Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Novel Pabrik karya Putu Wijaya (DIVA Press)
Fathorrozi 🖊️

Novel Pabrik merupakan salah satu karya penting dari Putu Wijaya, penulis kelahiran Puri Anom, Tabanan, Bali, pada 11 April 1944. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis sudah muncul sejak SMP, dan semakin berkembang ketika ia aktif dalam kegiatan teater saat SMA di Singaraja. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, sambil memperdalam seni lukis di ASRI dan teater di ASDRAFI Yogyakarta.

Saya tertarik membaca novel Pabrik karya Putu Wijaya ini karena saya suka pada karya-karya sastra yang mengangkat realitas sosial secara tajam. Dengan membaca novel ini, saya berharap akan menemukan cerita yang sarat kritik sosial, namun tetap dikemas dengan gaya khas yang tidak membosankan.

Kesan pertama yang muncul justru rasa ganjil, alur cerita terasa sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang perlahan mengendap. Ada nuansa absurd yang membuat saya harus membaca lebih teliti, seolah setiap detail menyimpan makna tersembunyi.

Novel ini termasuk dalam genre sastra sosial dengan sentuhan absurdisme yang kuat. Tema utama yang diangkat berkisar pada kemiskinan, penindasan, dan ketimpangan kekuasaan antara pemilik modal dan kaum pekerja.

Pabrik tidak hanya bercerita tentang sebuah tempat produksi, tetapi juga menjadi simbol sistem yang menindas manusia secara struktural. Isu-isu yang dihadirkan terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama dalam konteks eksploitasi tenaga kerja, janji kesejahteraan yang tidak pernah ditepati, serta relasi kuasa yang timpang dalam dunia industri modern.

Cerita ini memikat karena menghadirkan potret kehidupan buruh secara realistis. Para pekerja hidup dalam kecurigaan terhadap pemilik pabrik, sementara sang pemilik sendiri diliputi rasa tidak percaya kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan terhadap penerus usahanya.

Dengan gaya yang lugas dan tanpa bertele-tele, Putu Wijaya berhasil menampilkan benturan antara kelas bawah dan kalangan penguasa. Penutup cerita yang penuh kejutan menjadi kekuatan tersendiri.

Kisah buruh pabrik selalu lekat dengan penderitaan. Upah rendah, kesejahteraan minim, lembur tanpa bayaran, ancaman pemutusan hubungan kerja, hingga pelecehan. Ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan lapangan pekerjaan membuat posisi buruh sangat lemah.

Sebaliknya, pemilik modal memiliki kuasa besar, sering kali didukung aparat yang siap meredam aksi protes kapan saja. Dalam kondisi seperti itu, kaum kecil semakin terjepit.

Tokoh utama, Tirtoatmojo atau Robert Lee adalah pemilik pabrik besar di pinggiran Jakarta yang tengah menghadapi ancaman mogok kerja. Para buruh menuntut kenaikan upah dan realisasi janji kepemilikan saham. Tirto teringat bagaimana dahulu ia membujuk warga korban kebakaran untuk menyerahkan tanah mereka demi pembangunan pabrik, dengan janji manis yang tak pernah ia tepati.

Seiring waktu, penderitaan buruh memuncak. Dipimpin oleh Dringgo, mereka diam-diam mengadakan pertemuan dan akhirnya sepakat untuk mogok. Namun rencana itu keburu diketahui. Pertemuan dibubarkan secara paksa, dan bentrokan pun terjadi. Dalam situasi kacau itu, Dringgo membakar gudang, memicu kebakaran besar yang menjalar ke seluruh pabrik.

Kelaparan memang mendesak, tetapi harga diri dan rasa keadilan yang terlukai jauh lebih dalam. Ketika ketidakadilan berlangsung terlalu lama, manusia bisa nekat melakukan apa saja, bahkan mempertaruhkan nyawa.

Novel ini ditulis pada tahun 1967, tapi baru diterbitkan jauh setelahnya tanpa penjelasan khusus. Namun, pesan yang dibawanya tetap hidup, yakni tentang perlawanan kaum terpinggirkan terhadap ketidakadilan. Realitas yang digambarkan masih terasa akrab hingga kini, seakan menjadi cermin bahwa nasib buruh belum banyak berubah.

Novel ini juga menampilkan dinamika lain ketika Joni, anak tiri Tirto, kembali setelah lama menghilang dan mencoba mengambil alih kepemimpinan. Namun pergantian tersebut tak mampu menyelamatkan kondisi pabrik yang telah kacau.

Dengan gaya yang lebih realistis dibanding karya Putu Wijaya lainnya, novel ini terasa mengalir dan mudah dinikmati. Akhir cerita yang tak terduga menjadi penutup yang kuat, sekaligus menjadikan buku ini pilihan tepat bagi pembaca yang ingin mulai mengenal karya-karyanya.

Identitas Buku

  • Judul: Pabrik
  • Penulis: Putu Wijaya
  • Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
  • Cetakan: I, 2022
  • Tebal: 148 halaman
  • ISBN: 978-623-6631-98-0
  • Genre: Fiksi / Novel