Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Guru Gokil Murid Unyu (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Bagi orang yang menekuni jurusan pendidikan, buku ini tentu menarik atensi saya sejak pertama kali melihatnya. Buku Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Berisi refleksi segar di tengah persoalan pendidikan yang kerap terjebak pada angka dan formalitas. Alih-alih berbicara tentang kurikulum kaku atau strategi mengajar yang teknis, buku ini justru mengajak pembaca melihat pendidikan dari sisi yang lebih manusiawi.

Relasi antara guru dan murid sebagai proses membentuk jiwa, bukan sekadar mengisi kepala. Sumardianta, yang akrab disapa “Pak Guru”, menulis berdasarkan pengalaman panjangnya sebagai pendidik. Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup.

Isi Buku

Melalui 36 esai yang terbagi dalam enam bab, ia merangkai kisah, refleksi, dan kritik terhadap sistem pendidikan yang sering kali melupakan esensi utama: memanusiakan manusia.

Salah satu gagasan kunci dalam buku ini adalah konsep “guru gokil” dan “murid unyu”. Istilah ini memang terdengar ringan, bahkan jenaka, tetapi menyimpan makna yang dalam.

Guru “gokil” bukan berarti eksentrik tanpa arah, melainkan sosok yang berani keluar dari zona nyaman, terus belajar, dan mampu memahami kompleksitas karakter murid. Ia tidak hanya melihat murid dari sisi akademik, tetapi juga memahami luka, potensi, dan pergulatan batin mereka.

Sebaliknya, murid “unyu” bukan sekadar lucu atau menggemaskan. Istilah ini merujuk pada murid yang memiliki arah hidup, karakter kuat, serta visi yang jelas. Menurut Sumardianta, murid seperti ini lahir bukan dari sistem yang kaku, tetapi dari sentuhan guru yang inspiratif.

Ia menegaskan bahwa murid alay yang terjebak tren dan kehilangan arah, sering kali merupakan hasil dari guru lebay, yaitu pendidik yang lebih sibuk dengan simbol dan otoritas dibandingkan memberi makna.

Buku ini juga mengkritik keras model pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Dalam model ini, guru menjadi pusat segalanya: berbicara sepanjang waktu, menentukan ritme belajar, dan memaksakan gaya mengajar yang sama kepada semua murid.

Akibatnya, murid hanya menjadi penerima pasif, kehilangan kesempatan untuk berpikir kritis dan mengeksplorasi diri.

Kelebihan dan Kekurangan

Sumardianta menawarkan pendekatan berbeda: participant-centered learning, di mana murid menjadi pusat pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi “penyuap” informasi, melainkan fasilitator yang membantu murid menemukan pemahaman mereka sendiri.

Dalam pendekatan ini, guru dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, memahami daripada menghakimi, dan membimbing daripada mendikte.

Menariknya, buku ini juga membedakan beberapa tipe guru. Ada guru medioker yang hanya menjalankan rutinitas mengajar, guru superior yang menonjolkan otoritas, guru terpuji yang mampu menjelaskan materi dengan sederhana, hingga guru hebat yang mampu menginspirasi.

Di antara semua tipe tersebut, guru hebat adalah yang paling ideal. Mereka yang tidak hanya mengajar, tetapi menyalakan semangat belajar dalam diri murid.

Sumardianta menekankan bahwa masalah utama pendidikan bukan sekadar kurikulum atau kesejahteraan guru, melainkan spirit. Tanpa semangat dan keteladanan, pendidikan akan kehilangan maknanya.

Murid mungkin lupa rumus atau teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana seorang guru membuat mereka merasa dihargai, didengar, dan dimengerti.

Pesan Moral

Buku ini juga menyoroti pentingnya komunikasi. Hubungan yang baik antara guru dan murid menjadi fondasi bagi proses belajar yang efektif. Murid akan lebih mudah memahami pelajaran jika mereka merasa aman secara emosional dan terhubung dengan gurunya. Di sinilah peran guru sebagai “pendengar yang baik” menjadi sangat penting.

Setiap esai biasanya diawali dengan kutipan inspiratif, dilanjutkan cerita pengalaman, dan ditutup dengan refleksi serta tips praktis. 

Guru Gokil Murid Unyu mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal mencetak siswa pintar, tetapi membentuk manusia yang utuh. Di tengah generasi muda sering disebut “alay” karena dangkal dan instan, guru dituntut untuk menjadi “kapal selam”: menyelam ke kedalaman makna, bukan sekadar melaju di permukaan.

Buku ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk siapa saja yang peduli pada masa depan pendidikan. Sebab, perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan, tetapi dari satu guru yang memilih untuk benar-benar peduli.

Identitas Buku

  • Judul: Guru Gokil Murid Unyu
  • Penulis: J. Sumardianta
  • Penerbit: Bentang Pustaka 
  • Tahun Terbit: 2013 
  • ISBN: 978-602-7888-13-5
  • Tebal: 316 Halaman