M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar Love Scamming (Pexels)
Juandi Manullang

Dunia teknologi yang semakin berkembang dan canggih di satu sisi membantu kerja-kerja manusia, namun di sisi yang lain, dia dapat menjadi ancaman yang serius bagi manusia. Dengan kata lain, perkembangan teknologi yang canggih harus terus diwaspadai. Kita tidak bisa berbangga karena kenyamanan yang diberikan. Harus dilihat juga ada keburukan yang bisa saja kita dapat.

Terungkap kasus yang dilansir dari Kompas (12/5/2026), Polda Lampung membongkar sindikat love scamming  atau penipuan berkedok asmara yang dilakukan secara daring. Ironisnya, sindikat itu justru berada di dalam Rutan Kelas IIB Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Paling parahnya lagi, sindikat tersebut telah merugikan korbannya mencapai Rp1,4 miliar.

Waspadai Modus Operandi Agar Tidak Terperangkap

Love scamming merupakan penipuan berkedok cinta dan asmara. Pelaku memanipulasi perasaan korban dengan perhatian, berpura-pura cinta dan menjanjikan hubungan serius dengan tujuan untuk menguras harta, meminjam uang dan mencuri data pribadi. Peristiwa tersebut tidak bisa dianggap enteng. Bentuk kejahatan tidak lagi dengan metode pertemuan fisik tetapi dapat melalui daring dan kecanggihan digital. Menjadi penting agar setiap orang tetap waspada segala bentuk kejahatan yang semakin marak saat ini. Love scamming menjadi alarm untuk kita berhati-hati.

Saat ini, kita sering diamati oleh pelaku kejahatan. Dia mencari kelemahan kita dan berusaha masuk dan mempengaruhi kita dalam perangkapnya. Coba kita lihat bersama, aksi pelaku menyamar sebagai anggota TNI dan polisi lalu mengajak korban untuk berkenalan. Di era saat ini, banyak yang terkecoh dengan pangkat dan jabatan di media sosial. Banyak yang dikelabui dengan iming-iming cinta, namun semua adalah kepalsuan. Kita dapat terperangkap dengan wajah yang ganteng maupun cantik berpakaian yang mewah, seragam berpangkat dan jas hingga dasi yang keren, padahal itu manipulasi belaka.

Love scamming hadir dengan sebuah kepalsuan sehingga kita harus menyadari ancamannya tersebut. Media sosial tidak lagi menjadi ruang aman dan nyaman. Pengguna media sosial sudah sangat banyak dan tidak lagi sebagai tempat untuk berkomunikasi dan menjalin relasi tetapi sudah menjadi tempat untuk berkenalan dengan memanipulasi korbannya.

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Setiap orang harus dapat menyeleksi siapa saja yang ingin berkomunikasi dengannya melalui media sosial, WhatsApp dan media digital lainnya. Dikarenakan kita sedang sendiri, belum mendapatkan jodoh maka oknum memanfaatkan peluang untuk mendekati dan menjalin kasih tetapi penuh kepalsuan. Kita terperangkap dengan rayuan, gombal dan janji-janji manis. Oleh karenanya, perbuatan itu harus diantisipasi. Kasus love scamming ini harus membuka mata hati kita untuk lebih bijak dalam bermedia sosial dan berkenalan dengan orang lain.

Memprivat Akun Media Sosial

Zaman sekarang, sudah banyak kita temui akun-akun yang memprivat akun media sosialnya. Banyak sebabnya, salah satunya agar tidak terdistraksi oleh gangguan akun-akun bodong yang kadang masuk untuk mengintip dan mem-follow akun asli. Saya sendiri merasakan banyak sekali akun palsu atau bodong yang kerap mengintip story di Instagram, mem-follow dengan foto orang lain, pemandangan, mobil, kartun dan lainnya. Akun tersebut tertutup dan memanipulasi siapa dirinya dengan tidak berani transparan memposting wajahnya sendiri.

Namun demikian, meski kita memprivat akun media sosial, bukan berarti setiap akun yang datang mem-follow adalah oknum penjahat, tinggal bagaimana untuk menyeleksi bilamana ada chat atau pesan dari akun tersebut kepada kita. Ada pula akun yang asli mengajak untuk berkenalan, namun tetap harus ada pertemuan dan penjajakan agar kita mengenal lebih dekat sosok tersebut. Jangan sampai berkenalan di media sosial dan tidak pernah bertemu akhirnya jatuh cinta atau lebih parahnya lagi bucin terhadap oknum tertentu, akhirnya malah merugikan kita.

Patut diakui bahwa ketika bucin sudah datang ke dalam hati dan pikiran, maka seseorang sudah tak mampu lagi mengendalikan dirinya. Cinta yang membara membuatnya mengikuti apapun permintaan si oknum. Bahkan, harta yang dimiliki pun mau diberikan sebagai bentuk dari cinta. Padahal, cintanya adalah palsu.

Jadi, peristiwa love scamming yang sudah memakan korban menjadi pelajaran buat semua orang bahwa jangan terperangkap terhadap modus tersebut. Waspada setiap orang yang ingin menjanjikan cinta dan kasih sayang tetapi itu hanya kepalsuan. Tujuannya hanya ingin harta yang dimiliki.