Membaca Kisah Kota Kita untuk pertama kalinya terasa seperti membuka jendela baru terhadap sesuatu yang selama ini saya anggap biasa. Kota yang sehari-hari saya lalui dengan terburu-buru, tiba-tiba menjelma menjadi ruang yang hidup, bernapas, bahkan memiliki perasaan.
Ada semacam kejutan kecil yang pelan-pelan tumbuh menjadi rasa takjub, bagaimana mungkin sebuah taman bisa merasa sepi, atau tiang listrik bisa marah karena diperlakukan semena-mena? Dari situlah buku ini mulai bekerja, menggeser cara pandang saya tanpa terasa.
Buku karya DK. Wardhani dan Watiek Ideo ini menghadirkan sepuluh cerita yang masing-masing berdiri sendiri, namun terikat dalam satu benang merah, yaitu kehidupan kota dari sudut pandang yang tidak biasa.
Dalam cerita seperti Taman Cahaya, pembaca diajak merasakan kerinduan sebuah taman yang dulu ramai, lalu perlahan dilupakan. Sementara dalam cerita dengan tajuk Poster Heboh, benda-benda kota seperti pohon dan tembok seakan menjerit karena tubuh mereka dipenuhi tempelan poster tanpa etika.
Ada pula Toko Merah, yang menjadi salah satu favorit saya, karena menyentuh perasaan tentang bangunan tua yang perlahan kehilangan perhatian.
Yang membuat buku ini istimewa bukan hanya ide ceritanya yang segar, tetapi juga keberaniannya mengajak pembaca, terutama anak-anak, untuk berdiri di tempat pijakan yang lain. Bukan sekadar manusia, melainkan benda-benda di sekitar kita. Pendekatan ini sederhana, tetapi kuat. Ia mengajarkan empati dengan cara yang halus, tanpa menggurui.
Selain cerita, buku ini juga dilengkapi dengan peta jelajah kota dan bagian Fakta Kota yang berfungsi seperti mini ensiklopedia. Di sini, anak-anak dikenalkan pada konsep-konsep seperti taman kota, jembatan, saluran air, hingga biopori. Semua disajikan dengan bahasa ringan dan ilustrasi yang memikat. Ilustrasinya juga menjadi daya tarik tersendiri, berwarna, ekspresif, dan mampu menghidupkan setiap elemen kota menjadi karakter yang mudah diingat.
Dari segi relevansi, buku ini terasa sangat dekat dengan kehidupan saat ini. Di tengah pesatnya pembangunan kota dan berbagai persoalan urban seperti sampah, ruang hijau yang menyusut, hingga kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, Kisah Kota Kita hadir sebagai pengingat yang lembut. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak. Tidak memaksa, tetapi menyadarkan. Bahwa kota yang nyaman bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga warganya, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus.
Namun, buku ini bukan tanpa kekurangan. Dalam beberapa cerita, alur komunikasi terasa sedikit membingungkan, terutama ketika sudut pandang tokohnya tidak langsung jelas. Hal ini bisa menjadi tantangan saat membacakan cerita kepada anak, sehingga terkadang perlu improvisasi agar pesan tetap tersampaikan dengan baik.
Selain itu, ketebalan buku yang mencapai 180 halaman mungkin terasa cukup berat untuk ukuran buku anak, meski sebanding dengan kekayaan isi yang ditawarkan.
Terlepas dari itu, kelebihan buku ini jauh lebih menonjol. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa. Buku ini berhasil menjadikan kota bukan sekadar latar, melainkan tokoh utama yang layak dicintai dan dijaga.
Pendek kata, Kisah Kota Kita adalah undangan untuk melihat lebih dekat, merasakan lebih dalam, dan mencintai lebih tulus tempat kita tinggal. Karena kota, pada dasarnya, adalah cerminan dari bagaimana kita memperlakukannya.
Identitas Buku
- Judul: Kisah Kota Kita
- Penulis: DK. Wardhani & Watiek Ideo
- Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
- Cetakan: I, Agustus 2014
- Tebal: 180 Halaman
- ISBN: 978-602-249-703-5
- Genre: Fiksi/Cerita Anak
Baca Juga
-
Satire di Balik Tawa: Membaca Indonesia Lewat Buku Esai Lupa Endonesa
-
5 Pilihan HP Kamera Zoom Terbaik 2026, Bidik Jarak Jauh Tanpa Blur
-
Tren Sujud Freestyle Berujung Petaka: Alarm Keras Dunia Pendidikan
-
Menyusuri Teduh Pantai Cemara di Ujung Selatan Jember
-
Menelusuri Lorong Gelap Larung: Dari Hasrat hingga Sejarah yang Berdarah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Mortal Kombat II: Kembalinya Scorpion dengan Dendam yang Lebih Kuat!
-
Bukan Sekadar Isekai: Mengapa Mushoku Tensei Dianggap Pelopor Genre Modern?
-
Simfoni Kesederhanaan Didikan Mamak Nur dan Bapak Syahdan dalam Novel Pukat
-
Maaf Aku Lahir ke Bumi: Refleksi tentang Luka yang Tidak Pernah Bersuara
Terkini
-
Park Ji Hyun Jadi Idol K-Pop di Film Wild Sing, Intip Detail Karakternya
-
iPhone Versi Android? Honor 600 Pro Viral karena Iklan di Depan Apple Store
-
Proyek Bangunan Ternyata Butuh Tumbal? Fakta Menarik di Film Tumbal Proyek
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
-
Murah Tapi Gak Murahan! 7 HP Samsung Terbaik 2 Jutaan