Mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu tantangan besar bagi banyak orang. Persaingan yang ketat membuat pencari kerja harus terus meningkatkan skill agar bisa mendapatkan peluang di tengah banyaknya kandidat yang melamar.
Namun, di balik persaingan tersebut, ada persoalan yang menurut saya mendesak dalam proses rekrutmen. Banyak lowongan kerja kini mencantumkan berbagai syarat yang panjang dan beragam, tetapi tidak diikuti dengan penawaran gaji yang sepadan.
Lantas, mengapa perusahaan meminta kemampuan maksimal dari pekerja dengan imbalan yang masih minimal?
Lowongan Kerja dan Obsesi Mencari Kandidat Sempurna
Tidak sulit menemukan lowongan kerja yang meminta pelamar berusia maksimal 25 tahun, berpenampilan menarik, memiliki pengalaman minimal dua hingga tiga tahun, menguasai berbagai aplikasi, mampu bekerja di bawah tekanan, siap lembur, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, multitasking, bahkan bersedia ditempatkan di mana saja.
Ironisnya, setelah semua syarat itu dipenuhi, gaji yang ditawarkan sering kali mentok upah minimum, bahkan ada yang di bawahnya hingga tidak mencantumkan nominal gaji sama sekali. Seolah perusahaan-perusahaan ini mencari celah di tengah ketatnya persaingan di dunia kerja. Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Saya memahami bahwa setiap perusahaan berhak menentukan kualifikasi sesuai kebutuhan. Jika sebuah posisi memang membutuhkan kemampuan teknis tertentu atau pengalaman kerja yang spesifik, tentu itu masuk akal. Masalahnya, banyak syarat yang justru terasa tidak memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan yang ditawarkan.
Ambil contoh syarat usia maksimal. Padahal, kemampuan seseorang tidak otomatis menurun hanya karena usianya melewati angka tertentu. Begitu pula dengan syarat "berpenampilan menarik". Untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan, penampilan rapi dan profesional memang menjadi salah satu pertimbangan.
Namun, saya masih sering menemukan syarat tersebut dicantumkan untuk posisi yang tidak berkaitan langsung dengan penampilan, seperti staf administrasi atau analis data.
Perusahaan Ingin Karyawan Serbabisa
Saya juga melihat kecenderungan lain yang semakin sering muncul, yaitu satu orang diharapkan mampu mengerjakan berbagai peran sekaligus.
Seorang admin diminta membuat konten media sosial. Content creator harus bisa desain grafis. Customer service dituntut mampu menjual produk. Bahkan, tidak sedikit lowongan yang menggabungkan pekerjaan administrasi, pemasaran, hingga operasional dalam satu posisi.
Di satu sisi, perusahaan mungkin ingin lebih efisien. Namun, efisiensi tidak boleh mengorbankan kewajaran. Semakin banyak tanggung jawab yang dibebankan kepada satu orang, semestinya semakin besar pula penghargaan yang diberikan.
Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Beban kerja bertambah, sementara gaji tetap segitu-segitu saja. Akibatnya, muncul kesan bahwa perusahaan sedang mencari solusi paling murah untuk menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan.
Sudah Saatnya Perusahaan Meninjau Ulang Standar Rekrutmen
Saya tidak mengatakan bahwa perusahaan harus menurunkan standar. Dunia kerja memang membutuhkan orang-orang yang kompeten. Namun, standar yang tinggi harus diiringi penghargaan yang setimpal.
Jika sebuah pekerjaan menawarkan gaji setara level pemula, maka syarat yang diajukan juga seharusnya realistis. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk membina dan mengembangkan karyawannya, bukan hanya mencari orang yang sudah "jadi".
Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, posisi pencari kerja memang sering kali lebih lemah. Karena banyaknya pelamar, perusahaan merasa selalu ada orang yang bersedia menerima syarat apa pun.
Menurut saya, sudah saatnya kita berhenti menganggap kondisi ini sebagai hal yang lumrah. Jika perusahaan ingin mendapatkan talenta terbaik, maka mereka juga harus siap memberikan imbalan yang terbaik pula.
Baca Juga
-
Ulasan Brain Works: Mengungkap Aksi Kriminal Melalui Perspektif Neurosains
-
Ulasan Queen of Masks: Menyingkap Topeng Manusia dalam Pusaran Ambisi
-
Bersyukur atau Terpaksa? Dilema Bertahan di Tengah Upah yang Tak Layak
-
Rakyat Nunggak Pajak Kena Denda, Apa Sanksi Jika Pemerintah Gagal Kelola?
-
Fenomena Outfit Mewah Pejabat: Dipamerkan ke Publik, Kenapa Takut Dikuliti?
Artikel Terkait
Kolom
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Negara Mau Pajak Kreator, Tapi Birokrasinya Masih 'Gagap' Digital?
-
AI Mengubah Cara Kerja Generasi Muda: Peluang atau Malah Ancaman?
-
Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
Terkini
-
Review Petaka Gunung Welirang: Saat Mitos Lokal Berhasil Digali dengan Apik
-
RAM 24 GB, Kamera OIS, Baterai 8000 mAh! Ini HP Realme Terbaik
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Wajah Lembap dan Sehat! 4 Cleanser Probiotic Jaga Mikrobioma Skin Barrier
-
Nasi Goreng di Restoran Jepang? Mencicipi Chicken Tokio Goulash Zenbu