Sepak bola biasanya punya aturan pakem. Dua tim mengejar satu bola, mencoba memasukkannya ke gawang, lalu merayakan kemenangan setelah 90 menit. Stephen Chow punya cara sendiri untuk merusak pakem itu. Dalam Film Kung Fu Soccer, lapangan hijau berubah menjadi arena pertarungan, bola ibarat jadi senjata, tendangan menjelma jurus, sementara pemain sepak bola bergerak seolah-olah sedang menghadapi lawan dalam film kung fu.
Itulah letak kesenangan film ini. Stephen Chow memang kembali membawa formula yang pernah membuat Film Shaolin Soccer begitu ikonik, hanya saja kali ini dia memindahkannya ke tim sepak bola wanita Emei. Film berdurasi ±106 menit ini disutradarai dan ditulis Stephen Chow, dengan jajaran penulis yang juga mencakup Hunny Ho, Man Keung Chan, Chi Chung Lam, Chi-Man Wan, dan Wing Hong Wong.
Film Kung Fu Soccer merupakan produksi China-Hong Kong dengan sejumlah PH yang terlibat, di antaranya Star Overseas, China Film Group, Ruyi Film, Shenzhen Film Studio, dan Xingqun (Shenzhen) Cultural Communication. Shenzhen Film Studio menjadi salah satu pihak utama dalam produksi film ini. Di Indonesia, film ini tayang di bioskop pada 12 Agustus 2026, setelah lebih dulu dirilis di China pada 11 Juli.
Pemerannya juga cukup menarik karena membawa nama-nama besar dari berbagai penjuru Asia. Zhang Xiaofei menjadi Shuangshuang, kapten Emei, sementara Dilraba Dilmurat memerankan Yu Long, striker andalan tim. Lay Zhang atau Zhang Yixing tampil sebagai Xu Feng. Jajaran pemeran lainnya mencakup Carina Lau sebagai Grandmaster, Takeru Satoh sebagai pelatih tim Grand River, Ai Mi sebagai Chusan, Sisley Choi Si-Pui, Zhao Lina, Louis Cheung, Jimmy O. Yang, serta sejumlah pemain lainnya.
Cerita Film Kung Fu Soccer tertuju pada Emei Women's Football Team, tim yang sejak awal berada dalam posisi underdog. Mereka memasuki turnamen bergengsi Supreme Invincible Cup dengan membawa ambisi untuk membuktikan mereka mampu bersaing dengan tim-tim yang jauh lebih kuat. Shuangshuang berdiri sebagai kapten yang memimpin tim, sementara Yu Long menjadi salah satu senjata utama di lini depan. Xu Feng juga memiliki hubungan penting dengan perjalanan mereka karena dia membawa latar belakang bela diri yang kemudian ikut membentuk cara tim bermain.
Menariknya, Emei bukan tim sepak bola biasa. Para pemain memadukan teknik kung fu dengan strategi sepak bola. Gerakan bela diri diterapkan ke dalam permainan, menghasilkan pertandingan seperti pertempuran besar. Lawan yang harus mereka hadapi semakin berat, tekanan semakin besar, dan perjalanan menuju gelar juara berubah menjadi usaha untuk membuktikan tim yang diremehkan pun punya kesempatan berdiri di panggung tertinggi. Bikin penasaran banget, deh!
Film Kung Fu Soccer Punya Hubungan yang Aneh dengan Sepak Bola
Ya mau gimana lagi? Film ini memakai sepak bola, tapi hampir sepanjang waktu seperti sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan dunia kung fu.
Stephen Chow bahkan nggak menjadikan lapangan sebagai tempat untuk menunjukkan bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan. Dia malah mengambil semua elemen yang kita kenal dari olahraga tersebut lalu membengkokkannya sampai menjadi sesuatu yang baru. Pemain berlari, mengejar bola, melakukan operan, dan menembak ke gawang, tapi semua aktivitasnya sangat bombastis. Yup, tendangan bukan sekadar tendangan!
Tendangan adalah jurus. Bola bukan sekadar bola. Bola bisa menjadi proyektil yang meluncur dengan kekuatan super gila. Pertandingan berubah jadi pertarungan. Dan lawan bukan sekadar tim yang harus dikalahkan lewat strategi, melainkan seperti musuh yang harus ditaklukkan.
Menurutku, inilah cara Stephen Chow membuat olahraga seperti dunia superhero. Pemain sepak bola biasa mungkin hanya membutuhkan teknik, kecepatan, stamina, dan kerja sama. Pemain dalam dunia Stephen Chow membutuhkan semua itu sekaligus kemampuan untuk membuat bola melesat seperti senjata. Logikanya memang absurd. Namun. absurditas itulah yang menjadi bahasa utama film.
Film ini jelas ngajak penonton melupakan sejenak bagaimana pertandingan sepak bola berlangsung di dunia nyata. Film hanya ingin menunjukkan betapa menyenangkannya jika kemampuan manusia dibuat kelewat besar.
Dan uniknya lagi, visual dalam Kung Fu Soccer tampak sengaja dibuat berlebihan. Katanya, produksinya menggunakan lebih dari 1.200 shot efek khusus, motion capture, serta teknologi rendering berbantuan AI untuk menciptakan pertandingan dengan skala yang jauh lebih besar daripada sepak bola biasa. Terlepas dari itu, aku membaca keputusan visual ini sebagai bagian penting dari cara film membangun dunianya.
Di titik ini, Kung Fu Soccer berhasil membuat olahraga seperti fantasi pertarungan superhero. Mantap!
Baca Juga
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas
-
Upon Entry: Ketika Orang yang Kita Cintai Mendadak Jadi Orang Asing
-
Sepucuk Surat dalam Film Dear You Mengajarkan Arti Rindu yang Hilang
-
Drama Remaja Berubah Arah, Sterling Point Tahu Caranya Jadi Lebih Menarik
Artikel Terkait
-
The End of Oak Street: Perjalanan Melintasi Waktu Dibalut Sensasi Teror Dinosaurus
-
The Last House: Premis Menjanjikan yang Gagal Dieksekusi secara Maksimal
-
Kung Fu Soccer: Sajikan Perpaduan Seni Bela Diri dan Taktik Bola Modern
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Mengurai Mitos, Ritual Sesat, dan Pengusiran Setan di Film The Tao Exorcist
Ulasan
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
-
Review Drama Voice, Aksi Menegangkan Tim 112 Dalam Memburu Pembunuh Berantai
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
Terkini
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong
-
Nyoman Nadiana dan Perjuangan Menghidupkan Desa Les untuk Masa Depan
-
Merayakan Kemerdekaan?
-
Bukan Sekadar Desa Wisata, Ini Rahasia Osing Kemiren Merawat Lingkungan Tetap Lestari