Film horor Korea Selatan kembali menunjukkan taringnya di tahun 2026 melalui karya sutradara Lee Sang-min yang berjudul Salmokji: Whispering Water. Mengambil latar di lokasi nyata, yakni Waduk Salmokji di Provinsi Chungcheong Selatan, film ini berhasil membawaku ke dalam atmosfer yang menyesakkan, di mana air bukan lagi simbol kehidupan, melainkan pintu menuju kematian. Filmnya sendiri berdurasi 95 menit, dibintangi Kim Hye-yoon sebagai Su-in, Lee Jong-won, Kim Jun-han, dan lainnya.
Buat kamu pencinta horor, tenang saja Salmokji: Whispering Water dijadwalkan tayang serentak di bioskop-bioskop Indonesia (seperti CGV dan Cinepolis) mulai 1 Mei 2026. Film ini hadir hanya berselang beberapa minggu setelah rilis perdananya di Korea Selatan pada 8 April 2026.
Perjuangan Bertahan Hidup di Ambang Air
Kisah berfokus pada sekelompok tim produksi film yang dipimpin oleh Soo-in (Kim Hye-yoon). Mereka memiliki tugas yang terdengar sepele akan tetapi sangat teknis: melakukan pengambilan gambar ulang (reshoot) di sebuah waduk terpencil untuk kebutuhan pemetaan jalan digital (street view). Masalah muncul ketika rekaman sebelumnya menunjukkan distorsi visual yang aneh dan penampakan sosok misterius yang tertangkap kamera secara tidak sengaja.
Seiring penyelidikan berlangsung, Soo-in bersama mantan kekasihnya, Ki-tae (Lee Jong-won), dan tim lainnya mulai menyadari bahwa kegagalan teknis tersebut bukanlah masalah software, melainkan peringatan dari sesuatu yang terkubur di dasar waduk. Satu per satu anggota kru mulai mengalami fenomena supranatural, mulai dari suara bisikan yang seolah memanggil nama mereka dari tengah air, hingga hilangnya rekan kerja secara misterius.
Salah satu kekuatan utama Salmokji adalah kemampuannya membangun ketegangan secara perlahan (slow burn). Alih-alih mengandalkan jump scare murahan setiap lima menit, Lee Sang-min lebih memilih untuk menyiksaku dengan rasa was-was. Waduk Salmokji digambarkan sebagai karakter tersendiri—luas, gelap, dan tak terduga.
Review Film Salmokji: Whispering Water
Akting Kim Hye-yoon patut aku acungi jempol, sih. Ia berhasil memerankan sosok sutradara muda yang ambisius namun menyimpan trauma mendalam terhadap air. Transformasi emosinya dari seorang skeptis menjadi seseorang yang lumpuh karena ketakutan terasa sangat organik. Sementara itu, Jang Da-ah yang berperan sebagai Se-jeong (seorang vlogger yang haus konten) memberikan dinamika modern pada cerita, menunjukkan bagaimana obsesi manusia terhadap viralitas bisa berujung fatal.
Jika harus memilih ada satu momen yang akan membuatmu sulit tidur ketika nonton filmnya, adegannya di pertengahan film saat kru mencoba menggunakan drone bawah air. Saat kamera drone menangkap gambar di dasar waduk yang berlumpur, mereka melihat tumpukan pakaian yang tampak seperti milik rekan mereka yang hilang.
Tetapi, saat kamera diputar balik, monitor tiba-tiba mati dan hanya menyisakan refleksi wajah Soo-in di layar. Tak lama kemudian, dari permukaan air yang tenang di dekat dermaga kayu, muncul ribuan helai rambut hitam yang perlahan-lahan membungkus kaki salah satu kru, lalu menyeretnya masuk ke dalam air tanpa suara sedikit pun. Keheningan dalam adegan ini jauh lebih mengerikan daripada suara teriakan mana pun.
Salmokji: Whispering Water adalah film horor yang solid bagi mereka yang menyukai misteri berbalut legenda urban. Meskipun memiliki beberapa kiasan horor klasik seperti hantu air atau tempat terkutuk, eksekusi visual dan audionya terutama suara bisikan air yang menjadi judul film ini sangat efektif membuat bulu kudukku berdiri.
Kelebihan film ini adalah atmosfer lokasi yang sangat mencekam dan nyata. Terlebih pada penampilan akting yang emosional dari jajaran pemain muda. Sinematografi juga apik, memanfaatkan kontras antara teknologi kamera modern dan kegelapan alam. Kekurangannya sih cuma ada beberapa plot sampingan tentang sejarah waduk terasa sedikit terburu-buru di bagian akhir. Itu aja sih kalau menurutku.
Nah, kalau kamu menyukai film seperti The Ring atau Gonjiam: Haunted Asylum, pastikan kamu mengosongkan jadwal untuk menontonnya ya! Ingat, jangan pernah menjawab kalau kamu mendengar seseorang yang memanggil namamu di dekat air yang tenang.
Baca Juga
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu
-
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
-
Tom yang Bermimpi Melawan Gurita Raksasa
-
Little Aresha: Saat Bisnis Penitipan Anak Berubah Jadi Neraka Bagi Balita
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Lagu Lomba Sihir!: MV Nyeleneh yang Ajak Kita Kalahkan Dunia
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Saat Crush Mengetahui Rahasia Terbesarmu dalam Web Series To Two
-
Novel Kotak-Kotak Ingatan: Kotak yang Tak Pernah Benar-Benar Terkunci
-
Drama Korea Live On: Di Balik Sorotan, Ada Sisi yang Tidak Ingin Terlihat
Terkini
-
Sinopsis Born with Luck, Drama Kriminal Terbaru Lawrence Wang di iQIYI
-
5 Cushion Lokal dengan Niacinamide: Cerah dan Flawless Seharian
-
MacBook Air M4 13 Inci: Laptop Tipis dengan Tenaga yang Tak Terduga
-
May Day Vibes: Kerja Jalan, Harga Naik, Pekerja Perempuan Makin Overthinking
-
5 Rekomendasi Micellar Water Buat Remaja: Aman di Kulit, Pas di Kantong!