Dijajah selama ratusan tahun bukanlah waktu yang singkat. Bahkan, dampaknya tanpa kita disadari terus menyusup dan tertinggal dalam lapisan masyarakat hingga hari ini.
Istilah mentalitas kolonial bukan sekadar jargon akademik. Ia adalah kenyataan yang masih terasa dalam keseharian. Cara kita memandang diri sendiri, cara kita menghormati orang lain, bahkan cara kita menempatkan diri dalam struktur sosial.
Secara sederhana, mentalitas kolonial merujuk pada pandangan bahwa budaya, kemampuan, atau identitas kita lebih rendah dibanding yang dianggap lebih tinggi. Warisan dari sistem penjajahan yang tidak sepenuhnya hilang meski kekuasaan fisik telah lama berakhir.
Masalahnya, mentalitas ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari konstruksi sosial yang panjang. Dalam banyak masyarakat, termasuk di Indonesia, struktur hierarki sudah ada jauh sebelum kolonialisme datang.
Sistem kerajaan mengenal pembagian kelas yang tegas antara bangsawan, tokoh agama, dan rakyat biasa. Dalam konteks ini, sikap menunduk, jongkok, atau merendahkan posisi tubuh bukanlah tanda inferioritas, melainkan bentuk penghormatan atau dalam tradisi tertentu, disebut sebagai ta’dzim.
Namun, sejarah jarang berjalan netral. Ketika kolonialisme masuk, struktur yang sudah ada ini tidak dihapus, melainkan dimanfaatkan. Pemerintah kolonial Belanda, misalnya, tidak perlu membangun sistem kontrol dari nol. Mereka cukup “menunggangi” hierarki yang sudah mapan. Budaya penghormatan kepada atasan diperkuat, bahkan diperkeras, sehingga masyarakat terbiasa tunduk tanpa banyak bertanya.
Di titik inilah garis antara adab dan inferioritas mulai kabur.
Ketika seseorang menunduk di hadapan guru, kiai, atau pemimpin karena kesadaran akan ilmu dan peran, itu adalah etika. Tetapi ketika sikap yang sama dilakukan karena rasa takut, karena merasa diri lebih rendah, atau karena menganggap pihak lain lebih berhak dihormati secara mutlak, maka yang bekerja bukan lagi adab, melainkan mentalitas inferior.
Ironisnya, bentuk-bentuk ini sering sulit dibedakan karena dibungkus dalam budaya dan agama. Banyak praktik yang secara lahiriah tampak sama, tetapi memiliki motif batin yang berbeda. Seseorang bisa saja jongkok di depan tokoh agama sebagai bentuk ibadah, sementara yang lain melakukannya karena tekanan sosial. Secara visual identik, tetapi secara makna bertolak belakang.
Di sinilah pentingnya membaca ulang praktik sosial kita dengan lebih kritis.
Mentalitas inferior bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Ia adalah hasil dari proses panjang. Rasisme struktural, dominasi kekuasaan, dan pengulangan budaya yang menempatkan satu kelompok di atas kelompok lain.
Dalam konteks kolonial, inferioritas bahkan dijadikan alat. Ketika suatu bangsa percaya bahwa dirinya lebih rendah, maka kontrol menjadi lebih mudah. Tidak perlu kekerasan berlebihan; cukup dengan keyakinan bahwa “memang begitulah seharusnya”.
Pertanyaannya, apakah pola ini masih hidup hari ini?
Jawabannya tidak selalu hitam-putih. Dalam banyak kasus, kita masih melihat bagaimana otoritas jarang dipertanyakan, bagaimana status sosial menentukan cara seseorang diperlakukan, atau bagaimana gelar dan simbol kekuasaan otomatis mengundang kepatuhan.
Bahkan dalam dunia pendidikan atau keagamaan, relasi antara guru dan murid kadang bergeser dari ruang belajar menjadi ruang dominasi.
Namun, menghapus semua bentuk penghormatan juga bukan solusi. Masyarakat tanpa adab akan kehilangan arah, kehilangan batas. Yang perlu dikritisi bukan praktiknya semata, melainkan kesadaran di baliknya.
Apakah kita menghormati karena memahami nilai seseorang, atau karena takut melawan struktur? Apakah kita menempatkan diri dengan rendah hati, atau karena merasa memang tidak layak berdiri sejajar?
Perbedaan ini tampak kecil, tetapi dampaknya besar.
Membongkar mentalitas kolonial bukan berarti menolak tradisi, melainkan memurnikan maknanya. Mengembalikan penghormatan pada tempatnya sebagai pilihan sadar, bukan kewajiban yang menekan. Menghormati tanpa kehilangan harga diri, dan merendah tanpa merasa rendah.
Karena pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukanlah yang sepenuhnya egaliter tanpa struktur, tetapi yang mampu menyeimbangkan antara hormat dan martabat.
Dan mungkin, pekerjaan terbesar kita hari ini bukan sekadar merdeka secara politik, tetapi merdeka dalam cara berpikir. Terutama membebaskan dari keyakinan lama bahwa kita memang “lebih rendah” dari yang lain.
Baca Juga
-
Menemukan Kebahagiaan dari dalam Diri di Buku The Simple Way to Happiness
-
Buku Pintar Kompas 2011: Potret Dinamika Indonesia dalam Satu Tahun
-
Bukan Asal, Menulis itu Ada Seninya! Membaca Buku Dunia Kata
-
Mengenali Sisi Maritim Indonesia di Buku Sejarah Laut Sulawesi Abad XIX
-
Registrasi Ulang Pelat Kendaraan: Pelayanan Publik atau Beban Administratif?
Artikel Terkait
-
Kasus SMAN 1 Purwakarta: Berhenti Menggeneralisasi Adab Siswa karena Ulah Oknum
-
Videonya Viral, Tradisi Santri Jongkok Saat Guru Lewat di Ciamis Tuai Pro Kontra
-
Guru: Kompas Peradaban atau Sekadar Buruh Kurikulum?
-
Riyadus Shalihin: Teduhnya Oase Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
-
Adab Bertamu saat Lebaran: Tetap Sopan dan Berkesan Tanpa Merepotkan Tuan Rumah
Kolom
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Budiman Sudjatmiko dan Mahasiswa: Siapa yang Gagal Berdialog?
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
-
Teach You a Lesson dan 'Bahasa Cinta' Seorang Guru untuk Anak Didiknya
-
Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital
Terkini
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Ulasan Serial Zomvivor: Drama Horor Thriller dengan Efek Visual Luar Biasa!
-
Cowok Minimalis Merapat! 4 Daily OOTD ala Lee Jun Young yang Mudah Ditiru
-
Pesona WAGs Piala Dunia 2026, Ada Pasangan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Kylian Mbappe
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global