Lintang Siltya Utami | Rion Nofrianda
Salah satu pedagang memamerkan produknya di pasar paduka candi Muaro Jambi (Dok.pribadi/Rion Nofrianda)
Rion Nofrianda

Tersembunyi di balik rimbunnya tajuk pepohonan karet yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, tepat di jantung kawasan situs sejarah Candi Muaro Jambi, sebuah fenomena budaya bernama Pasar Paduka atau Pasar Dusun Karet hadir menjadi magnet baru bagi para pelancong yang merindukan suasana autentik. Pasar ini bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan sebuah instalasi budaya yang hidup, yang berhasil membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat Melayu Jambi melalui aroma, rasa, dan visual yang memukau.

Setiap akhir pekan dan hari libur nasional, ketenangan kawasan percandian terluas di Asia Tenggara ini seolah terpecah oleh geliat ekonomi kreatif yang menolak tunduk pada modernitas yang serba instan. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi oleh kemegahan bata merah peninggalan masa lampau, tetapi juga diajak untuk masuk ke dalam sebuah simulasi kehidupan pedesaan yang jujur dan bersahaja, di mana setiap elemen di dalamnya dirancang untuk menghormati leluhur tanpa kehilangan relevansinya di mata generasi masa kini.

Begitu melangkahkan kaki memasuki area pasar, sensorik pengunjung langsung disambut oleh udara sejuk yang bercampur dengan bau khas kayu bakar yang terbakar sempurna di atas tungku-tungku tanah liat. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap pengunjung adalah mengunjungi pondok penukaran uang, sebuah ritual awal yang menandakan dimulainya petualangan lintas zaman.

Di loket ini, uang kertas atau saldo digital dari pemindaian QRIS yang canggih bertransformasi menjadi kepingan-kepingan koin kayu namun memiliki nilai estetika tinggi. Transaksi menggunakan koin kayu ini bukan sekadar gimik pemasaran, melainkan sebuah pernyataan sikap untuk menghargai bahan alam dan memberikan pengalaman psikologis yang berbeda bagi wisatawan. Suara denting koin kayu saat jatuh ke wadah bambu milik pedagang menjadi simfoni unik yang menggantikan bunyi notifikasi transaksi digital yang biasanya kita dengar di pusat perbelanjaan kota.

Estetika visual di Pasar Dusun Karet merupakan penghormatan yang luar biasa terhadap identitas lokal Jambi. Para pedagang yang mayoritas merupakan warga desa setempat tampil mempesona dengan balutan pakaian tradisional.

Bagi para wanita, penggunaan tengkuluk atau kain penutup kepala khas Jambi menjadi daya tarik utama yang menunjukkan keanggunan perempuan Melayu. Motif-motif batik Jambi yang melilit kepala mereka bukan sekadar hiasan, melainkan simbol harga diri dan pelestarian tradisi yang diturunkan secara turun-temurun. Sementara itu, para pria mengenakan pakaian yang selaras, menciptakan harmoni pemandangan yang sangat kontras dengan latar belakang pepohonan karet yang menjulang tinggi.

Tidak ada penggunaan alat masak modern yang terlihat di permukaan, setiap sajian diolah secara tradisional menggunakan tungku kayu bakar. Teknik memasak ini memberikan dimensi rasa yang tidak mungkin dihasilkan oleh kompor gas, di mana aroma asap yang halus menyusup ke dalam serat-serat makanan, menciptakan rasa gurih yang mendalam dan meninggalkan kesan di setiap sesapan.

Bicara soal kuliner, Pasar Dusun Karet adalah sebuah ensiklopedia rasa yang menghidupkan kembali menu-menu yang mungkin sudah mulai sulit ditemukan di meja makan keluarga modern. Salah satu primadona yang selalu dicari adalah nasi goreng dusun, sebuah hidangan sederhana namun penuh karakter karena diolah dengan bumbu rempah mentah tanpa tambahan penyedap rasa berlebihan, yang kemudian dimasak dengan panas api kayu bakar yang stabil.

Selain itu, pengunjung sering kali dibuat penasaran oleh nama "buaya berendam". Meski namanya terdengar sedikit sangar, hidangan ini sebenarnya adalah kue tradisional berbahan dasar tepung ketan yang kenyal dengan isian kacang atau gula merah, yang disajikan di atas kuah santan kental yang putih bersih. Perpaduan antara tekstur kenyal dan rasa gurih manis dari santannya menciptakan harmoni rasa yang sangat memanjakan lidah.

Tidak ketinggalan, sajian klasik seperti lupis yang pulen dengan siraman gula merah kental, klepon yang meledak di mulut, hingga misoan yang hangat dan kaya rempah, semuanya tersaji dengan harga yang sangat terjangkau, membuat siapa pun bisa mencicipi berbagai macam menu tanpa perlu khawatir menguras kantong.

Keberadaan Pasar Dusun Karet juga menjadi simbol keberhasilan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di sekitar kawasan candi. Para pedagang adalah pemilik dari warisan budaya ini sendiri, sehingga pelayanan yang mereka berikan bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan keramahan khas orang dusun yang menyambut tamu di rumahnya sendiri.

Banyak pengunjung yang menjadikan pasar ini sebagai tujuan utama perjalanan mereka, bahkan sebelum mereka menyusuri reruntuhan candi yang megah. Mereka datang untuk mencari ketenangan, untuk menyesap kuliner di bawah rindang pohon, dan untuk merasakan kembali kedekatan dengan alam dan tradisi. Di sini, kemewahan didefinisikan ulang; bukan melalui fasilitas modern yang serba otomatis, melainkan melalui kejujuran bahan makanan, keaslian cara memasak, dan kehangatan interaksi antarnusia yang terjalin secara organik tanpa sekat.

Sebagai sebuah destinasi yang menyatu dengan lingkungan, Pasar Dusun Karet juga mengajarkan pentingnya keselarasan dengan alam. Area yang bersih, penggunaan kemasan makanan dari daun pisang atau wadah bambu, serta minimnya penggunaan plastik menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan bisa dijalankan dengan cara yang sangat sederhana namun berdampak besar.

Setiap keping koin kayu yang dibelanjakan di sini tidak hanya ditukar dengan seporsi makanan enak, tetapi juga menjadi kontribusi bagi keberlangsungan budaya dan kelestarian ekosistem di kawasan Candi Muaro Jambi.

Pada akhirnya, mengunjungi Pasar Dusun Karet adalah sebuah perjalanan pulang bagi jiwa yang lelah dengan hiruk-pikuk dunia luar. Ia adalah tempat di mana sejarah tidak hanya dibaca dari buku atau dilihat pada tumpukan bata, tetapi dirasakan langsung melalui lidah, mata, dan hati, dalam sebuah perjamuan tradisi yang takkan terlupakan di bawah rimbunnya pohon karet Jambi yang melegenda.