Siapa yang menyangka bahwa sosok Buya Hamka adalah penulis novel yang fenomenal. Namanya seolah lebih cocok bertengger di buku serius setebal 1.000 halaman yang membuat pelajar menguap tiap 5 menit sekali.
Setelah dibuat menangis hingga mata bengkak, Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tetap menyisakan kesan mendalam. Semua percakapan, alur, dan suasana begitu puitis dan romantis. Buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka karya Rusydi Hamka menghadirkan potret intim sekaligus reflektif tentang sosok Hamka. Ulama, sastrawan, dan cendekiawan besar Indonesia.
Tidak sekadar biografi formal, buku ini adalah kumpulan kenangan personal seorang anak terhadap ayahnya, yang dirangkai dengan kehangatan, kejujuran, dan kekaguman yang tulus.
Isi Buku
Pembaca diajak melihat Hamka bukan hanya sebagai tokoh publik, tetapi juga sebagai manusia dengan prinsip, luka, dan kelapangan hati yang luar biasa. Salah satu kisah paling menggetarkan dalam buku ini adalah ketika Hamka memenuhi wasiat Sukarno untuk menjadi imam dalam salat jenazahnya. Peristiwa ini menjadi simbol puncak kemuliaan akhlak Hamka.
Pasalnya, di masa Demokrasi Terpimpin, ia pernah dipenjara akibat tuduhan subversif. Sebuah keputusan politik yang juga terkait dengan kekuasaan Sukarno. Namun, alih-alih menyimpan dendam, Hamka justru memaafkan dan menjalankan amanah terakhir tersebut dengan penuh keikhlasan. Di sinilah martabat seorang tokoh diuji: bukan saat ia dipuji, tetapi saat ia disakiti.
Menariknya, masa tahanan yang pahit justru menjadi ruang produktif bagi Hamka. Di balik jeruji, ia menuntaskan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar, yang terdiri dari sembilan jilid dan hingga kini menjadi rujukan penting dalam kajian keislaman di Indonesia.
Buku ini juga mengisahkan kelapangan hati Hamka dalam menghadapi kritik dan fitnah, termasuk dari Pramoedya Ananta Toer. Tuduhan plagiarisme terhadap karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sempat mencuat, terutama dari kalangan Lekra.
Namun, Hamka memilih tidak membalas. Bahkan, dalam satu kisah, ia membantu seorang pemuda masuk Islam tanpa mempermasalahkan latar belakang keluarga yang justru pernah menyerangnya. Sikap ini menegaskan bahwa bagi Hamka, kemanusiaan dan dakwah lebih penting daripada ego pribadi.
Melalui penuturan Rusydi, kita juga melihat sisi lain Hamka sebagai ayah dan manusia sehari-hari. Ia dikenal gemar berbagi cerita masa kecil, penuh dengan pengalaman pahit dan perjuangan.
Didikan keras dari ayahnya, Abdul Karim Amrullah, membentuk karakter Hamka menjadi pribadi yang tangguh dan haus ilmu. Meski tidak menempuh pendidikan formal tinggi, ia membuktikan bahwa semangat belajar bisa melampaui batas institusi.
Kecintaan Hamka terhadap ilmu membawanya merantau hingga ke Timur Tengah, memperkaya wawasan keislaman dan intelektualnya. Sepulangnya ke Indonesia, ia tidak hanya berdakwah, tetapi juga menulis dengan produktif.
Tercatat, lebih dari seratus karya lahir dari tangannya. Mulai dari roman, esai, hingga buku keagamaan. Kemampuannya berpantun secara spontan juga menjadi bukti kepekaan estetika dan kedalaman refleksinya terhadap kehidupan.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini menghadirkan sosok yang manusiawi yang pernah terluka, tetapi memilih memaafkan; yang pernah ditindas, tetapi tetap berkarya; yang hidup sederhana, tetapi berpikir besar. Inilah yang membuat Hamka tetap relevan hingga hari ini.
Namun seperti halnya buku biografi, buku ini tentu sangat subjektif. Lebih dari sekadar mengenang, “Pribadi dan Martabat Buya Hamka” mengajak pembaca untuk bercermin. Di tengah zaman yang sering kali penuh polarisasi, sikap saling menyerang, dan krisis keteladanan, nilai-nilai yang ditunjukkan Hamka terasa semakin penting: keikhlasan, keberanian moral, dan keluasan hati.
Buku ini adalah pengingat bahwa kebesaran seseorang tidak hanya diukur dari pencapaiannya, tetapi dari cara ia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang pernah menyakitinya. Dan dalam hal itu, Hamka telah menunjukkan standar yang tinggi: menjadi besar tanpa kehilangan kemanusiaan.
Identitas Buku
- Judul: Pribadi & Martabat Buya Hamka
- Penulis: H. Rusydi Hamka
- Penerbit: Mizan Publika
- Tahun Terbit: 2018
- ISBN: 9786023855827
- Tebal: 404 Halaman
- Kategori: Biografi
Baca Juga
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Krisis 1998 dan Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
-
Menemukan Pulang di Tengah Keramaian Jalan Margonda dalam Buku Zhitara
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
Artikel Terkait
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu
-
Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram, Plato hingga Al-Ghazali: Bedah Buku Filsafat Kebahagiaan
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Resensi Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga: Warisan Revolusi Oktober 1917.
-
Suara dari Tanah Buangan: Menguak Memoar Pulau Buru dalam Sejarah Indonesia
Ulasan
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Obsesi Viral: Bagaimana Film Baru Warkop DKI Menyentil Fenomena 'Haus Validasi' di Medsos?
-
Review The Wizard of Oz: Dongeng Klasik tentang Perjalanan Menemukan Diri
-
Menemukan Pulang di Tengah Keramaian Jalan Margonda dalam Buku Zhitara
-
Ulasan Gintama: Yoshiwara in Flames, Aksi Spektakuler Tsukuyo dan Gintoki
Terkini
-
Pilih HP POCO X8 Pro atau Infinix GT 50 Pro? Inilah Perbandingan Detailnya
-
Piala Dunia 2026: Genderang Perang Sudah Ditabuh, namun Dunia Tak Lagi Menyambut Riuh
-
ARTJOG 2026 Angkat Tema Regenerasi, Hadirkan Ruang Bertemunya Beragam Generasi dalam Dunia Seni
-
Masih Hangat, Tecno Pova 8 Resmi Meluncur 11 Juni: Usung Alive Matrix Display dan Dimensity 7100
-
Tinggalkan Dunia Hiburan, Aktor Ahn Chang Hyun Pilih Jadi Pemadam Kebakaran