Muncul semacam kesan yang terasa ganjil tapi indah saat nonton Film Para Perasuk yang lahir di bawah naungan Rekata Studio. Semacam perasaan, yang mengeja dunia dalam film ini yang rupanya nggak ada garis tegas antara yang ‘tradisional’ dan yang ‘modern’. Keduanya berjalan berdampingan, seperti dua napas dalam satu tubuh yang sama.
Film yang rilis awal di Sundance Film Festival pada Januari 2026, yang kemudian meluas di bioskop Indonesia pada 23 April 2026 ini disutradarai Wregas Bhanuteja, terkenal dengan pendekatan visualnya yang puitis dan berani. Di sini, dia kembali bermain di wilayah yang sama, tapi kali ini menghidupkan ‘antara realita dan sesuatu yang sulit dijelaskan’, tapi terasa dekat secara emosional.
Secara cerita, Para Perasuk membawa kita ke Desa Latas, tempat di mana kesurupan massal (atau sambetan) bukan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Warga menikmati ritual itu, menjadikannya ruang ekspresi sekaligus hiburan. Di tengah dunia yang terasa ‘nggak biasa’ itu, ada Bayu (Angga Yunanda),pemuda yang bercita-cita menjadi ‘perasuk’ (seseorang yang mampu mengalirkan roh ke tubuh orang lain).
Namun, ambisi Bayu bukan sekadar soal kemampuan. Dia juga sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam: trauma masa lalu dan tekanan hidup yang perlahan menggerogoti dirinya.
Pertemuannya dengan Laksmi (Maudy Ayunda), yang sering menjadi medium kesurupan, membuka hubungan yang aneh tapi hangat. Sementara itu, sosok Guru Asri yang diperankan Anggun C. Sasmi hadir sebagai figur mentor yang kuat dan penuh wibawa, menjadi penyeimbang dalam dunia yang terasa liar ini.
Dari titik itu, film ini pelan-pelan membuka lapisan demi lapisan dualisme yang dimilikinya.
Dualisme Film Para Perasuk
Kita sering terbiasa melihat tradisi sebagai sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang akan tergeser ketika modernitas datang. Namun di Desa Latas, asumsi itu runtuh. Tradisi sambetan tetap hidup berdampingan dengan kehidupan modern. Orang-orang bisa bekerja, menjalani rutinitas, lalu di waktu lain memilih untuk ‘keluar’ dari dirinya sendiri lewat ritual.
Ini bukan benturan. Ini keseimbangan yang aneh, tapi mengalir sepanjang film dan terasa sangat meyakinkan.
Dan kalau dipikir-pikir, manusia modern juga punya ‘versi kesurupan’ masing-masing. Kita mungkin nggak memanggil roh, tapi kita sering tenggelam dalam sesuatu. Misalnya pekerjaan, tekanan hidup, ekspektasi, sampai lupa siapa diri kita sendiri. Film ini seperti membisikkan sesuatu yang sederhana tapi menusuk: kadang, menjadi diri sendiri itu melelahkan.
Dualisme ini terasa semakin kuat saat masuk ke dalam diri Bayu. Dia hidup di dua dunia. Yang satu nyata, yang lain terasa seperti mimpi. Tubuhnya ada di desa, di antara latihan dan ambisinya. Namun, pikirannya sering melayang, masuk ke ruang-ruang visual yang absurd, bahkan kadang terasa nggak masuk akal.
Visual-visual yang terasa liar itu bukan sekadar gaya. Itu adalah cara film ini menunjukkan isi kepala manusia. Bahwa pikiran nggak selalu rapi, nggak selalu logis, dan seringkali menjadi tempat pelarian paling aman.
Di titik ini, dualisme berubah menjadi sesuatu yang lebih personal: antara tubuh dan pikiran. Ada momen ketika seseorang hadir secara fisik, tapi sebenarnya nggak benar-benar ‘ada’.
Relasi antar karakter juga ikut memperkuat hal ini. Hubungan Bayu dan Laksmi terasa aneh di permukaan, dibangun dari latihan kesurupan, tapi menghadirkan keintiman yang jujur. Nggak romantis dalam cara yang klise, tapi hangat dalam cara yang sederhana. Seolah-olah film ini ingin bilang, kedekatan nggak selalu lahir dari situasi yang normal.
Dan di luar itu semua, ada lapisan lain yang membuat dualisme ini semakin kompleks: realita sosial.
Desa Latas bukan hanya ruang budaya, tapi juga ruang yang terancam. Ada tekanan dari luar, dari sistem yang lebih besar, yang perlahan menggeser kehidupan mereka. Di sini, tradisi bukan lagi sekadar identitas, tapi juga bentuk perlawanan. Sementara modernitas nggak selalu datang sebagai kemajuan, tapi kadang sebagai ancaman.
Film ini jelas nggak memaksa kita memilih. Nggak bilang mana yang benar, mana yang salah. Film Para Perasuk hanya memperlihatkan, manusia bisa hidup di antara dua dunia itu dan mencari cara untuk tetap bertahan.
Dan saat semua ritual itu terjadi, saat tubuh-tubuh bergerak liar, saat dunia terasa nggak masuk akal, yang sebenarnya sedang kita lihat bukan sesuatu yang asing, tapi gambaran realita hidup yang terkadang tampak aneh tapi sebenarnya nyata.
Sudahkah Sobat Yoursay nonton Film Para Perasuk? Yuk, nonton sebelum turun layar! Selamat nonton ya.
Baca Juga
-
Merah Bara Biru Beku, Kupas Bahasa Warna dalam Film Kupilih Jalur Langit
-
Memaknai Simbol Lagu 'Cicak-Cicak di Dinding' dalam Film Ghost in the Cell
-
Film Ghost in the Cell: Horor Penjara yang Menampar Realita
-
Selepas Nadir Terukur
-
Antara Keberanian dan Shock Value: Kritik Atas Promosi Film Aku Harus Mati
Artikel Terkait
-
Perdana Tayang, Film Michael Raup 39,5 Juta Dolar di Box Office Domestik
-
Merah Bara Biru Beku, Kupas Bahasa Warna dalam Film Kupilih Jalur Langit
-
Ulasan Film Kupilih Jalur Langit: Kisah Nyata Viral yang Menguras Air Mata
-
Trailer Baru Sound! Euphonium, The Final Movie Part 2 Ungkap Jadwal Rilis
-
Dibintangi Andrew Garfield, Film The Uprising Siap Tayang September 2026
Ulasan
-
Merah Bara Biru Beku, Kupas Bahasa Warna dalam Film Kupilih Jalur Langit
-
Mengingat yang Dilupakan: Kisah Segara Alam dan Bayang-Bayang 1965
-
Mewarisi Kartini yang Mana? Membaca Ulang Jalan Menuju Terang
-
Jadi Ahli Bedah Toraks: Pesona Lee Jong-suk di Doctor Stranger
-
Ulasan Film Kupilih Jalur Langit: Kisah Nyata Viral yang Menguras Air Mata
Terkini
-
Kuota, Sinyal, dan Ketimpangan yang Tak Pernah Masuk Kebijakan
-
Hak atas Pendidikan dan Biaya Tersembunyi yang Melanggarnya
-
Kerja Keras, tapi Kurang Diakui: Nasib Perempuan di Dunia Profesional
-
Membongkar 'Biaya Siluman' Pendidikan: Dari Tingkat Sekolah hingga Kampus
-
Mahalnya Harga Pendidikan: Ketika Pengorbanan Menjadi Satu-satunya Jalan