M. Reza Sulaiman | Fifi Farikhatul Munfaridah
cover novel Kubah karya Ahmad Tohari (instagram/bukukunokini)
Fifi Farikhatul Munfaridah

Nama Ahmad Tohari pasti tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, terutama penggiat literasi. Penulis kelahiran 13 Juni 1948 ini telah sukses menghasilkan karya-karya dengan balutan kebudayaan dan sejarah. Salah satu buku Ahmad Tohari yang populer adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel tersebut pertama kali terbit pada 1982 dan telah diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari pada 2011 lalu.

Tidak hanya Ronggeng Dukuh Paruk, novel Kubah juga menjadi salah satu karya Ahmad Tohari yang legendaris hingga sekarang. Novel ini mengangkat kisah seorang rakyat miskin yang terbawa arus gejolak politik pada masa itu. Kubah memberi gambaran bagaimana politik berpengaruh pada masyarakat kecil, terutama masyarakat desa yang taat.

Mengambil latar di sebuah daerah bernama Pagetan, novel Kubah berkisah tentang Karman, seorang anak dari keluarga mantri yang hidup sederhana. Karman memiliki jiwa pekerja keras; ia rela bekerja pada keluarga Haji Bakir demi sesuap nasi yang pada masa itu masih mahal harganya. Kesederhanaan Karman membuat dirinya selalu menerima keadaan dan taat menjalankan ajaran agama.

Sampai ketika Karman menginjak dewasa, dirinya justru masuk dalam perangkap perekrutan kader Partai Komunis Indonesia. Hal itu membuat diri Karman mulai berubah dan menyimpang dari ajaran-ajaran yang dianutnya sejak kecil. Karman pun tidak menyadari dirinya telah masuk dalam gejolak besar partai politik, sampai kejadian 30 September 1965 meletus. Tragedi tersebut membuat Karman sadar bahwa keputusan yang ia ambil adalah sebuah kesalahan. Kejadian tersebut memaksa Karman menjadi seorang buronan politik.

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup sebagai upaya penebusan dosa, pencarian kembali jati diri yang telah hilang, dan sebuah penerimaan. Bagaimana setiap keputusan dalam hidup harus dipikirkan baik-baik agar tidak terjerat pada arus negatif. Melalui novel Kubah, pembaca dapat belajar banyak hal mulai dari keyakinan, tipu muslihat, hingga kebaikan tulus.

Penggunaan sudut pandang Karman sebagai eks anggota komunis membuat pembawaan karakternya begitu kuat. Gejolak emosi dan ideologi dalam diri karakter Karman menjadi salah satu sumber konflik cerita. Novel Kubah dibawakan dengan bahasa sederhana, tidak berbelit-belit, ringkas, dan mudah dipahami. Alurnya pun cenderung cepat.

Selain itu, novel ini menggambarkan ketakutan dan kegelisahan yang dialami oleh seorang mantan kader partai. Ketakutan tersebut muncul ketika Karman khawatir lingkungan Pagetan—masyarakat yang sempat ia khianati—tidak mau menerimanya lagi. Utamanya keluarga yang terpaksa Karman tinggalkan selama 12 tahun di pengasingan Pulau Baru. Namun, Karman salah besar.

Ternyata masyarakat desa Pagetan, termasuk keluarganya, masih mau menerima Karman dengan baik. Di sinilah titik balik kehidupan Karman. Ia bahkan dipercaya membangun sebuah kubah di masjid Haji Bakir, seorang alim yang pernah ia benci semasa menjadi kader partai. Karman kembali menemukan cinta dan keyakinan yang sempat hilang dalam dirinya.

Sampul novel Kubah karya Ahmad Tohari edisi terbaru didominasi warna biru dengan simbol kubah di atasnya. Balutan kesederhanaan dalam sampul ini menambah daya tarik bagi pembaca.

Bagi kamu yang suka membaca novel fiksi dengan sentuhan sejarah, khususnya tragedi 30 September 1965 dan dampaknya, novel Kubah dapat menjadi salah satu pilihan. Novel dengan 216 halaman ini cocok dibaca dalam sekali duduk. Sebelum membaca, simak detailnya berikut ini:

  • Judul: Kubah
  • Karya: Ahmad Tohari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 216 halaman
  • Tahun Terbit: 2012 (Cetakan keempat)