Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Aku Sebelum Tiada (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Tak semua kisah mampu menembus sekat empati manusia. Namun, buku Sebelum Aku Tiada: Surat-Surat dari Gaza karya Asma Nadia yang diterbitan oleh KMO Indonesia pada Mei 2025, merupakan pengecualian yang mengguncang batin.

Buku ini tak sekadar kumpulan cerita, tapi juga rekaman luka, harapan, dan suara-suara yang nyaris hilang dari dunia yang terus bergerak tanpa menoleh.

Disusun dalam format epistolary, yakni kumpulan surat. Buku ini memuat 37 kisah yang ditulis seolah-olah berasal langsung dari para korban konflik di Gaza.

Tokoh-tokohnya bukan pahlawan besar dalam sejarah, melainkan manusia biasa: anak-anak, ayah, ibu, dan remaja yang hidupnya mendadak runtuh oleh peperangan. Ada Yusuf, Hayya, hingga sosok simbolik bernama Gaza. 

Isi Buku

Sejak halaman pertama, pembaca seperti diajak berjalan di antara puing-puing bangunan yang hancur. Tak ada jarak antara pembaca dan peristiwa; semuanya terasa dekat, bahkan terlalu dekat. Dalam salah satu surat, seorang suami yang baru dua bulan menikah menumpahkan perasaannya dari balik penjara.

Dalam surat lain, seorang ayah menulis untuk anaknya yang belum lahir, sambil memeluk tubuh istrinya yang telah dingin. Ada pula seorang gadis kecil yang tangannya gemetar saat menulis karena luka, tetapi tetap berusaha menyelesaikan suratnya.

Kekuatan buku ini terletak pada kesederhanaan sekaligus kedalaman emosinya. Surat-surat tersebut tidak ditulis dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan empati yang sunyi namun menghunjam. Harapan-harapan sederhana seperti ingin kembali ke sekolah, membaca buku, atau hidup bersama keluarga.

Menjadi terasa sangat mewah di tengah kehancuran. Di sinilah pembaca dipaksa berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari betapa beruntungnya kehidupan yang selama ini dijalani.

Jika pembantaian telah merenggut rumah, keluarga, bahkan nyawa kami, biarlah ada satu hal yang tidak bisa ia rebut. Suara kami.”

Demikian kira-kira pesan yang berulang dalam buku ini. Menulis menjadi bentuk perlawanan paling lembut, namun juga paling tajam. Kata-kata menjelma menjadi ruang terakhir bagi mereka untuk tetap hidup, setidaknya dalam ingatan.

Kelebihan dan Kekurangan

Secara naratif, Sebelum Aku Tiada: Surat-Surat dari Gaza berhasil mengaburkan batas antara fiksi dan realitas. Pembaca tidak lagi mempertanyakan apakah kisah ini benar-benar terjadi, karena emosi yang ditimbulkan terasa terlalu nyata untuk diabaikan.

Setiap halaman seperti surat pribadi yang dikirim langsung kepada pembaca dan saat membukanya, tak ada jalan untuk kembali menjadi acuh.

Lebih dari sekadar karya sastra, buku ini juga membawa misi kemanusiaan. Seluruh royalti penjualannya disumbangkan untuk Palestina, menjadikannya bukan hanya bacaan, tetapi juga aksi nyata solidaritas. Ini memperkuat pesan bahwa empati tidak berhenti pada perasaan, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan.

Namun, membaca buku ini bukan pengalaman yang ringan. Diperlukan hati yang lapang atau setidaknya kesiapan mental untuk menyelami setiap kisahnya. Rasa sesak, marah, dan sedih akan datang silih berganti. Tetapi justru di situlah letak pentingnya: buku ini mengingatkan bahwa kita masih manusia, masih memiliki nurani.

Pada akhirnya, Sebelum Aku Tiada bukanlah cerita tentang perang semata. Ini adalah cerita tentang manusia. Tentang kehilangan, harapan, dan keberpihakan.

Tentang bagaimana suara-suara yang nyaris padam tetap bisa hidup melalui kata-kata. Dan setelah halaman terakhir ditutup, satu hal menjadi jelas: mereka mungkin telah tiada, tetapi kisah mereka akan terus hidup selama kita tidak memilih untuk melupakan.

Identitas Buku

  • Judul: Sebelum Aku Tiada: Surat-Surat dari Gaza
  • Penulis: Asma Nadia
  • Penerbit: KMO Indonesia
  • Tahun Terbit: Mei 2025
  • ISBN: 978-634-7425-18-8
  • Tebal: 177 Halaman
  • Genre: Fiksi Kemanusiaan/Sosial