Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Novel 1890 [Goodreads]
aisyah khurin

Fiksi sejarah di Indonesia selalu menempati ruang istimewa karena kemampuannya memadukan rekonstruksi masa lalu dengan imajinasi kreatif. Salah satu karya kontemporer yang menarik perhatian dalam genre ini adalah novel berjudul 1890 karya Ayu Dewi, seorang penulis fiksi produktif yang telah mendedikasikan dirinya selama satu dekade di dunia kepenulisan dengan konsisten menerbitkan karya setiap tahun. 

Ayu Dewi, yang sebelumnya dikenal lewat deretan karya fiksi seperti Banyu Biru, The Real Past, dan Pangeran Kumbang, kembali menunjukkan kematangannya dalam meramu plot sejarah yang kompleks namun tetap luwes untuk dinikmati. Dalam novel 1890, ia berhasil memotret kontras sosial antara kehidupan kaum ningrat Jawa dengan realitas pahit penindasan ekonomi oleh perusahaan gula kolonial Belanda. 

Sinopsis Novel 1890

Pamungkas merupakan putra bungsu dari keluarga pemilik perkebunan tebu di Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Kehidupan Pamungkas yang damai berubah menjadi tragedi berdarah ketika ia masih berusia sembilan tahun. Akibat keserakahan seorang pengusaha kolonial Belanda yang ingin mendirikan pabrik gula raksasa, terjadi konflik perebutan lahan yang memicu kerusuhan hebat di desanya.

Kerusuhan tersebut menelan korban jiwa, termasuk kakak kandung Pamungkas, serta memaksa keluarganya terusir dari tanah leluhur mereka. Peristiwa traumatik ini menanamkan benih dendam yang membara di dada Pamungkas sepanjang masa pertumbuhannya.  

Tujuh belas tahun berlalu, Pamungkas tumbuh menjadi pemuda cerdas yang bertindak sebagai pewarta atau jurnalis di surat kabar kolonial terkemuka bernama Soerabajasch Handelsblad di Surabaya. Pekerjaan ini ia gunakan sebagai taktik rahasia untuk melacak dalang intelektual di balik tragedi masa kecilnya serta mengumpulkan dokumen-dokumen penting yang dapat membongkar konspirasi masa lalu tersebut.

Namun, investigasinya mempertemukannya dengan Raden Ajeng Utari Kasmirah, putri dari seorang administratur pabrik gula berpengaruh yang ternyata terlibat langsung dalam kehancuran keluarga Pamungkas. Di sinilah konflik batin meruncing, niat awal Pamungkas untuk mendekati Utari demi menuntaskan dendam justru berubah menjadi cinta tulus yang tak terbendung. Pamungkas pun dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya, apakah harus menuntut balas dengan menghancurkan keluarga Utari atau merelakan masa lalunya demi cinta.

Keputusannya untuk menjadi jurnalis di surat kabar Belanda, berpakaian ala Eropa, dan menguasai bahasa kolonial bukanlah tanda penyerahan diri atau ketundukan. Sebaliknya, peniruan ini adalah bentuk taktik ambivalen, ia meniru perilaku penjajah untuk mendapatkan legitimasi sosial dan akses informasi, yang kemudian ia gunakan untuk merusak kredibilitas sistem kolonial dari dalam. 

Kelebihan

Novel 1890 menawarkan dimensi analisis yang sangat kaya di luar sekadar kisah asmara lintas kelas sosial. Kajian akademis kontemporer menunjukkan bahwa karya Ayu Dewi ini merupakan representasi ciamik dari strategi resistensi kultural pribumi terhadap hegemoni kolonial. 

Detail mengenai operasional pabrik gula, birokrasi kolonial, hingga tata cara kehidupan kaum ningrat Jawa disajikan secara mengalir tanpa membuat pembaca merasa sedang membaca buku teks sejarah yang membosankan. Gaya penulisan yang luwes, santai, dan tidak kaku membuat narasi sejarah yang rumit ini menjadi sangat ramah bagi pembaca kasual, sebuah pencapaian kepenulisan yang patut diapresiasi dari pengalaman sepuluh tahun berkarya sang penulis. 

Kekurangan

Hubungan romansa antara Pamungkas dan Utari tidak terasa instan atau klise, ada ketegangan psikologis yang konstan karena rahasia besar yang membayangi mereka. Kehadiran konflik batin yang intens ini memberikan kedalaman emosional yang luar biasa, memaksa pembaca untuk terus membalik halaman demi mengetahui akhir dari dilema moral yang dihadapi sang tokoh utama.

Pada pertengahan cerita, ritme narasi terasa mengalami penurunan atau kelambatan yang cukup signifikan.

Penulis cenderung terlalu berfokus pada detail-detail pencarian dokumen hukum, birokrasi arsip tanah perkebunan tebu, dan urusan administrasi kolonial yang sangat spesifik. Bagi pembaca yang mengharapkan perkembangan plot romansa yang cepat atau ketegangan intrik yang konstan, beberapa bab di bagian tengah ini mungkin akan terasa menjemukan dan membutuhkan kesabaran ekstra untuk dilewati.

Selain masalah tempo di bagian tengah, bagian resolusi atau penyelesaian konflik utama di akhir novel juga terasa sedikit terburu-buru. Setelah pembaca disuguhi ketegangan investigasi yang dibangun dengan sangat lambat dan detail sejak awal, penyelesaian konflik dendam keluarga Pamungkas terasa diselesaikan dengan terlalu rapi dan instan. 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel 1890 karya Ayu Dewi ini merupakan sebuah permata berharga dalam khazanah fiksi sejarah modern Indonesia yang berhasil membuktikan bahwa sejarah tidak selamanya kaku dan membosankan. Dengan kepiawaian merajut konflik agraria kolonial yang berdarah dengan kisah romansa yang mengharu biru, novel ini menawarkan petualangan emosional yang lengkap bagi pembacanya. Melalui akhir perjalanan Pamungkas dan Utari, buku ini meninggalkan sebuah perenungan mendalam tentang esensi keadilan dan pengampunan.

Bagi siapa saja yang mencari novel fiksi sejarah dengan narasi yang kaya akan riset namun tetap nyaman dibaca saat santai, 1890 adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk masuk ke dalam daftar bacaan wajib.

Identitas Buku

  • Judul: 1890
  • Penulis: Ayu Dewi
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tanggal Terbit: 18 Desember 2024
  • Tebal: 280 Halaman