Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
ilustrasi dompet (pexels/Natasha Chebanoo)
Sherly Azizah

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri sebuah acara kumpul santai bersama teman-teman lama. Suasana yang awalnya hangat dengan kenangan masa sekolah mendadak berubah menjadi dingin dan kaku ketika salah satu dari kami melemparkan pertanyaan "keramat" tanpa filter: "Eh, sekarang gajimu berapa? Katanya sudah jadi asisten dosen dan penulis, pasti besar, ya?"

Detik itu juga, saya merasa ada sebuah batu besar yang menyumbat tenggorokan saya. Di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja ini, pertanyaan sesederhana itu terasa seperti sebuah teror mental yang jauh lebih menyakitkan daripada kejaran debt collector.

Budaya "kepo" masyarakat kita memang sering kali melampaui batas privasi dan empati. Banyak orang menganggap bahwa menanyakan nominal pendapatan adalah basa-basi yang lumrah, padahal bagi banyak orang—terutama mereka yang sedang berjuang dengan gaji pas-pasan, pertanyaan itu adalah sebuah penghinaan terhadap perjuangan mereka bertahan hidup. Di balik angka yang mungkin dianggap kecil oleh orang lain, ada cucuran keringat dan waktu istirahat yang dikorbankan habis-habisan.

Ketidaksopanan ini berakar dari kebiasaan kita mengukur nilai seseorang berdasarkan materi. Dilansir dari survei etika sosial oleh Civility Index, netizen dan masyarakat kita sering kali gagal memahami batasan privasi keuangan. Menanyakan gaji adalah salah satu bentuk pelanggaran privasi yang paling sering memicu kecemasan sosial (social anxiety). Di tengah ketimpangan ekonomi yang kian tajam, nominal gaji menjadi sensitif karena berkaitan langsung dengan harga diri dan standar kelayakan hidup seseorang.

Data dari Lembaga Riset Psikologi Sosial menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang dipicu oleh pertanyaan mengenai pendapatan dapat menurunkan tingkat kebahagiaan hingga 40%. Selain itu, dikutip dari jurnal Psychological Science, orang yang sering ditanya atau dipaksa mengungkapkan pendapatannya cenderung merasa tertekan dan merasa gagal jika angka tersebut tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sekitarnya. Padahal, kita tidak pernah tahu cicilan apa yang sedang ia tanggung, atau berapa banyak anggota keluarga yang harus ia biayai dengan nominal tersebut.

Menurut saya, menanyakan gaji kepada orang lain adalah bentuk kejahatan kecil dalam berkomunikasi. Kecuali kamu adalah petugas pajak, HRD yang sedang mewawancarai calon karyawan, atau calon mertua yang ingin menjamin masa depan anaknya, kamu tidak punya hak sedikit pun untuk mengetahui berapa digit angka yang masuk ke rekening orang lain setiap bulannya. Informasi itu bersifat sangat pribadi dan tidak ada hubungannya dengan kualitas pertemanan atau persaudaraan.

Saya sering merasa aneh dengan mereka yang merasa berhak tahu isi dompet orang lain hanya untuk membandingkannya dengan milik sendiri. Jika gajimu lebih besar, kamu merasa menang; jika lebih kecil, kamu merasa kasihan. Keduanya adalah respons yang sama-sama menyebalkan. Dalam analisis saya, pertanyaan "gajimu berapa" sering kali digunakan sebagai alat validasi diri untuk merasa lebih unggul secara strata sosial, bukan karena benar-benar peduli pada kesejahteraan sang kawan.

Dampaknya secara psikologis sangat nyata bagi para pejuang UMR atau para freelancer. Pertanyaan itu memaksa mereka untuk melakukan "audit diri" yang menyakitkan di depan publik. Bagi saya, yang menjalani hari sebagai penulis dan asisten dosen, setiap rupiah yang saya dapatkan memiliki cerita perjuangan yang tidak bisa diringkas hanya dalam satu angka. Menanyakan nominal tersebut tanpa memahami konteks perjuangannya adalah sebuah bentuk pengabaian terhadap proses manusia.

Kita perlu meredefinisi kembali apa itu basa-basi yang sopan. Kita punya ribuan topik lain yang lebih bermutu untuk dibicarakan: hobi, buku yang sedang dibaca, atau sekadar kabar kesehatan keluarga. Kenapa harus masuk ke wilayah sensitif yang berpotensi merusak suasana hati orang seharian? Menghargai privasi orang lain adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat di tengah dunia yang makin haus akan pamer dan validasi.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk mulai "tahu diri". Berhenti menjadikan nominal gaji sebagai bahan obrolan santai di meja makan atau grup WhatsApp. Jangan sampai pertanyaanmu yang "cuma iseng" itu menjadi beban pikiran yang membuat temanmu sulit tidur malam ini.

Apakah kamu benar-benar ingin tahu gajinya karena peduli, atau hanya ingin memastikan posisimu di tangga sosial? Ingat, dompet setiap orang punya ceritanya sendiri, dan kamu tidak diundang untuk membacanya.

Mari lebih beradab dalam bertanya, karena ada hal-hal yang memang lebih baik tetap menjadi rahasia antara seseorang dengan saldo ATM-nya. Jangan jadi teror mental bagi orang lain di saat mereka sedang berjuang keras hanya untuk tetap tegak di atas kakinya sendiri.