M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
NSAC Pagi, Sore, Malam (Dokumentasi Pribadi)
Ukhro Wiyah

Mahasiswa mana yang lebih suka nongkrong di lapangan daripada di kafe-kafe estetik?

Terdengar aneh—bahkan sedikit lucu. Tapi itulah yang pernah saya lakukan. Sebuah lapangan di sebelah kampus justru menjadi tempat yang paling sering saya datangi selama masa kuliah.

Sejujurnya, ketika mendengar tantangan menulis #YoursayExperience dengan tema “Menemukan Ruang Nyaman di Kota Kita”, ada beberapa tempat yang langsung terlintas di benak saya. Namun, kali ini saya memilih menulis tentang tempat yang terasa paling dekat dan paling banyak menyimpan kenangan.

Lokasi dan Fasilitas yang Tersedia

Beberapa Fasilitas NSAC (Dokumentasi Pribadi)

Lapangan Ngronggo, atau yang kini dikenal sebagai Ngronggo Sport Art Center (NSAC), dulunya hanyalah tanah lapang biasa. Namun, sejak dilakukan pembangunan melalui program pemberdayaan masyarakat dari Pemerintah Kota Kediri beberapa tahun lalu, tempat ini berubah menjadi ruang publik yang jauh lebih fungsional.

Di sisi selatan terdapat sanggar seni yang kerap digunakan untuk latihan tari, sinden, hingga memainkan alat musik tradisional. Sementara di bagian barat dan pojok timur, berjajar warung UMKM yang menjual kopi, makanan, dan aneka jajanan ringan.

Fasilitas lainnya pun cukup lengkap: musala dengan toilet dan tempat wudu yang bersih, jogging track yang membuat area terasa lebih tertata, serta gazebo dan bangku di tepi lapangan untuk beristirahat. Di pagi dan sore hari, ada beberapa warga sekitar dan mahasiswa yang jogging di sana.

Sementara itu, di sudut bagian utara terdapat area bermain anak-anak. Terdapat beberapa permainan seperti jungkat-jungkit, perosotan, dan ayunan. Sayangnya, saat terakhir saya ke sana, beberapa di antaranya rusak. Semoga sekarang sudah diperbaiki dan bisa dimanfaatkan kembali.

Lokasinya yang strategis—dekat kampus, asrama, kos-kosan, sekolah MTs dan MA, serta pusat kuliner—membuat lapangan ini tidak hanya menjadi tempat olahraga, melainkan sekaligus ruang berkumpul bagi pelajar dan mahasiswa. Di malam hari, penerangan tersedia di beberapa titik—tidak terlalu terang, tapi cukup untuk beraktivitas.

Tentang Kebersamaan dan Momen yang Tak Terulang

NSAC Bersama Teman-teman (Dokumentasi Pribadi)

Bagi saya, tempat ini bukan sekadar ruang terbuka. Ia seperti saksi bisu perjalanan empat tahun masa kuliah saya di Ngronggo. Di sore hari, saya sering duduk di sana sambil menikmati sebungkus pentol dan segelas es teh. Sederhana, tapi selalu terasa cukup.

Ada satu pengalaman lucu yang masih saya ingat. Suatu sore, saya dan teman berniat keluar untuk mencari makan. Seperti biasa, kami mampir dulu ke lapangan—hanya untuk duduk sebentar. Namun, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Air hujan mulai masuk ke gazebo tempat kami berteduh. Menjelang Magrib, kami akhirnya berlari ke musala untuk berlindung sekaligus salat.

Di sana, kami bertemu seorang ibu yang ternyata adalah penjaga keamanan di lapangan. Kami mengobrol cukup lama, hingga tanpa diduga, beliau mengajak kami bernyanyi bersama. Lagu yang dipilih saat itu adalah Assalamu’aka milik Maher Zain.

Awalnya saya diminta memainkan rebana yang tersedia di sana, tetapi saya menolak karena tidak terlalu bisa. Akhirnya, saya kebagian bernyanyi. Karena bukan penyanyi, nada yang saya ambil sering meleset dari iringan musik. Alhasil, kami lebih banyak tertawa daripada bernyanyi dengan serius. Meski sederhana, momen itu terasa hangat dan sulit dilupakan.

Pengalaman lainnya: saya merayakan ulang tahun ke-22 di tempat ini, pada tahun 2024. Perayaannya sangat sederhana: hanya makan bersama teman-teman. Satu ekor ayam, nasi, dan es teh untuk kami berempat.

Di sela-sela makan, tentu kami mengabadikan momen itu dalam foto dan video. Sederhana, tapi terasa sangat berkesan. Karena tanpa kami sadari, itu menjadi perayaan ulang tahun terakhir kami bersama sebelum akhirnya lulus dan kembali ke daerah masing-masing.

Selain itu, saya juga sering menghabiskan waktu di tempat ini bersama teman satu kamar asrama. Kami berbagi cerita, membicarakan banyak hal, dan saling menguatkan. Di tempat yang sama, tersimpan pula kenangan bersama almarhumah teman dekat saya. Kami sering duduk di sana, berbincang ringan, tanpa pernah menyangka bahwa suatu hari kenangan itu akan menjadi begitu berharga.

Bukan Sekadar Tempat Singgah dan Duduk Sebentar

Me Time di NSAC (Dokumentasi Pribadi)

Lapangan Ngronggo bukan hanya tempat untuk berkumpul. Ia juga menjadi ruang untuk kembali pada diri sendiri. Saya pernah berlatih pidato bahasa Arab untuk tugas mata kuliah di sini. Pernah hanya duduk lama dalam diam. Bahkan pernah menangis sendirian setelah melewati hari yang terasa berat.

Mungkin bagi orang lain, ini hanyalah lapangan biasa. Namun bagi saya, tempat ini adalah ruang nyaman—tempat saya bertumbuh, belajar, tertawa, bahkan menyembuhkan diri. Dan dari semua tempat yang pernah saya datangi, justru di tempat sederhana inilah yang paling terasa seperti “pulang.”

Sekarang, rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung ke tempat tersebut. Beberapa kali saat ke kampus saya melewatinya ... dan tanpa sadar, semua kenangan seolah kembali berputar di ingatan.