Aku masih ingat betul malam itu di Madinah, udara hangat yang lembut, langkah kaki yang sedikit terburu, dan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Pukul 10 malam kantukku sepenuhnya hilang.
Tujuanku mengunjungi Masjid Quba, sebuah tempat yang sejak lama hanya kukenal dari cerita dan kitab, kini terbentang nyata di hadapanku.
Masjid Quba yang terkenal antre dan berdesakan jamaah hanya untuk salat, malam itu sepi. Aku merasa menjadi tamu eksklusif karena bisa masuk tanpa mengantre dan tanpa perlu terburu-buru. Tidak ada waktu yang dibatasi, atau ngantre salat. Malam itu, aku bisa sedikit lebih lama mendekam di dalam masjid.
Dari Tanah Sederhana Menuju Peradaban Besar
Perjalanan dimulai dari Masjid Nabawi. Jaraknya sekitar 4–5 kilometer ke arah selatan, cukup dekat namun terasa istimewa. Aku memilih menaiki golf car, kendaraan kecil yang memang disediakan bagi peziarah dengan tarif sekitar 10 riyal. Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang pada satu hal. Ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan perjalanan menyusuri jejak awal peradaban Islam.
Sesampainya di pelataran masjid, aku tertegun. Bangunannya megah, bersih, dan tertata rapi, dengan empat menara menjulang dan puluhan kubah yang memantulkan cahaya matahari.
Sulit membayangkan bahwa di tempat inilah, lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah SAW bersama para sahabat membangun masjid pertama dalam sejarah Islam. Tepatnya pada 8 Rabiul Awwal tahun 622 M, di atas tanah milik keluarga Bani Amr bin Auf.
Kisah Sunyi yang Menyimpan Pahala Setara Umrah
Aku melangkah masuk dengan hati-hati, setelah memastikan diri telah berwudhu sejak dari penginapan. Ada satu hadis yang terus terngiang dalam benakku: siapa yang bersuci di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan salat di dalamnya, maka pahalanya setara dengan umrah. Keyakinan itu membuat setiap gerak terasa lebih bermakna, setiap langkah seakan memiliki tujuan spiritual yang dalam.
Di dalam masjid, suasana terasa tenang meski dipenuhi jemaah dari berbagai penjuru dunia. Aku mencari tempat, lalu menunaikan salat dua rakaat. Dalam sujud, ada rasa haru yang sulit ditahan, sebuah kesadaran bahwa aku sedang berada di tempat yang dimuliakan.
Bahkan disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah At-Taubah ayat 108 sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa. Tak heran jika Masjid Quba juga dikenal dengan julukan Masjid At-Taqwa.
Jejak Besar Peradaban Islam
Aku duduk sejenak setelah salat, memperhatikan sekeliling. Masjid ini kini mampu menampung hingga 66.000 jemaah, menjadikannya salah satu pusat ibadah penting di Madinah.
Namun, di balik kemegahan itu, nilai sejarahnya tetap terasa kuat. Di sinilah Rasulullah SAW memulai fondasi kehidupan umat Islam setelah hijrah dari Makkah.
Yang menarik, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid ini, tetapi juga rutin mengunjunginya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau sering datang setiap hari Sabtu, bahkan juga pada hari Senin dan Kamis. Membayangkan kebiasaan itu membuatku merasa lebih dekat, seolah-olah perjalanan ini bukan sekadar ziarah, melainkan upaya meneladani.
Di luar masjid, aku berjalan perlahan menyusuri area sekitarnya. Nama “Quba” sendiri ternyata berasal dari nama kampung tempat masjid ini berdiri.
Sebuah wilayah yang dahulu merupakan pemukiman dan sumur milik Bani Amr bin Auf. Kini, tempat itu telah berubah menjadi kawasan yang ramai, namun tetap menyimpan aura kesederhanaan yang khas.
Menyentuh Titik Nol Peradaban Islam
Perjalanan ke Masjid Quba memberiku pemahaman baru: bahwa sebuah tempat bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang makna yang dikandungnya. Di sini, aku belajar bahwa ketakwaan bukan sekadar konsep, melainkan sesuatu yang dibangun dengan niat, dengan usaha, dan dengan kebersamaan, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Saat kembali ke Masjid Nabawi, hatiku terasa lebih ringan, namun juga penuh. Ada rasa syukur karena telah sampai, sekaligus kesadaran bahwa perjalanan spiritual seperti ini tidak berhenti di satu tempat.
Masjid Quba telah mengajarkanku satu hal penting: bahwa langkah kecil, jika dilandasi takwa, bisa menjadi awal dari perubahan besar.
Baca Juga
-
Sawit Melimpah, Minyak Mahal: Ada Apa dengan Logika Kita?
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Batas Tipis Antara Kedekatan dan Pelampiasan: Kapan Orang Tua Harus Berhenti Curhat pada Anak?
-
Aku Mencintaimu, Maka Aku Melepasmu: Penutup dari Novel Rapture
-
Ironi Cinta dalam Buku Passion: Mencintaimu dalam Setiap Ruang dan Waktu
Artikel Terkait
-
Jalur Haji Syam: Rute Legendaris dari Damaskus ke Madinah yang Sarat Makna Spiritual
-
Awali Musim Haji 2026, Kloter Pertama Masuki Asrama Pondok Gede
-
Mengunjungi Jabal Uhud: Tempat Singa Allah Beristirahat Abadi
-
Viral Isi Takjil di Masjid Nabawi Ada Uang 100 US Dollar, Fakta atau Hoaks?
-
Arab Saudi Gencar Tawarkan Mekah ke Investor Global, Harga Tanah Capai Rp1,4 Miliar per Meter
Ulasan
-
Review Jujur dari Buku Kisah Kota Kita: Merawat Kota, Merawat Rasa
-
Menyembuhkan Rasa, Kerentanan dan Mimpi dalam Buku Puisi Pelesir Mimpi
-
Drama Korea Karma: Jalinan Dosa, Rahasia, dan Takdir yang Sulit Dihindari
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Buku 'Rumah Baru dan Hal-Hal Baru', Makna Besar tentang Rumah dan Masa Lalu
Terkini
-
Usul Pindah Gerbong: Mengapa Pernyataan Menteri PPPA Memicu Amarah Publik?
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
-
Sawit Melimpah, Minyak Mahal: Ada Apa dengan Logika Kita?