Alasan pertama saya memutuskan untuk membeli novel Bungkam Suara karya J.S. Khairen ini adalah karena rasa kepo (penasaran) maksimal. Bayangkan, blurb buku ini terus-menerus muncul di feed atau fyp Instagram dengan narasi yang sangat kuat dan memancing. Setiap kali muncul, saya jadi makin penasaran. Apalagi, banyak yang bilang kalau cerita di novel ini adalah sindiran atau kritik tajam untuk pemerintah, bahkan dikaitkan dengan buku-buku yang mengkritisi kekuasaan.
Bebas Bicara: Harapan atau Bencana?
Setelah membacanya, aku langsung mengerti kenapa novel ini begitu ramai dibicarakan. Premisnya memang sangat menarik. Ceritanya berlatar di sebuah negara bernama Negara Kesatuan Adat Lawaknesia, atau yang sering diplesetkan menjadi NAKAL (Negara Kesatuan Adat Lemunesia). Negara ini dipimpin oleh duo Perdana Menteri dan Raja yang memiliki tim pertahanannya masing-masing (Polisi Kerajaan vs Algojo Raja). Di NKAL, kebebasan berpendapat adalah barang langka. Rakyat dilarang mengkritik raja mereka kapan pun, kecuali pada satu hari spesial: Hari Bebas Bicara.
Bagian yang paling seru di novel ini tentu saja adalah saat Hari Bebas Bicara itu terjadi. Kita bisa membayangkan betapa gilanya hari itu. Bayangkan saja, selama satu tahun penuh, warga menahan segala emosi, kekesalan, dan narasi yang ingin mereka sampaikan. Lalu, semuanya meledak dalam satu hari saja. Ini ibarat bom waktu yang meledak! Suasananya menjadi chaos parah: jutaan aib terbongkar, jutaan fitnah tersebar, dan jutaan kebencian serta perundungan mengakar. Rakyat saling berkelahi dengan rakyat, tetangga dengan tetangga, hingga murid dengan guru. Apa yang seharusnya menjadi jalan menuju keadilan justru berubah menjadi bencana kemanusiaan yang mengerikan.
Petualangan Timmy dan Dunia NKAL yang Unik
Tokoh utamanya adalah Timmy (Jujur Timur), pemuda yang hidupnya hancur setelah ayahnya terseret skandal besar, dimiskinkan, dan dipenjara. Timmy harus jadi buruh panen durian di Cokku untuk menyambung hidup bersama ibu dan adiknya. Saya sampai ikut mendalami bacaannya, seolah-olah ikut tiup peluit yang dipegang Timmy, meski peluitnya Timmy suaranya tidak jelas karena ada rahasia besar yang belum dia sadari. Bahkan, saya sampai beberapa kali melihat Peta Of NKAL yang ada di buku untuk menghayati perpindahan langkah Timmy, mulai dari Neang ke kebun durian di Cokku. Keributan antarnetizen Lawaknesia yang menjadi hiburan sehari- hari Timmy sangatlah Indonesia sekali, berdebat untuk urusan tidak penting seperti isu selangkangan artis, dll.
Novel ini benar-benar novel fantasi yang kaya. Penulisnya berhasil menciptakan dunia yang unik dengan detail yang menarik. Aku suka banget mencari tahu tentang kendaraan monowhils yang dipakai Chicha, atau kendaraan berbentuk tutup pulpen milik Prof. Terang. Untuk semakin menyadari kalau ini adalah novel fantasi, aku sampai membayangkan pohon talas dan reruntuhannya yang menjadi tempat rahasia Prof. Terang yang baru diketahui oleh Timmy. Belum lagi detail unik seperti tas ajaib yang kalau hp dimasukkan ke dalamnya langsung tidak ada sinyal, atau mata uang sendiri di NKAL yang disebut DW. Kenapa bisa begitu? Hmm, itu bikin makin penasaran!
Satir yang Tajam (tapi Bikin Ngakak)
Hal yang membuatku paling suka (dan juga gemas) adalah satir atau sindiran sosialnya yang sangat tajam dan terasa "Indonesia banget". Satirnya tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai ke penamaan kementerian atau lembaganya yang benar-benar absurd. Aku super-duper nggak nyangka kalau ada nama kementerian seperti PEMPEKMAHAL. Apa coba artinya? Ternyata, itu adalah kementerian Pembangunan, Pekerjaan Umum, Rumah, dan Jalan. Bayangin, singkatan kementeriannya saja sudah seaneh itu, gimana kinerjanya, ya? Ada juga kementerian lain yang namanya tidak kalah nyeleneh, seperti KETEKGATAL atau KESELEKSETAN. Bahkan kata sandi paling penting pun durian asoy semlohay begitulah seingat saya. Novel ini benar-benar bikin kesel tapi juga ngakak berbarengan!
Meskipun menurutku novel ini masih punya beberapa lubang cerita dan ending yang terasa menggantung (mungkin karena disiapkan untuk sekuel), pesan moralnya sangat kena. Buku ini jadi pengingat keras buat kita untuk jangan gampang termakan gosip murahan yang sengaja disebar untuk menutupi isu penting. Kita harus tetap kritis dan cerdas supaya tidak mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang cuma ingin berkuasa. Dan ingat, seperti yang Timmy pelajari, di tengah tumpukan jerami fitnah, orang jujur itu selalu ada—meski jumlahnya sedikit.
Bungkam Suara adalah sebuah novel satir fantasi yang sangat relevan dan menarik untuk dibaca, terutama jika kamu menyukai kritik sosial dan premis yang out of the box. Meski ada beberapa bagian yang mungkin terasa dipaksakan atau membingungkan, pesan kuat di dalamnya tentang kebebasan berpendapat dan manipulasi informasi sangatlah berharga.
Identitas Buku
Judul: Bungkam Suara
Penulis: J.S. Khairen (Jombang Santani Khairen)
Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun Terbit: Januari 2023
Tebal: 366 Halaman
ISBN: 978-602-05-2981-3
Baca Juga
-
Simalakama Kucing Liar: Antara Kasih Sayang dan Ancaman Invasi Biologis
-
Kusni Kasdut: Potret Pilu Veteran yang Tersisih Setelah Indonesia Merdeka
-
SagaraS: Jawaban di Balik Kotak Hitam dan Muara Segala Obsesi Tuan Muda Ali
-
Menyisir Getir Kehidupan Perempuan Pariaman lewat Antologi Perawat Kenangan
-
Menyesal tapi Nagih dalam Kumpulan Cerpen Sebelum Gerimis Jatuh di Kening
Artikel Terkait
-
Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi
-
Idrus Marham Kecam Pernyataan Saiful Mujani: Kritik Pemerintah Harus Objektif, Bukan Provokatif!
-
Ulasan Novel Melangkah, Ketika Nusantara Menjadi Gelap Tanpa Aliran Listrik
-
Zebra Cross Pac-Man: Kreativitas Warga atau Alarm Pemerintah yang Absen?
-
Review Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara: Tutorial Jadi Badut Hubungan yang Tetap Elegan
Ulasan
-
Hell University: Saat Enam Sekawan Terjebak di Sekolah Penuh Pembunuhan
-
The Drama: Sajikan Eksplorasi Hubungan Toksik dalam Balutan Komedi Gelap!
-
Menelusuri Dunia Dewa dan Pahlawan dalam Buku Mitologi
-
Ramen Master: Kuliner Jepang Favorit Mahasiswa yang Ramah Kantong di Malang
-
Jejak Wawasan 11: Menyibak Dunia Tersembunyi dalam The Secret of Shambhala