Novel tipis ini sudah saya beli sejak Idulfitri sebagai bentuk self-reward, namun ternyata butuh waktu cukup lama bagi saya untuk benar-benar menyelesaikannya. Sebelum masuk ke cerita Metamorfosis, karena saya sempat merasa FOMO, maka kita perlu mengenal siapa itu Franz Kafka. Ia adalah penulis asal Praha yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sastra abad ke-20. Karya-karyanya sering kali menggambarkan individu yang terjebak dalam birokrasi membingungkan atau situasi tidak logis namun terasa sangat nyata. Sebuah gaya yang kemudian dikenal dengan istilah "Kafkaesque".
Sinopsis
Suatu pagi, ketika Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, ia menemukan dirinya di atas tempat tidur telah bertransformasi menjadi seekor serangga raksasa yang mengerikan.
Konflik dan penderitaan Gregor Samsa langsung ditampilkan pada bab pertama, Kafka langsung melemparkan pembaca ke puncak masalah tanpa basa-basi. Gregor adalah seorang sales keliling yang menjadi tulang punggung bagi orang tua dan adiknya. Begitu ia berubah menjadi serangga, dunia seolah runtuh. Ia bukan hanya kehilangan kemampuannya untuk bekerja, tetapi juga kehilangan martabat manusianya.
Ketidakmampuan ini menciptakan jurang pemisah yang dalam antara dirinya dan realitas di luar pintu kamar. Alih-alih mendapatkan simpati, keberadaannya justru dianggap sebagai beban dan aib yang memalukan bagi keluarganya sendiri. Hal ini membuat Gregor terisolasi secara fisik dan mental di dalam kamarnya, meratapi hilangnya fungsi dirinya sebagai manusia di mata orang-orang yang ia cintai.
Penerimaan yang depresif pada bab kedua, suasana terasa semakin menyesakkan. Gregor mulai mencoba beradaptasi dengan tubuh barunya, seperti belajar merayap di dinding atau bersembunyi di bawah sofa. Bagian yang paling menyayat hati adalah meski bentuknya sudah monster, Gregor tetap menyimpan empati yang besar. Ia terus memikirkan bagaimana cara agar bisa kembali bekerja demi membiayai sekolah musik adiknya, sementara keluarganya sendiri bahkan tidak sanggup melihat wajahnya tanpa merasa mual.
Karena tulang punggung keluarga tidak lagi berfungsi, kondisi ekonomi mereka hancur hingga harus menyewakan kamar kepada orang asing. Kehadiran Gregor yang tidak sengaja terlihat oleh penyewa kamar memicu kemarahan sang ayah dan kejenuhan sang adik, Grete. Kalimat Grete yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa hidup berdampingan dengan "monster" itu menjadi paku terakhir di peti mati Gregor. Akhirnya, Gregor mati dalam kesunyian dan kelaparan setelah merasa dirinya benar-benar tidak diinginkan lagi. Keluarganya justru merasa lega dan mulai merencanakan masa depan baru segera setelah Gregor tiada.
Membaca novel ini memberikan pengalaman yang sangat mengganggu pikiran. Jika dilihat dari alirannya, Metamorfosis adalah perpaduan antara Surealisme dan Ekspresionisme. Sisi surealisnya terlihat jelas dari kejadian yang tidak masuk akal, yaitu manusia menjadi serangga, yang disajikan seolah-olah itu adalah kejadian medis biasa. Sementara sisi ekspresionismenya terlihat dari bagaimana Kafka menggambarkan perasaan isolasi, kecemasan, dan keterasingan batin manusia modern secara sangat intens.
Metamorfosis menggambarkan sindiran keras terhadap nilai kemanusiaan yang sering kali hanya diukur berdasarkan produktivitas atau materi. Selama Gregor bisa menghasilkan uang, ia disayangi. Namun, begitu ia kehilangan fungsinya, kasih sayang keluarganya luntur menjadi rasa jijik. Kafka seolah ingin menunjukkan betapa rapuhnya ikatan keluarga jika hanya didasari oleh kepentingan ekonomi.
Pengalaman membaca buku ini terasa sangat lambat karena setiap paragrafnya memaksa kita berkaca: apakah kita mencintai seseorang karena pribadinya, atau hanya karena apa yang bisa mereka berikan kepada kita? Nuansa grotesque yang pekat membuat cerita ini terasa sangat gelap namun jujur dalam memotret sisi kelam sifat manusia.
Identitas Buku
- Judul: Metamorfosis
- Penulis: Franz Kafka
- Penerbit: Anak Hebat Indonesia
- Penyunting: Nindya Fertikasari
- Penerjemah: Ahmad Agil
- ISBN: 978-623-400-394-9
- Ketebalan: 112 Halaman
Baca Juga
-
Menelanjangi Kemiskinan Ala George Orwell: Sebuah Ulasan Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
Seluk-Beluk Distribusi Buku di Balik Kehangatan Toko Buku Kobayashi
-
Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi
-
Hello: Di Balik Tembok Renovasi, Ada Rahasia dan Cinta yang Terbentur Kelas
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa
-
Menelanjangi Kemiskinan Ala George Orwell: Sebuah Ulasan Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London
-
Di Balik Julukan Gotham City, Medan Punya Kehangatan yang Selalu Kurindu
-
Ketika Detektif Legend Pensiun: Keseruan Investigasi di Buku His Last Bow
-
Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus
Terkini
-
Seni Healing Tipis-tipis: Mengapa Ketenangan Tidak Harus Selalu Dicari ke Luar Kota
-
Perang Bukan Solusi: Menilik Pesan Nostra Aetate di Tengah Perseteruan AS-Iran
-
13 Cerita dari Manga Junji Ito Jadi Serial Live Action Omnibus, Tayang Juli
-
Kaos Band, Inklusivitas Kota, dan Ruang Aman Justifikasi Polisi Skena
-
Review Serial Luka, Makan, Cinta: Sebuah Konflik di Dapur yang Penuh Emosi