Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Na Willa dan Teman-temannya (IMDb)
Ukhro Wiyah

Ada yang bilang, masa kecil adalah masa-masa paling indah yang tidak akan terulang. Berkumpul dengan keluarga, bermain bersama teman-teman, hingga pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Saat itu tidak ada pikiran rumit tentang pekerjaan, tagihan, cicilan, dan lain sebagainya. Keinginan mereka masih sangat sederhana: ingin bisa main terus. Dan begitulah dunia Na Willa.

Film Na Willa bercerita tentang seorang anak kecil turunan Jawa-Tionghoa bernama Na Willa (Luisa Adreena). Dia adalah anak yang ceria, penuh imajinasi dan rasa ingin tahu. Mak Willa bernama Marie, ayahnya Paul, seorang pelaut yang jarang pulang ke rumah. Film ini menggambarkan keseharian Willa bersama dengan teman-temannya, Mak, dan berbagai kegiatan yang ia lakukan sembari menunggu Pak pulang dari laut sambil membawakan buku untuk Willa.

Ulasan Na Willa 

Kesan pertama yang saya dapat setelah menonton Na Willa adalah alur ceritanya yang terasa sangat ringan. Sepanjang film kita diperlihatkan keseharian Willa bersama Dul, Farida, dan Bud. Kalau mereka sedang bersekolah, Willa main sendiri di rumah. Kadang bernyanyi bersama radio Mak yang diberi nama Erres.

Keluarga Willa sangat hangat. Meskipun Pak bekerja di laut dan jarang pulang, tapi selalu ingat dengan istri dan anaknya. Paul selalu berusaha pulang, meskipun hanya sebentar. Setiap pulang, ia juga selalu membawakan putrinya hadiah buku. Karena Willa suka membaca.

Kehangatan keluarga inilah yang membuat suasana film terasa lebih emosional dan mengharukan. Meskipun alurnya ringan dan karakter utamanya ceria, mata saya beberapa kali berkaca-kaca saat menonton. Sebagian adegannya ada yang sampai bikin saya menangis. Terutama ketika melihat interaksi hangat antara Willa dengan Pak. Setiap adegan terasa sangat sederhana, tapi mungkin momen sederhana seperti itulah yang justru akan terus diingat oleh anak sampai dewasa dan menjadi kenangan paling indah bagi mereka.

Akting Luisa sebagai karakter utama di sini sangat layak untuk dipuji. Ia mampu menggambarkan sosok Willa, anak kecil berusia lima tahun yang ceria, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Banyak pertanyaan Willa pada Mak yang mungkin terdengar lucu di telinga orang dewasa. Misalnya, ketika membicarakan tentang pernikahan kakak Farida, Willa tanya sama Mak, "kalau sudah kawin, nanti gak bisa main lagi?" Tapi sebagai anak lima tahun, dia memang belum memahami betapa kompleksnya kehidupan orang dewasa. Jangankan bermain, santai sebentar saja kadang nggak bisa. Haha.

Tingkah Willa pun nggak kalah lucu. Yang paling bikin saya menggelengkan kepala ketika dia penasaran di mana Lilis Suryani yang selalui dia dengar bernyanyi di dalam Erres. Dia bahkan membayangkan "kalau Lilis Suryani ada di dalam sini, dia pasti kecil sekali". Lalu dia bongkar radio Mak-nya dan tidak menemukan Lilis di sana. Yeah, mana mungkin ada orang masuk dalam radio, Willa. Haha. Adegan lucu lainnya saat Willa ngeyel ikut Farida ngaji, padahal dia dan keluarganya beragama kristen. Di satu adegan, dia juga ikut salat menggunakan sprei untuk menutup badannya—biar sama seperti Farida dan anak lain yang pakai mukena. Kepolosan yang dia tampilkan benar-benar terasa natural.

Selain itu, saya juga suka dengan karakter Marie. Dia mendidik Willa dengan tegas, mengajari Willa untuk selalu jujur, menjawab semua pertanyaan putrinya dengan bahasa dan analogi ringan yang bisa dipahami anak-anak. Meski begitu, Marie tidak digambarkan sebagai ibu yang sempurna. Dia pun pernah melakukan kesalahan dan menyesalinya, bahkan sampai menyalahkan diri.

Kelebihan lain dari film Na Willa adalah penataan gambarnya yang estetik. Lalu warna latar yang terasa sejuk dengan nuansa vintage khas zaman dulu. Ada juga elemen animasi yang membuat suasana masa kecil terasa lebih hidup.

Meskipun minum konflik dan alurnya terasa lambat, Na Willa tetap berhasil menyampaikan pelajaran berharga, bagi anak-anak maupun orang dewasa. Salah satunya tentang kejujuran. Mak Na Willa memberikan analogi berbohong seperti ada kerikil masuk dalam sepatu, bikin kita merasa sakit saat berjalan. Artinya, melakukan kebohongan hanya akan membuat hidup kita merasa tidak nyaman.

Pesan lain dari film ini berkaitan dengan toleransi. Kita melihat bagaimana Willa berteman dengan Farida, Dul, dan Bud meskipun mereka berbeda etnis dan agama. Hal ini juga ditunjukkan dalam adegan ketika guru ngaji teman-teman Willa membuatkannya ikut mengaji meskipun tahu bahwa dia bergama kristen.

Selain itu, kita mungkin banyak mendengar orang tua sama dulu mendidik anaknya dengan cara yang keras. Tetapi dari Marie kita belajar bahwa mendidik anak tidak harus dengan kata-kata kesar dan kekerasan. Meskipun tegas, ia tetap bisa memberikan ruang bagi Na Willa untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi rasa ingin tahunya. Mungkin terkadang ia menghukum Willa, tetapi hukuman itu ia berikan agar putrinya tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab.

Secara keseluruhan, film Na Willa berhasil membuat saya nostalgia dengan masa kecil. Tetapi lebih dari itu, film ini juga sukses menyampaikan pelajaran berharga, baik bagi penonton anak-anak maupun orang dewasa.