Bagi penikmat sastra, karya-karya terbitan Basa-Basi sering kali identik dengan nuansa liar; terkadang absurd, bergaya Kafkaesque, hingga menyentuh sisi grotesque. Namun, dalam antologi bertajuk Perempuan-Perempuan Perawat Kenangan, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Alih-alih terjebak dalam labirin surealisme, buku ini menyuguhkan realitas yang begitu "normal", namun memiliki daya hantam emosional yang luar biasa.
Melalui 17 cerpen yang semuanya menggunakan nama perempuan sebagai judul, Tiara Sari—penulis kelahiran Pariaman—mengajak kita menyusuri garis hidup perempuan di tanah kelahirannya sejak tahun 2015. Dengan perspektif feminis yang jujur tanpa pretensi, ia memotret perempuan dalam berbagai fase: remaja, istri, ibu, hingga lansia.
Ketidakberdayaan dan Tembok Adat
Dua cerpen yang paling membekas adalah "Rut" dan "Rut Aliya". Keduanya menggambarkan ketidakberdayaan individu saat berhadapan dengan tembok tebal adat Minangkabau. Dalam "Rut", pembaca diajak merasakan keputusasaan sepasang kekasih yang cintanya terganjal uang jemputan sebesar 40 juta rupiah.
Ironisnya, sang kekasih yang berstatus pegawai enggan berkompromi untuk mengelabui aturan ninik mamak, sementara keluarga Rut yang hanya petani kecil tak tahu kapan mampu mengumpulkan uang sebanyak itu. Di sini, adat yang seharusnya melindungi justru menjelma menjadi beban finansial yang menghimpit kebahagiaan personal. Hal serupa juga tampak dalam cerpen "Sitta", yang menggambarkan sosok wanita sebagai "Siti Nurbaya Modern" tetap tak kuasa menolak perintah adat meski zaman telah berganti.
Kemiskinan dan Eksploitasi Media
Ketertindasan ekonomi dipotret secara menyayat hati dalam cerpen "Bidar". Pasca-banjir bandang Padang tahun 2012, kehidupan seorang siswi SMP berubah menjadi perjuangan mencari sesuap nasi sembari merawat ibunya yang sakit parah. Puncak nestapa Bidar digambarkan dengan sangat getir melalui keinginan terakhir sang ibu: segigit lemak daging sebelum ajal menjemput.
Ketajaman penulis dalam mengkritik realitas sosial juga tampak dalam "Julintan". Tokoh Julintan adalah gambaran wanita tua yang terpaksa "memamerkan" kemiskinannya demi perhatian televisi. Ia bahkan melakukan tindakan ekstrem dengan memasukkan pasir ke mata agar terlihat dramatis di kamera. Namun, ironi terjadi saat kru televisi pergi begitu saja karena menganggap kisahnya kurang "menjual" secara visual akibat ketiadaan beban keluarga yang cacat atau sekarat. Ini adalah kritik pedas terhadap eksploitasi kemiskinan oleh media demi rating.
Duka Ibu dan Luka yang Tabu
Beberapa cerpen menyentuh sisi gelap yang sering dianggap tabu. "Rubiah" menanggung beban ganda: kemiskinan dan gunjingan tetangga karena melahirkan anak yang dikaitkan dengan mitos "Lecoh Demit". Sementara itu, "Kenanga" menutup ulasan ini dengan penyesalan seorang ibu yang mengusir anaknya yang hamil di luar nikah; sebuah amarah yang akhirnya membunuh sang ibu secara perlahan dalam kabut rasa bersalah.
Ada pula cerpen "Ningtyas", yang mengisahkan seorang ibu yang kehilangan kasih sayang anak-anaknya karena cara mendidik yang terlalu keras dan lisan yang tajam. Di sisi lain, cerpen "Idah" memberikan kejutan kelam tentang seorang istri yang berubah menjadi "monster" yang memutilasi suaminya sendiri akibat akumulasi luka KDRT yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesetiaan.
Membaca antologi ini memberikan inspirasi dan ide segar tentang betapa luasnya khazanah dunia cerpen. Jika dulu pengetahuan saya tentang budaya Minang terbatas pada kisah klasik Siti Nurbaya, buku ini membuka cakrawala yang jauh lebih kontemporer. Antologi ini memotret spektrum kehidupan wanita secara lengkap mulai dari masa remaja belia, dewasa, hingga lansia dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan mereka dalam menghadapi dunia
Identitas Buku
Judul: Perempuan-Perempuan Perawat Kenangan
Penulis: Tiara Sari
Penerbit: Basa-Basi
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-578-67-8-0
Kategori: Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
-
Dari Marie Curie hingga Dinosaurus: Bagaimana Buku Ini Membuka Pintu Dunia Sains untuk Anak-Anak?
-
Sebelum Membaca Supernova, Kenali Dulu Kisah Cinta yang Rumit Ini
Artikel Terkait
-
Lawan Stigma di Jalanan, Kisah Hebat Mantan Perawat Jadi Sopir Bus Transjakarta
-
Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
-
Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup
-
Kartini dan Buruh Perempuan di Era Industri Modern
-
Kartini Melawan Objektifikasi Konten dan Kekerasan Gender di Era Digital
Ulasan
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
-
Masjid Tegalsari: Jejak Islam dan Jawa yang Bertahan Melintasi Zamannya
Terkini
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Bye Pori Tersumbat! 4 Cleanser Volcanic untuk Kulit Mulus Bebas Komedo
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Novel Home Sweet Loan: Perjuangan Kaluna Mewujudkan Rumah Impian
-
Menjelajahi Kedalaman Cerita dan Visual dalam Film Moana (2026)