Ada sebuah pemandangan menarik sekaligus menggelitik setiap kali saya nongkrong di kafe dekat kampus atau sekadar berjalan melewati koridor fakultas. Percakapan yang tertangkap telinga saya kerap kali dipenuhi oleh kosakata hibrida yang ajaib.
Frasa seperti “Which is sebenarnya kita tuh harus literally nyelesaiin ini fast as possible, Guys,” atau “Gue lagi nyari insight buat preference tugas ini, biar kelihatan lebih well-prepared,” sudah menjadi makanan sehari-hari. Campur aduk bahasa ini seolah telah menjelma menjadi identitas wajib bagi mahasiswa urban masa kini.
Di lingkungan pergaulan kampus, fenomena mencampur istilah asing ini bukan lagi sekadar bumbu percakapan biasa. Ia telah bergeser menjadi alat komodifikasi sosial.
Ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa semakin banyak Anda menyelipkan istilah asing di dalam kalimat lisan Anda, semakin tinggi kasta sosial dan tingkat intelektualitas Anda di mata sirkel pergaulan. Sebaliknya, mereka yang berbicara dengan bahasa Indonesia yang runtut, tertata, dan tanpa intervensi istilah asing sering kali dicap kaku, kuno, atau kurang pergaulan.
Namun, di balik topeng "keren" dan "intelek" tersebut, ada ancaman sosiolinguistik serius yang jarang sekali dikupas dalam ruang diskusi kita. Jika kita merujuk pada penelitian asli yang diterbitkan dalam Jurnal Sosioteknologi ITB mengenai fenomena code-switching (alih kode) dan code-mixing (campur kode) pada generasi muda, terlihat jelas bahwa kecenderungan mencampuradukkan bahasa asing secara masif dipicu oleh prestise sosial demi membangun citra modernitas.
Namun, dampak lanjutannya dalam ranah pedagogi menunjukkan adanya korelasi negatif terhadap kedisiplinan berbahasa formal. Kerancuan berbahasa ini menciptakan penurunan kepekaan terhadap struktur kalimat baku, sehingga saat mahasiswa dituntut menulis karya ilmiah, mereka mendadak gagap merangkai paragraf yang memenuhi standar logika kalimat efektif sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EYD V).
Mari kita bedah boroknya secara objektif. Mengapa pencampuran istilah asing ini bisa merusak nalar ilmiah? Menulis karya ilmiah, baik itu esai argumentasi, artikel jurnal, maupun skripsi memerlukan ketatnya logika bahasa. Setiap kalimat harus memiliki Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan yang jelas, serta kepatuhan penuh pada konjungsi.
Sialnya, kebiasaan menggunakan bahasa campuran membuat struktur berpikir mahasiswa menjadi malas. Mereka terbiasa melompati proses pencarian padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia hanya karena merasa istilah asing terdengar lebih praktis atau keren.
Akibatnya, saat harus menuangkan argumen ilmiah di atas kertas, tulisan mereka menjadi rancu, struktur kalimatnya bolong-bolong, dan argumennya berputar-putar tanpa arah. Mereka tidak mampu membedakan kapan harus menggunakan kata depan dan kapan harus menggunakan imbuhan, karena di kepala mereka, tata bahasa lokal telah dianggap sebagai urusan nomor sekian.
Tragisnya lagi, kita sering melihat mahasiswa yang mampu berdebat panjang lebar dengan istilah-istilah teoretis berbahasa asing di ruang seminar, namun langsung mati kutu ketika diminta menuliskan ringkasan ide tersebut ke dalam satu paragraf bahasa baku yang kohesif dan koheren.
Ini adalah bukti nyata bahwa komodifikasi bahasa asing telah berhasil menciptakan generasi yang terlihat cerdas di permukaan, tetapi rapuh dan keropos secara metodologis di dalam draf tulisan. Kita kehilangan kemampuan untuk menghargai kedalaman logika bahasa kita sendiri demi mengejar validasi sosial yang semu.
Bagi saya, bahasa bukan sekadar alat untuk bertukar informasi atau sekadar gaya-gayaan agar terlihat modis di mata teman kuliah. Bahasa adalah cerminan dari kedisiplinan cara berpikir.
Jika untuk menyusun satu argumen yang utuh saja kita harus meminjam separuh struktur dari bahasa lain secara serampangan, maka ada yang salah dengan cara kita merawat nalar. Institusi kampus seharusnya menjadi benteng terakhir yang menjaga martabat bahasa, bukan malah menjadi inkubator yang memaklumi hilangnya kemampuan berbahasa baku atas nama modernitas.
Oleh karena itu, berhentilah memandang rendah mereka yang memilih setia pada struktur bahasa baku lokal. Menjadi keren dan intelek tidak pernah diukur dari seberapa banyak istilah asing yang berhasil Anda jejalkan dalam satu tarikan napas.
Kecerlangan seorang akademisi sejati diuji dari seberapa jernih, runtut, dan tajamnya argumen yang ia bangun, dan hal itu hanya bisa dicapai jika kita memiliki rasa hormat serta pemahaman yang utuh terhadap logika bahasa kita sendiri.
Baca Juga
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
-
Dilema Moral: Ketika Pendidikan Harus Menggunakan Tinju demi Keadilan
Artikel Terkait
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Novel Insiden Berdarah: Saat Misteri Menyeret Isu Sosial ke Permukaan
-
Berawal dari TikTok, Lagu Masa Depanmu Milik Danil Muzik Raup Jutaan Streaming
-
Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja
-
Good Duck Hadirkan 'Ducks After Dark': Ruang Refleksi yang Aman, Ringan dan Menyenangkan
Kolom
-
Membongkar Fenomena Anti-Intelektual di Media Sosial: Apa yang Salah dengan Kita?
-
Guru Hebat Tak Cukup, Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
-
Sesi Sambutan di Acara Resmi, Warisan Feodal yang Dianggap Normal
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau
Terkini
-
Sinopsis Avatar: The Last Airbender 2, Upaya Aang Cs hingga ke Ba Sing Se
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
5 Moisturizer untuk Base Makeup, Bikin Riasan Lebih Nempel dan Flawless