetap Chic saat Berkeringat!
-
Membaca Ulang Burung-Burung Manyar: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?