Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Kumpulan Cerpen Sebelum Gerimis Jatuh di Kening (Dok. pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Semakin diberi peringatan, semakin penasaran. Tentunya itulah yang terjadi ketika saya memutuskan untuk menuntaskan membaca kumpulan cerpen karya Embah Nyuts atau nama pena dari Triwibowo BS.

Dari cover yang lucu, judul Sebelum Gerimis Jatuh di Kening dengan tambahan “dan cerita-cerita yang mungkin membuat pembaca menyesal” membuat saya bertanya-tanya.

Dan benar saja, saya sempat menyesal, tetapi justru jadi suka karena mendapatkan pandangan baru tentang aliran cerpen, mulai dari yang absurd, grotesk, ilmiah, hingga yang sulit dijelaskan.

Terbagi menjadi empat part dengan judul berbahasa Inggris yang terasa cukup bergaya. Part satu, The Mind: Stinky and Bizarre Illusions, isinya memang menjijikkan.

Salah satunya kisah tentang upil yang menceritakan seorang ayah yang ingin terlihat cerdas di depan anaknya yang masih PAUD dengan mengarang ilmu bernama “umbelogi” dan menjelaskan secara ilmiah segala hal seluk beluk tentang upil dan umbel.

Cerpen Toilet Asmara hanya berisi apa yang dipikirkan seorang laki-laki sambil menunggu inspirasi untuk membuat sajak indah bagi kekasihnya, dengan alur maju mundur dan dramatisasi konyol, terutama saat ia izin ke toilet padahal sudah punya banyak ide, tetapi tidak ditulis karena mengantuk.

Cerpen Duka dan Bahagia terasa sangat menjijikkan, tentang seorang pemburu yang memakan kampret mentah dengan rasa amis yang detail. Saat pulang, ia mendapati istrinya berselingkuh dengan pria berwajah kampret yang ia bunuh, tetapi akhirnya ia sendiri ditemukan tewas gantung diri. Aneh memang.

Dua cerpen lainnya mengangkat kisah horor tentang kabut yang dialami mahasiswa KKN di daerah Gunung Lawu dengan hantu gundul pecengis dan demit jumblengan yang menggerogoti bokong hingga krowak. Horor yang diakiri dengan ending humor.

Part dua, The Feeling: Sadness and Sorrow, berisi empat cerpen. Kawan Ajaib menghadirkan rasa syukur di tengah kehidupan yang sulit ketika tokoh mengetahui sahabatnya yang selalu ceria sejak kecil ternyata hampir meninggal, dan pada akhirnya benar-benar meninggal, menghadirkan kenangan masa sekolah yang terasa lucu sekaligus tragis.

Mawar untuk Kekasih bercerita tentang pasangan suami istri yang mengalami miskomunikasi: sang istri merasa diselingkuhi setelah kehilangan anak, sementara sang suami justru berusaha membahagiakannya dengan mencari rekomendasi bunga mawar. Ironisnya, keduanya ditemukan tewas dan kisahnya dimuat di koran dengan motif yang belum diketahui.

Gloomy Birthday mengisahkan seorang pria penyakit jantung yang muak dengan doa panjang umur, namun maut justru menjemputnya lewat serangan jantung saat ia terkejut melihat kabar kematian teman kuliahnya di WhatsApp, tepat sebelum kopi yang mereka pesan sempat mendingin.

Part tiga, The Isthmus: Messy Imagination, menghadirkan cerpen Surat dari Kucing Berandalan yang terasa tidak masuk akal, tetapi justru menarik karena membahas seluk-beluk dunia kucing, mulai dari asal-usul kucing calico hingga bagaimana kucing memandang manusia dengan imajinasi yang liar.

Part empat, The Heart: Hope and Love, berisi tiga cerpen: Radio Tua, Kupu-Kupu, dan Sebait Puisi. Salah satunya mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati kekasihnya saat merantau dan terus menunggu hingga tidak ingin menikah.

Cerpen Sebelum Gerimis Jatuh di Kening menghadirkan percakapan dua orang dengan kalimat berulang “semua akan baik-baik saja” yang justru terasa menyakitkan.

Bagaimana bisa baik-baik saja ketika ia ditinggalkan dalam keadaan mengandung? Ketika anaknya bertanya tentang ayahnya, jawaban yang muncul tetap sama, hingga akhirnya terungkap kenyataan yang pahit.

Secara keseluruhan, pengalaman membaca buku ini terasa senang sekaligus menyesal, tetapi tidak benar-benar menyesal. Justru ada banyak hal baru yang saya temui sebagai bumbu untuk menulis cerpen. 

Seperti kata J.S. Khairen, menulis itu seperti memasak: mengumpulkan bahan lalu meramunya. Buku ini cukup menginspirasi, meskipun bagian menjijikkannya terasa berlebihan seperti adegan bunuh membunuh, adegan mengunyah daging kampret, adegan seonggok tai yang jatuh dari sarung.

Penerbit Basa Basi memang tidak pernah gagal dalam mengkurasi naskah-naskah yang aneh, berani, dan luar biasa. Di sisi lain, ada pesan-pesan yang terselip dan dibiarkan pembaca menyimpulkan sendiri, beberapa cerpen  diakhiri dengan ending multi tafsir yang masiah jarang ditemui dibebeberaa cerpen yang sudah pernah saya baca.

Identitas Buku

Judul: Sebelum Gerimis Jatuh di Kening
Penulis: Embah Nyuts
Penerbit: Basa Basi
Tahun Terbit: Mei 2023
ISBN: 978-623-189-203-4
Jumlah Halaman: 148