M. Reza Sulaiman | afifatun khuzaemah
Ilustrasi food waste (gemini ai)
afifatun khuzaemah

Kemudahan berbelanja online tidak luput dari aktivitas membeli makanan secara online. Semua orang memiliki kesempatan untuk bisa mengonsumsi suatu hidangan tanpa perlu repot membeli bahan dan mengolahnya. Cukup dengan jari yang bergerak lincah di atas layar, sebuah makanan dapat dengan mudah tersaji di meja makan.

Hal yang menarik dari kegiatan order makanan secara online tersebut adalah kemudahannya untuk dilakukan sewaktu-waktu serta tidak terbatas lokasi. Kita tidak hanya bisa memesan makanan untuk diri sendiri, tetapi juga dapat mengirimkannya untuk keluarga, teman, atau kerabat di lokasi lain. Bahkan, saat berada di luar kota atau luar negeri sekalipun. Selama memiliki koneksi internet, urusan makanan dapat teratasi.

Apalagi dengan banyaknya jumlah pilihan makanan serta minuman. Mulai dari menu restoran berbintang sampai jajanan pinggir jalan, semuanya dapat dipesan dengan mudah tanpa perlu repot keluar rumah, apalagi memikirkan outfit yang akan dikenakan.

Kemudahan seperti itu memang sangat bagus untuk menunjang kehidupan kita. Sekalipun sedang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, kita tidak perlu dibuat bingung dan makin sibuk dengan urusan perut. Hanya dengan mengeklik layar dan menunggu beberapa saat, kurir pengantaran akan tiba di hadapan kita beserta makanan yang diinginkan.

Jika dari segi waktu dan tenaga lebih efisien, apakah order makanan secara online dapat lebih menghemat pengeluaran? Menariknya, saat kita bisa memilih restoran dan berhasil mendapatkan voucher potongan, hal ini memang bisa dibilang dapat sedikit menghemat isi kantong. Belum lagi jika kita menjadi pelanggan atau member khusus, biasanya akan ada voucher tambahan yang tentunya lebih menarik daripada yang didapatkan oleh pengguna biasa.

Namun, sepertinya kita tidak bisa terlalu mengagung-agungkan order makanan secara online, meskipun keuntungan yang didapat sebanyak dan semenarik yang sudah disebutkan di atas. Tentu saja masih ada pekerjaan rumah (PR) bagi kita, mulai dari masalah sampah plastik dan kemasan yang selalu menghantui, sampah sisa makanan yang membusuk, masalah finansial, hingga permasalahan kesehatan.

Hal yang berkaitan dengan pesanan dan embel-embel online tentu tidak jauh dari permasalahan kemasan. Kebutuhan akan keamanan produk—dalam hal ini makanan—tidak boleh dianggap enteng. Ketika kita memesan satu porsi ayam goreng, misalnya, tentu akan ada satu pembungkus, entah itu berbentuk styrofoam atau kardus yang bertugas menjadi wadah makanan tersebut. Biasanya ada juga bonus sambal dengan wadah sachet atau plastik kecil. Jika ada tambahan nasi, terkadang ada lagi kertas pembungkus nasi itu sendiri, ditambah satu buah kantong plastik yang bertugas memudahkan pengiriman ayam goreng tersebut. Lantas, akan berakhir di manakah sampah kemasan dari satu porsi ayam goreng yang berhasil memuaskan rasa lapar itu?

Lain kemasan, lain pula dengan porsi makanan yang dipesan. Tidak salah jika sebagian dari kita menganggap membeli makanan secara online ibarat malaikat penolong di saat-saat genting, seperti pada tanggal tua atau tengah malam. Dengan memanfaatkan voucher dan kebebasan memilih restoran, bukan hal yang mustahil kita bisa memperoleh makanan dengan porsi besar dengan harga yang murah.

Akan tetapi, porsi yang besar di tengah harga yang murah tersebut juga membuka pintu baru bagi munculnya sampah makanan (food waste). Makanan matang yang tidak langsung habis dan disimpan dengan cara yang salah akan mempercepat proses pembusukan. Sisa makanan yang tidak diolah dan membusuk ini akan menghasilkan gas metana yang dapat memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Ada baiknya jika kita selalu memperhatikan jumlah atau porsi saat memesan makanan. Pertimbangkan apakah makanan tersebut akan langsung habis ketika dikonsumsi sendiri atau justru akan tersisa nantinya. Jika ingin memesan dalam porsi besar, sebaiknya dilakukan saat ada acara bersama sehingga makanan dinikmati oleh lebih dari satu orang.

Jika sudah telanjur memesan dalam porsi besar padahal tinggal sendiri di kamar kos, cobalah ambil bagian yang kiranya akan langsung habis, lalu berikan sisanya kepada tetangga atau teman kos. Kalaupun akan menyimpannya untuk esok hari, pastikan menyimpan makanan di wadah tertutup rapat dan memasukkannya ke lemari pendingin agar tidak mudah basi.

Ketika kita bisa mendapatkan makanan dengan mudah tanpa repot berbelanja, memilih bahan, dan mengolahnya, kehidupan kita memang sangat dipermudah. Lalu, apakah kualitas hidup kita juga otomatis meningkat? Belum tentu!

Kebiasaan setiap saat mengonsumsi makanan siap santap ternyata bukanlah hal yang baik. Apakah makanan yang kita beli secara online tersebut terjamin kualitas dan higienitasnya? Sekalipun makanan tersebut dibeli dari restoran berbintang, kemungkinan kita terpapar mikroplastik dan penyakit ternyata jauh lebih tinggi daripada mengolah makanan sendiri. Tuntutan bahwa makanan harus dikirim langsung begitu selesai diolah untuk menjaga kehangatannya sering kali berbenturan dengan penggunaan kemasan plastik yang bertugas melindungi dan membungkusnya. Padahal, seperti yang kita tahu, plastik akan lebih mudah bereaksi dan luruh ketika terkena suhu panas.

Belum lagi, saat melakukan order makanan secara online, terkadang kita jauh lebih tertarik dengan junk food dan makanan tidak sehat lainnya. Kemudahan memesan sewaktu-waktu juga memudahkan kita menghilangkan lapar di tengah malam. Kesibukan yang padat membuat minimnya gerak dan olahraga, ditambah konsumsi makanan kurang sehat serta kebiasaan buruk lainnya, akan menjadi pemicu munculnya obesitas dan berbagai penyakit penyerta.

Keberhasilan mendapatkan makanan dalam porsi besar dengan harga murah berkat voucher khusus juga bukan serta-merta sebuah "keberuntungan instan". Untuk mendapatkan voucher istimewa tersebut, kita sering kali harus membayar biaya langganan dengan jumlah sekian setiap bulannya. Alih-alih menghemat, sebenarnya kita tetap membayar harga aslinya, hanya saja dengan "bungkus" dan embel-embel promosi yang berbeda.

Pada era modern yang sejalan dengan berkembang pesatnya teknologi ini, kehidupan manusia memang sangat dimudahkan. Namun, jika tidak disikapi dengan kesadaran serius, kemudahan tersebut dapat menjadikan kita generasi "manja" yang pada akhirnya diperbudak oleh teknologi dan mewariskan permasalahan berat untuk kehidupan di masa mendatang.

Sekadar mengupas singkat dari sisi pesanan makanan online saja, masalahnya bisa bercabang jauh ke isu lingkungan, kesehatan, hingga keuangan. Ketika kita bisa sedikit lebih bijak dalam memilih apa yang akan dibeli dan kapan saat yang tepat untuk membelinya, kita akan sedikit banyak membantu mengurangi potensi kerusakan lingkungan. Bagaimana jadinya jika kita bisa lebih bijak di segala aspek, bukan hanya saat membeli makanan saja?