M. Reza Sulaiman | Sri Rahayu
Ilustrasi mengelola uang (pexels/olia danilevich)
Sri Rahayu

Saya tidak ingat persis kapan pertama kali menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa soal keuangan keluarga saya sendiri. Yang saya ingat hanya semacam kesadaran yang datang tiba-tiba, di momen yang tidak saya persiapkan, di tempat yang tidak saya duga. Dan perasaan itu tidak enak.

Bukan karena ada yang salah dengan pernikahan saya. Bukan karena suami menyembunyikan sesuatu. Tapi karena saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun, saya memilih untuk tidak tahu, dan saya tidak pernah merasa itu sebagai masalah.

Saya rasa banyak ibu rumah tangga pernah ada di titik yang sama, meski mungkin dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang baru sadar ketika pasangan sakit dan harus dirawat lama. Ada yang tersadar saat tanda tangan dokumen yang tidak dipahami isinya. Ada yang baru bertanya-tanya ketika tetangga bercerita soal investasi, sementara dirinya bahkan tidak tahu rekening keluarga ada di bank mana. Momennya berbeda, tapi muaranya sama: seorang perempuan yang selama ini menjalankan rumah tangga dengan sangat baik, tiba-tiba menyadari ada satu wilayah besar yang sama sekali tidak ia jamah.

Jarak Antara Mengelola Dapur dan Memahami Aset

Yang menarik sekaligus sedikit menggelisahkan adalah fakta bahwa kondisi ini bukan hasil dari ketidakmampuan. Ibu rumah tangga pada umumnya adalah manajer yang sangat cakap. Saya sendiri tahu persis berapa pengeluaran dapur per minggu, kapan tagihan jatuh tempo, dan pos mana yang harus dihemat saat akhir bulan semakin sempit.

Kemampuan mengelola arus kas harian itu nyata dan tidak sepele. Tapi ada jarak yang cukup jauh antara mengelola pengeluaran rumah tangga sehari-hari dengan memahami kondisi keuangan keluarga secara menyeluruh, dan kebanyakan dari kita hanya terlatih di yang pertama.

Jarak itu bukan kebetulan. Selama ini ada semacam pembagian wilayah yang tidak pernah benar-benar didiskusikan tapi terasa berlaku begitu saja: urusan dapur dan anak adalah milik istri, urusan bank dan investasi adalah milik suami. Konstruksi ini begitu mengakar sehingga bahkan ketika seorang istri sebenarnya ingin tahu, ia sering kali ragu untuk bertanya, takut dianggap tidak percaya, takut dianggap ingin menguasai, atau sekadar merasa itu bukan haknya untuk masuk ke sana. Padahal tidak ada satu pun alasan logis mengapa seorang perempuan yang ikut membangun rumah tangga tidak berhak memahami kondisi finansial dari rumah tangga yang ia bangun itu.

Ilusi Kenyamanan di Balik Kepercayaan

Survei OJK tahun 2022 mencatat tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia di angka 50,33 persen, angka yang sebenarnya tidak terlampau jauh dari laki-laki, tapi menjadi sangat terasa dampaknya ketika dikombinasikan dengan realita bahwa banyak perempuan yang menikah kemudian melepaskan kendali keuangan sepenuhnya pada pasangan. Bukan karena dipaksa. Tapi karena itulah yang selama ini dianggap normal, dianggap sebagai bentuk kepercayaan, bahkan dianggap sebagai keanggunan seorang istri yang tidak ikut campur urusan "berat." Padahal kepercayaan yang sesungguhnya bukan buta, kepercayaan yang sehat adalah yang datang dari pemahaman, bukan dari ketidaktahuan yang dibiarkan.

Saya juga pernah meyakini bahwa menyerahkan urusan keuangan sepenuhnya pada suami adalah bentuk kepercayaan. Tapi semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa itu lebih dekat pada kenyamanan daripada kepercayaan. Tidak tahu itu nyaman, tidak perlu pusing, tidak perlu belajar hal baru, tidak perlu menghadapi angka-angka yang terasa asing.

Tapi kenyamanan itu rapuh. Ia hanya bertahan selama tidak ada yang berubah. Begitu ada kondisi darurat, suami sakit, kehilangan pekerjaan, atau hal-hal lain yang tidak kita undang tapi datang juga, ketidaktahuan itu berubah menjadi beban yang sangat berat untuk ditanggung sendirian.

Menemukan Letak Pintu Darurat

Inilah yang membuat literasi keuangan bagi ibu rumah tangga bukan sekadar soal pengembangan diri atau mengikuti tren. Ini soal kesiapan menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Memahami kondisi keuangan keluarga tidak berarti seorang istri harus mengambil alih semua keputusan finansial. Cukup tahu di mana letak "pintu darurat" kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, rekening ada di bank mana, polis asuransi dengan nomor berapa, aset apa yang tercatat atas nama keluarga, dan siapa yang bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu. Informasi yang terdengar sederhana, tapi absennya bisa menjadi sangat mahal harganya di waktu yang paling tidak tepat.

Memulainya pun tidak harus dari hal yang rumit. Langkah paling realistis pertama adalah membuka percakapan dengan pasangan, bukan dalam konteks konflik atau kecurigaan, tapi sebagai bagian dari perencanaan keluarga yang wajar dan sehat. Bicarakan di mana tabungan disimpan, produk keuangan apa yang sedang berjalan, dan apa yang perlu diketahui kalau terjadi kondisi darurat. Percakapan itu tidak perlu panjang dan dramatis. Ia hanya perlu terjadi, dan terjadi lebih awal dari yang kita kira perlu.

Selain itu, memiliki rekening pribadi atas nama sendiri juga bukan soal memisahkan keuangan dari pasangan, melainkan soal memiliki identitas finansial yang mandiri, sesuatu yang di era perbankan digital bisa dimulai dalam hitungan menit dari ponsel.

Yang ingin saya sampaikan bukan bahwa suami tidak bisa dipercaya, atau bahwa ibu rumah tangga harus jadi ahli keuangan. Yang ingin saya sampaikan jauh lebih sederhana dari itu: kita berhak tahu. Kita berhak memahami kondisi finansial keluarga yang juga kita bangun setiap harinya, lewat kerja yang tidak selalu terlihat di lembar rekening mana pun, tapi nyata kontribusinya. Ibu rumah tangga yang memahami keuangan keluarganya bukan ancaman bagi harmoni rumah tangga. Ia justru adalah bentuk perlindungan terbaik yang bisa dimiliki sebuah keluarga, perempuan yang tahu, siap, dan tidak akan panik sendirian ketika keadaan menuntutnya untuk berdiri lebih kuat dari biasanya.