Bagi pencinta sastra kontemporer Indonesia, nama Ayu Utami tentu tidak asing lagi. Melalui dwilogi buatannya, ia berhasil mengguncang panggung kesusastraan tanah air. Jika buku pertamanya yang berjudul Saman sukses memikat pembaca, maka sekuelnya yang bertajuk Larung hadir dengan intensitas yang tidak kalah berani.
Gaya penceritaannya yang sarat kritik sejarah terasa sebelas dua belas dengan karya Leila S. Chudori. Ditambah lagi, pemilihan nama-nama karakter yang bernuansa kental Indonesia makin memperkuat daya tarik buku ini dalam membawa pembaca menyelami kompleksitas isu gender, spiritualitas, hingga kekejaman politik di ujung era Orde Baru.
Sinopsis
Secara garis besar, novel ini memperkenalkan tokoh utama baru bernama Larung Lanang. Cerita dibuka dengan narasi yang cukup ganjil dan dipenuhi atmosfer mistis mengenai usaha Larung untuk melakukan euthanasia (suntik mati) terhadap neneknya. Sang nenek diceritakan mampu bertahan hidup selama ratusan tahun meskipun raganya sudah rusak dan tidak lagi berfungsi. Di balik kondisi tersebut, rupanya ada jalinan unsur supranatural yang kental, di mana Ayu Utami dengan lihai memanfaatkan metafora dari cerita Calon Arang dan Wayang Purwa untuk memperkuat kesan magis-kelam yang mencekam.
Alur cerita kemudian bergeser secara dinamis ketika latar tempat berpindah ke New York. Di sana, empat tokoh perempuan dari novel sebelumnya Yasmin, Cok, Laila, dan Shakuntala—kembali berkumpul. Di balik megahnya kota tersebut, terjadi pergolakan batin dan konflik personal yang rumit, termasuk eksplorasi seksualitas Shakuntala yang androgini serta hubungan asmara terlarang yang membayangi persahabatan mereka.
Ketegangan mencapai puncaknya di bagian akhir cerita. Fokus novel kembali mempertemukan Saman dan Larung dalam sebuah misi berbahaya: menyelundupkan tiga aktivis mahasiswa bernama Koba, Wayan Togog, dan Bilung. Mereka adalah para penggerak roda perlawanan yang diburu oleh rezim penguasa karena dianggap radikal dan berafiliasi dengan gerakan kekiri-kirian. Malang, pelarian politik ini harus berakhir tragis di tangan militer yang represif.
Salah satu kekuatan utama dalam novel Larung terletak pada konsistensi gerakan feminisme yang diusungnya. Ayu Utami secara radikal mendobrak stigma kuno yang kerap memposisikan perempuan sebagai makhluk yang lemah atau tidak berdaya. Melalui karakter seperti Yasmin dan Cok, perempuan digambarkan sebagai sosok yang cerdas, memiliki otoritas penuh atas tubuhnya, bahkan mampu memegang kendali dalam ranah domestik maupun seksual.
Selain isu gender, novel ini merupakan sebuah catatan sejarah yang dibalut dalam fiksi. Latar belakang cerita secara berani merekam peristiwa riil yang pahit dalam sejarah Indonesia, seperti Kerusuhan Medan 1994 dan Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996. Aparat militer digambarkan mendominasi dengan absolut, membungkam suara rakyat, serta melenyapkan para aktivis tanpa proses pengadilan yang layak. Julukan satir seperti "Kucing Bersepatu Lars" menjadi simbol kritik tajam terhadap korupnya birokrasi kala itu.
Hal yang paling monumental dari karya ini adalah keberanian penulisnya dalam melakukan "perang" terhadap eufemisme bahasa. Ayu Utami menggunakan diksi-diksi yang sering dianggap tabu atau vulgar oleh masyarakat awam secara gamblang dan netral. Baginya, kata-kata yang berkaitan dengan anatomi tubuh manusia tidak semestinya disembunyikan di balik istilah medis Latin hanya demi sopan santun yang semu. Diksi tersebut dihadirkan apa adanya, tajam, dan penuh majas yang mengeksploitasi detail suasana secara totalitas.
Kesimpulan
Sebagai sebuah karya sastra, Larung bukan sekadar sekuel pelengkap. Ia adalah potret buram sebuah era di mana kebebasan berpendapat dikebiri dan keadilan harus dibayar mahal dengan nyawa. Kontras karakter antara Larung yang rasional-misterius dengan Saman yang penuh keraguan religius memberikan warna psikologis yang mendalam.
Buku ini tetap menjadi rekomendasi penting bagi siapa saja yang ingin melihat bagaimana sastra Indonesia mampu tampil berani, cerdas, sekaligus menggugat mapannya norma sosial dan politik.
Identitas Buku
- Judul Buku: Larung
- Penulis: Ayu Utami
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Ke-4)
- Tebal Halaman: viii + 295 halaman
- ISBN: 978-979-91-0569-1
- Genre: Fiksi / Sastra Sejarah / Kontemporer
Baca Juga
-
Jejak Intelektual Buya Hamka: Menenun Pesan Persatuan Di Lembah Sungai Nil
-
Dekonstruksi Stigma Maskulinitas dalam Buku Laki-Laki Tanpa Tanya
-
Winnetou: Persahabatan Old Shatterhand dan Kepala Suku Apache yang Heroik
-
Lebih Dekat dengan Sang Pencipta dalam Syahdu-nya Seni Merayu Tuhan
-
Dinamika Tukar Raga dan Misteri Itomori dalam Your Name karya Makoto Shinkai
Artikel Terkait
-
Lalita Karya Ayu Utami: Novel Rumit yang Menggoda untuk Diselami Ulang
-
Menelusuri Lorong Gelap Larung: Dari Hasrat hingga Sejarah yang Berdarah
-
Kusni Kasdut: Potret Pilu Veteran yang Tersisih Setelah Indonesia Merdeka
-
Review Larung: Gugatan Ayu Utami Terhadap Sejarah dan Tabu Patriarki
-
Ulasan Novel Maya, Pencarian Hakikat Ketuhanan di Kaki Gunung Merapi
Ulasan
-
Novel Misteri Kota Tua, Petualangan Beno Menyusuri Sejarah Kota Tangerang
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
-
Review The Square: Konfrontasi Dramatis antara Seni dan Realitas Primal!
Terkini
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia
-
Budget 3 Jutaan Mau Foto Ala Flagship? Ini 5 Pilihan HP Terbaiknya!
-
Casual ke Formal Look, Intip 4 Ide Daily OOTD Monokrom ala Chae Won Bin!