Kalau sudah urusan novel Tere Liye, rasanya memang susah untuk dilewatkan. Apa pun genrenya, selalu ada daya tarik yang bikin penasaran. Bahkan saat saya mengambil buku secara acak seperti Hello ini, yang notabene bergenre romance, ternyata ceritanya tidak kaleng-kaleng.
Lewat novel ini, Tere Liye menunjukkan kemampuannya menjelajah bidang teknis yang spesifik. Kali ini bukan soal ekonomi makro atau konspirasi politik kelas berat, melainkan dunia arsitektur—sesuatu yang jarang disentuh secara detail dalam novel populer tanah air.
Sinopsis
Cerita berpusat pada Ana, perempuan muda ambisius yang sejak kecil sudah jatuh cinta pada struktur bangunan. Bakatnya membawa ia pada sebuah proyek besar: merenovasi rumah mewah milik Ibu Hesty. Namun, dari sinilah cerita mulai terasa lebih dalam. Rumah itu bukan sekadar tumpukan semen dan bata; ia menyimpan jejak-jejak kenangan yang terkunci rapat selama puluhan tahun.
Ana, bersama Hesty, Laras, dan Rati, perlahan menapaktilasi setiap sudut bangunan. Kita diajak melihat bukan cuma fisiknya, tapi juga kisah manusia yang pernah hidup di dalamnya—termasuk cerita tentang keluarga asisten rumah tangga, Bi Ida dan Mang Deni, yang tinggal bertahun-tahun di sana. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri pada narasi, menunjukkan bahwa sebuah rumah megah sering kali ditopang oleh tangan-tangan yang tak terlihat.
Secara vibe, cerita ini mengingatkan pada drama Korea: hubungan cinta anak pembantu dan anak majikan. Tigor, anak Bi Ida, lahir di hari yang sama dengan Hesty, putri bungsu keluarga ningrat Raden Wijaya. Mereka tumbuh besar bersama tanpa memedulikan strata sosial, namun justru di situlah letak badai konfliknya. Perbedaan nasib mereka digambarkan sangat kontras. Hesty tumbuh dengan jalan hidup yang sudah "dipahat"—selalu sekolah di tempat elite hingga menjadi dokter.
Sebaliknya, Tigor harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa sekolah. Menariknya, Tigor tidak menyerah pada nasib. Ia menggunakan kesempatan pendidikan dari Raden Wijaya sebagai "tangga emas" untuk naik kelas. Sambil sekolah, ia nekat bekerja, membangun bisnis fotokopi, hingga menjadi loper koran yang sukses. Transformasi Tigor dari anak ART menjadi sosok yang mandiri secara ekonomi adalah salah satu poin paling inspiratif dalam buku ini.
Penolakan dari ayah Hesty, Raden Wijaya seorang menteri era Soeharto yang kaya raya digambarkan dengan alasan yang kuat dari sudut pandangnya, meski tetap terasa menyakitkan bagi pembaca. Hubungan Hesty dan Tigor terus diuji lewat kesalahpahaman hebat yang memisahkan mereka sangat lama. Namun bagi saya, magnet utama novel ini justru pada dinamika persaudaraan keluarga Wijaya.
Sosok Kak Laras dan Kak Rati yang selalu pasang badan membela Hesty adalah bagian terbaik. Mereka tahu risikonya menghadapi ayah yang otoriter, tapi tetap memilih berdiri di sisi adiknya. Tanpa kehadiran tiga bersaudari yang solid ini, cerita mungkin akan terasa kering. Solidaritas perempuan dalam keluarga ningrat ini memberikan kehangatan di tengah dinginnya tembok kekuasaan sang ayah.
Khas Tere Liye, alur maju-mundurnya dikemas rapi tanpa membuat bingung. Kehadiran latar peristiwa 1998 memberikan nuansa historis yang membuat konteks sosial ceritanya menjadi lebih kokoh dan terasa nyata. Meskipun beberapa twist bisa tertebak—termasuk identitas Tigor sebagai paman Ana (Om Gorbachev)—tetap ada kepuasan tersendiri saat potongan puzzle-nya menyatu di akhir cerita.
Hello adalah pilihan tepat bagi yang ingin bacaan santai namun tetap memiliki kedalaman emosi. Kekuatan utamanya bukan hanya pada kemanisan romansa, melainkan pada karakter yang kuat, perjuangan melawan sekat kasta, dan pentingnya sebuah tempat yang disebut rumah. Novel ini mengajarkan bahwa kadang sumber kekecewaan terbesar adalah harapan yang terlalu tinggi, namun melepaskan ekspektasi justru akan membuat setiap kehangatan ceritanya terasa jauh lebih "kena" di hati.
Identitas Buku
Judul: Hello
Penulis: Tere Liye
Genre: Fiksi, Romance, Drama Keluarga
Penerbit: Sabak Grip
Tahun terbit: April 2023
Jumlah halaman: ±320 halaman
ISBN: 978-623-8829-682
Bahasa: Indonesia
Baca Juga
-
Gadis Minimarket: Perjuangan Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tuntutan Dunia
-
Menyoal Kewaspadaan Rakyat di Tengah Kultus Mas Bahlil Ganteng
-
Paya Nie: Kisah Pilu Perempuan Aceh di Tengah Konflik Berdarah TNI dan GAM
-
Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa
-
Terkurung Sumpah Purba: Gugatan Cinta dan Fanatisme Kasta dalam Lakuna
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Bukan Sekadar Drama Aksi, Ini Alasan Trigger Wajib Kamu Tonton
-
Ulasan Film 172 Days: Kisah Romansa Hijrah yang Menyentuh Hati dan Iman
-
Predator: Badlands, Sajikan Tema Kesendirian dan Persahabatan Antar Spesies
-
Ulasan Film Normal: Aksi Neo Western Modern dengan Twist yang Mengejutkan!
Terkini
-
Resmi! Cal Crutchlow Gantikan Johann Zarco di GP Mugello 2026
-
Jomlo Bahagia
-
Astra TV Awards 2026 Resmi Umumkan Lima Nominasi untuk Best Anime Series
-
Vivo X300 FE Hadir Global: Desain Mirip iPhone, Kamera Kelas Profesional
-
Samsung dan Google Luncurkan Kacamata Pintar AI: Era Baru Wearable Technology Dimulai