Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
Buku Self-Talk Journal (doc.pribadi/Sherly Azizah)
Sherly Azizah

Pernah nggak sih, kalian ngerasa isi kepala itu kayak pasar malam? Ramai, berisik, tumpang tindih, tapi nggak ada satu pun suara yang benar-benar bisa kita pegang. Sebagai generasi yang tumbuh besar dengan tuntutan fast-paced, kita sering kali dipaksa buat selalu "tampil" keluar. Kita sibuk dandanin profil media sosial, sibuk cari validasi lewat jumlah likes, sampai lupa kalau ada satu orang yang paling butuh didengar, tapi malah sering kita cuekin: diri kita sendiri.

Jujur, ekspektasi awal saya waktu memegang buku Self-Talk Journal karya Olivia ini adalah "Ah, paling isinya kata-kata motivasi toxic positivity yang menyuruh kita buat tersenyum meski dunia lagi runtuh." Ternyata, saya salah besar. Kesan pertama saat membuka lembaran cetakan keempat tahun 2025 dari Penerbitkita ini justru terasa seperti masuk ke ruang kedap suara yang tenang. Desainnya nggak intimidatif, tapi seolah-olah dia berbisik, "Sini, duduk bentar. Kita ngobrol, yuk?"

Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Sebuah Perjalanan

Self-Talk Journal ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai buku kerja atau panduan refleksi. Isinya didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan pemantik yang memaksa kita buat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Di tengah fenomena burnout dan krisis identitas yang makin lazim dialami anak muda zaman sekarang, buku ini jadi relevan banget. Kita sering kali lebih paham isi pikiran influencer favorit kita daripada isi hati sendiri. Buku ini hadir buat menjembatani jurang komunikasi antara "aku yang terlihat" dan "aku yang sebenarnya."

Secara garis besar, buku setebal 208 halaman ini nggak punya plot layaknya novel fiksi. Namun, ada narasi besar yang dibangun: sebuah perjalanan dari luar ke dalam. Konflik utamanya bukan melawan tokoh antagonis, melainkan melawan penyangkalan-penyangkalan yang sering kita buat untuk melindungi ego kita. Isunya sederhana tapi dalam, yaitu tentang kesehatan mental, penerimaan diri, dan bagaimana proses healing itu sebenarnya bermula dari percakapan jujur dengan diri sendiri.

Pas saya mulai mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalamnya, rasanya tuh "jleb" banget. Ada pertanyaan yang kelihatannya simpel, tapi bikin saya diam selama sepuluh menit cuma buat mencari jawabannya. Di sinilah kekuatan naratif Olivia bekerja. Dia nggak menggurui lewat teori psikologi yang berat. Gaya bahasanya santai, mengalir, dan sangat "anak muda banget" tanpa kehilangan esensi kedalamannya.

Secara emosional, membaca (dan mengisi) buku ini rasanya kayak lagi sesi curhat sama sahabat yang paling pengertian, tapi juga paling jujur. Dia nggak cuma validasi perasaan kita, tapi juga pelan-pelan menantang kita buat melihat pola pikir yang selama ini mungkin malah merusak diri sendiri. Gaya penceritaan yang interaktif ini membuat saya nggak merasa jadi penonton pasif, tapi justru jadi "pemeran utama" dalam proses penyembuhan diri sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah user-experience-nya yang sangat nyaman. Penyuntingan oleh Finaang membuat transisi antar pertanyaan terasa logis dan tidak melompat-lompat. Pertanyaannya didesain sedemikian rupa sehingga kita merasa sedang mengupas lapisan bawang; mulai dari yang ringan sampai ke inti masalah. Selain itu, fisik bukunya yang cukup ringkas membuatnya mudah dibawa ke mana-mana, cocok buat kaum yang hobi deep talk di coffee shop.

Namun, kalau harus mencari kekurangannya, bagi sebagian orang yang mungkin mencari buku teori pengembangan diri yang padat data atau riset ilmiah, buku ini mungkin terasa terlalu "ringan." Ini murni buku praktis. Jika kalian nggak punya niat untuk benar-benar menulis dan menjawab pertanyaannya, buku ini hanya akan berakhir jadi pajangan estetik di rak buku. Efektivitas buku ini 100 persen bergantung pada kejujuran pembacanya.

Karena Healing Berawal dari Mendengarkan

Setelah menutup halaman terakhir, ada satu kesan yang tertinggal kuat: healing happens when you start listening to yourself. Selama ini kita mungkin sibuk cari obat di luar—entah itu belanja, scrolling tanpa henti, atau liburan—padahal luka-lukanya ada di dalam dan cuma butuh diakui keberadaannya.

Buku ini cocok banget buat kalian yang merasa lagi kehilangan arah, yang merasa hidupnya flat, atau sekadar buat kamu yang pengen lebih kenal sama sosok di balik cermin. Self-Talk Journal adalah undangan untuk berdamai dengan diri sendiri. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu bicara dan bersuara, buku ini justru mengajak kita untuk diam dan mendengarkan. Dan ternyata, suara yang paling merdu itu adalah suara diri kita sendiri yang akhirnya menemukan keberanian untuk jujur.

Identitas Karya

Judul: Self-Talk Journal
Penulis: Olivia
Penyunting: Finaang
Penerbit: Penerbitkita (Cetakan IV, 2025)
Jumlah Halaman: 208 halaman