Ada sebuah "mesin waktu" yang berdiri tenang di sebelah utara Alun-Alun Purworejo. Bagi saya, tempat ini disebut mesin waktu bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena kekuatannya memicu nostalgia pada setiap benda yang dijumpai. Di sana, memori kolektif seolah diputar kembali; kita akan spontan berujar, "Wah, dulu kita main ini, ya!" atau "Ingat tidak, dulu kita pakai alat ini?" Sebuah kontras yang mengharukan pada era sekarang, saat hampir semua tangan bahkan anak kecil sekalipun sudah sibuk menggenggam ponsel pintar.
Di Art Center inilah, saya menemukan bahwa kenyamanan tidak melulu harus dicari ke luar kota dengan destinasi mahal yang memiliki pemandangan estetik. Nyaman itu letaknya di hati, dan bagi saya, kenyamanan itu adalah momen "pulang" ke masa lalu sejenak. Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, yakni sepuluh ribu rupiah, tempat ini menjadi oase bagi saya yang merindukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk modernitas.
Namun, kejutan pertama saat melangkah masuk mungkin akan sedikit memancing tanya. Pengunjung langsung disambut oleh replika patung Merlion di tengah kolam. Kehadirannya terasa agak "asing" dan seolah dipaksakan, mengingat ikon tersebut identik dengan Singapura dan sama sekali tidak memiliki benang merah sejarah dengan kearifan lokal Purworejo. Estetika ini terasa sedikit kontradiktif dengan koleksi bersejarah lainnya yang justru sangat autentik.
Lepas dari anomali Merlion tersebut, kita akan segera dibawa masuk ke lorong panjang dengan pencahayaan temaram nan estetik yang memajang foto-foto lama Purworejo masa kolonial. Meski bukan foto asli, kualitasnya cukup jernih untuk memancing imajinasi. Satu hal yang sempat terlintas di benak saya: mengapa tidak ada foto zaman Jepang? Mungkinkah karena masa penjajahan yang singkat dan penuh tekanan membuat dokumentasi visual tidak sempat diabadikan dengan baik?
Lorong Nostalgia Masa Kolonial
Perjalanan nostalgia berlanjut melalui deretan kendaraan zaman dahulu, mulai dari sepeda roda satu, motor Harley Davidson, hingga kereta kencana yang megah. Tak hanya kendaraan, model-model jualan zaman dulu yang beberapa di antaranya masih bisa kita temui sekarang pun turut dipajang, ditambah dengan berbagai koleksi telepon seluler jadul. Musik tenang mengalun lembut mengiringi langkah saya. Masuk ke galeri mainan jadul, saya dibuat berdecak kagum. Di sana tersimpan dakon, sudamanda, bekelan, hingga barbie mini, permainan yang pernah menjadi bagian besar dari hidup kami, tetapi mungkin sudah tidak lagi dikenal oleh Generasi Alpha.
Eksplorasi makin dalam dengan kehadiran mesin ketik tua, setrika arang, hingga berbagai diorama kebudayaan. Ada pula galeri topeng yang jumlahnya sangat banyak, relief Perang Diponegoro, hingga koleksi wayang. Yang tak kalah lengkap adalah ruangan kedokteran berisi alat-alat medis masa lalu serta replika ruang kelas zaman dahulu, lengkap dengan foto Presiden Soeharto yang mempertajam nuansa nostalgia. Bahkan, ruang kerja bupati tempo dulu pun tersaji di sini.
Namun, bagian yang paling menegangkan bagi saya adalah ruang khusus barang kebudayaan tradisional yang sarat akan hal mistis. Di sana terdapat kerangka mayat asli, seperangkat alat santet, boneka santet, hingga kayu penolak bala yang memberikan sensasi magis sekaligus mengerikan.
Meski menawarkan pengalaman batin yang kaya, ada satu hal yang perlu disiapkan pengunjung, yaitu kipas angin kecil untuk menghadapi suhu udara di dalam galeri. Tanpa adanya pendingin ruangan (AC), lorong-lorong pameran terasa cukup gerah, terutama saat matahari mulai naik. Kehadiran ventilasi yang lebih baik atau AC tentu akan membuat pengalaman menyusuri memori ini jauh lebih nyaman.
Bagi kamu yang mencari ketenangan serupa, saya sarankan datang sekitar pukul 09.00 pagi saat suasana masih sunyi. Kunjungan ini bisa dikombinasikan dengan agenda jogging atau sekadar jajan di Alun-Alun Purworejo yang hijau dan estetik. Setelah selesai, kita bisa duduk-duduk sembari melihat rusa totol atau melanjutkan langkah menuju Museum Tosan Aji yang sama-sama menawarkan keheningan yang menenangkan.
Baca Juga
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
Artikel Terkait
-
Belajar Melambat dan Bernapas di Tengah Riuh Bundaran Satam Tanjung Pandan
-
Seni Bertahan Hidup dengan Gaji UMR yang Habis Sebelum Bulan Berganti
-
UMR Tinggi, Tapi Kenapa Hidup Tetap Terasa Berat? Catatan Perantau di Batam
-
Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya
-
Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup
Ulasan
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah