Pantai Parangtritis dan Malioboro sebenarnya menjadi dua destinasi yang paling saya tunggu. Namun, siapa sangka, semuanya justru berakhir dengan kekecewaan yang tak saya bayangkan.
Perjalanan ini masih satu rangkaian dalam kegiatan ziarah dan rihlah Jawa Tengah. Setelah dari Makam Gunung Pring, bus kembali melaju menuju destinasi berikutnya, yaitu Pantai Parangtritis. Sejak awal perjalanan, rintik hujan sudah turun cukup deras, seolah menjadi pertanda bahwa hari itu tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karena tubuh sudah cukup lelah, saya akhirnya bisa tertidur pulas setelah meminum obat antimabuk. Beberapa teman lainnya juga memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Bus melaju tenang, membelah perjalanan yang terasa panjang. Saat terbangun, kami sudah berada tidak jauh dari lokasi pantai. Namun sayangnya, hujan belum juga reda. Kendaraan terparkir rapi, dan teman-teman mulai turun dengan payung di tangan. Saya yang tidak membawa payung pun akhirnya ikut turun dan bergabung bersama mereka.
Basah Kuyup di Parangtritis
Sebagian dari kami memilih berteduh di warung dekat area pantai sambil berharap hujan segera reda. Sebagian lainnya sudah berjalan menuju tepi laut. Saya sempat ragu. Namun setelah menunggu cukup lama dan hujan tidak kunjung berhenti, saya dan dua teman lain memutuskan untuk tetap berjalan ke pantai, meski harus basah kuyup.
Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi Parangtritis, itulah mengapa rasa penasaran dan antusiasme tetap ada. Kami berjalan di bawah hujan hingga sampai di tepi laut. Pakaian yang sudah basah sekalian saya gunakan untuk bermain ombak. Sebenarnya, saya berharap bisa mengabadikan momen dengan foto yang bagus. Namun, layar ponsel yang basah membuat touchscreen sulit digunakan. Alih-alih mendapatkan foto yang diinginkan, saya justru lebih banyak menikmati momen bersama teman-teman, meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Kami menghabiskan waktu cukup lama di pantai dan baru beranjak sekitar pukul 13.30. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, kami melaksanakan salat jamak takdim Zuhur dan Asar sebelum melanjutkan perjalanan.
Malioboro yang Berubah dan Keinginan untuk Berhenti
Sekitar pukul 14.30, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Malioboro. Hujan masih setia menemani. Saat tiba di lokasi, suasana cukup padat karena bertepatan dengan musim liburan akhir tahun. Bus bahkan harus berputar cukup lama untuk mencari tempat parkir.
Saya sempat ragu untuk turun. Hujan masih deras, sementara tubuh sudah sangat lelah setelah dua hari perjalanan tanpa istirahat yang nyaman. Namun, teman-teman membujuk. Akhirnya, saya pun turun dan berjalan bersama mereka, berbagi payung di tengah hujan.
Kami menyusuri Jalan Malioboro yang terkenal itu. Saya melihat perubahan yang cukup signifikan dibandingkan kunjungan terakhir saya pada tahun 2016 saat study tour sekolah. Trotoar kini terlihat lebih rapi dan nyaman, sementara deretan toko tampak lebih tertata. Kami sempat mampir ke beberapa toko; saya membeli satu paket bakpia seharga Rp50.000 sebagai oleh-oleh. Menjelang sore, hujan perlahan reda, dan kami memanfaatkan waktu untuk mengambil beberapa foto sebelum kembali ke bus.
Penutup di Solo dan Surakarta
Destinasi berikutnya adalah Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo yang sebenarnya sangat saya nantikan. Namun sayang, kami tiba terlalu malam sehingga tidak sempat mampir. Saya hanya bisa melihat lampu-lampu berwarna kebiruan yang menyala indah dari jendela bus.
Perjalanan akhirnya ditutup dengan singgah di Masjid Riyadh, Surakarta, untuk melaksanakan salat jamak takhir Magrib dan Isya, sekaligus berziarah ke makam Habib Anis Al-Habsyi, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, dan Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi.
Kami tiba kembali di Kediri sekitar pukul 02.00 dini hari. Perjalanan ini mungkin tidak berjalan sesuai dengan harapan saya. Hujan, kelelahan, dan berbagai kendala membuat banyak rencana tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Namun, di balik semua itu, ada hal lain yang saya temukan: kebersamaan, tawa sederhana, dan kenangan yang justru terasa lebih hangat karena dilalui dalam kondisi yang tidak sempurna. Saya pun menyadari bahwa tidak semua perjalanan harus berjalan sesuai rencana untuk bisa dikenang.
Baca Juga
-
Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus
-
Drama Pro Bono: Tentang Keadilan yang Terasa Mahal bagi Orang Kecil
-
Ngronggo Sport Art Center: Tempat Nyore Sederhana yang Penuh Kenangan
-
Review Honour: Saat Dunia Hukum Tidak Lagi Berpihak pada Korban
-
Drama The Witch: Antara Kutukan dan Luka yang Diciptakan Manusia
Artikel Terkait
-
Sensasi Makan Indomie di Bawah Bayangan Kapal Raksasa: Mengulik Dermaga Pelabuhan Cirebon
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon
-
Di Balik Julukan Gotham City, Medan Punya Kehangatan yang Selalu Kurindu
-
Seni Healing Tipis-tipis: Mengapa Ketenangan Tidak Harus Selalu Dicari ke Luar Kota
Ulasan
-
Sensasi Makan Indomie di Bawah Bayangan Kapal Raksasa: Mengulik Dermaga Pelabuhan Cirebon
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon
-
Kisah Ikal dalam Edensor: Dari Lorong Sorbonne hingga ke Padang Sahara
-
Nestapa Gregor Samsa Si Manusia Kecoa dalam Metamorfosis Franz Kafka
-
Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa
Terkini
-
Segelas Air dari Jantung Kekasihku
-
Rumah Kontrakan Nomor 7
-
Semalam Malas Nikah, Pagi Malah Ingin: Bagaimana FYP TikTok Mengacak Standar Kebahagiaan Kita
-
Headphone Retro "Kalcer" di Bawah 500 Ribu: Mengulik Moondrop Old Fashioned
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya