M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
ilustrasi mahasiswa (pexels/RDNE Stock project)
Sherly Azizah

Sejak zaman sekolah dasar hingga menapakkan kaki di tingkat akhir perkuliahan, ada satu frasa yang selalu sukses membuat bulu kuduk saya merinding, yaitu, "Anak-anak, tugas ini dikerjakan secara berkelompok, ya."

Di atas kertas, metode ini dipuji setinggi langit oleh para pakar pendidikan sebagai sarana penumbuh jiwa kolaboratif. Namun di lapangan, saya berani bertaruh bahwa kerja kelompok adalah simulasi miniatur sistem feodal paling kejam yang pernah diciptakan di dunia akademis kita.

Setiap kali pembagian kelompok diumumkan, romantisasi kerja sama timbal balik langsung menguap, digantikan oleh perhitungan politik yang kompleks. Berdasarkan analisis sosiologis yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial Humaniora (JSH), metode kerja kelompok di pendidikan tinggi sering kali gagal menciptakan kesetaraan akademik karena terjebak dalam fenomena kemalasan sosial.

Hal ini terjadi ketika individu cenderung mengurangi upaya mereka saat bekerja secara kolektif dibandingkan saat bekerja sendiri. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa kurangnya pengawasan ketat dari dosen memicu terbentuknya stratifikasi sosial informal atau kasta tersembunyi di dalam kelompok, yang pada akhirnya hanya merugikan sebagian kecil mahasiswa yang aktif.

Mari kita bedah anatomi kasta ini secara jernih dan objektif.

Kasta Puncak: Si Pekerja Keras

Di puncak piramida feodal ini bertakhtalah mahasiswa yang menjadi tulang punggung, otak, sekaligus juru selamat bagi kelangsungan hidup kelompok. Mulai dari mencari topik, membedah jurnal, mengetik draf, hingga merapikan format daftar pustaka agar sesuai dengan aturan ejaan baku, semuanya dia lakukan sendirian. Kasta ini biasanya didorong oleh rasa ketakutan akut akan nilai buruk atau rasa belas kasihan yang salah tempat. Saya sering merasa miris melihat kasta ini. Mereka kelelahan secara mental, tetapi tidak punya pilihan selain terus menggendong beban kelompok demi menyelamatkan transkrip nilai mereka sendiri.

Kasta Menengah: Si Penyedia Konsumsi

Tepat di bawah kasta pekerja keras, ada entitas unik dengan peran yang tidak kalah krusial tetapi sering diremehkan. Kelompok ini biasanya sadar diri bahwa otak mereka tidak cukup encer atau referensi buku mereka sangat minim untuk diajak berdebat kusir tentang metodologi penelitian. Sebagai gantinya, mereka melakukan diplomasi logistik. Sesi kerja kelompok yang diadakan di rumah atau kos mereka akan disulap menjadi festival kuliner mini. Gorengan hangat, kopi, es teh manis, hingga mi instan rebus mengalir deras tanpa henti. Ini adalah bentuk barter sosial yang pragmatis, menukar makanan dengan rasa aman agar nama mereka tidak dicoret dari lembar pengesahan tugas.

Kasta Dasar: Si Numpang Nama

Di dasar jurang terdalam, hiduplah kasta yang paling menyebalkan sekaligus paling lihai dalam taktik bertahan hidup. Mahasiswa kasta ini memiliki kesaktian luar biasa untuk menghilang layaknya ninja setiap kali grup percakapan WhatsApp mulai membahas pembagian tugas. Alasan mereka selalu klise dan berulang, mulai dari jaringan internet macet, ada urusan keluarga mendadak, hingga motor mogok di tengah jalan. Anehnya, eksistensi mereka akan tiba-tiba terwujud secara magis pada malam sebelum hari pengumpulan tugas, lengkap dengan pesan manis berbunyi, "Eh maaf baru respons, bagian saya yang mana, ya? Oh, sudah selesai, ya? Makasih banyak, ya, kawan-kawan, nanti aku yang bagian maju presentasi, deh!"

Ilusi Keadilan dalam Penilaian

Tragisnya, sistem penilaian di kampus kita sering kali menutup mata dari ketimpangan kasta ini. Dosen dengan mudahnya memberikan nilai kembar siam, katakanlah nilai A, kepada seluruh anggota kelompok tanpa pernah tahu ada proses berdarah-darah di balik layar. Si Pekerja Keras mendapatkan nilai A karena hasil otaknya yang diperas habis-habisan, Si Penyedia Konsumsi mendapat nilai A sebagai kompensasi atas modal minyak goreng dan kopi yang ludes, sedangkan Si Numpang Nama mendapat nilai A murni karena keberuntungan astrologi dan kemurahan hati teman-temannya yang enggan memicu konflik interpersonal.

Bagi saya, kerja kelompok yang tidak dibarengi dengan evaluasi individu secara berkala hanyalah cara instan bagi sistem pendidikan untuk melatih kita menjadi manusia yang manipulatif sejak dini. Metode ini mengajarkan siswa yang malas bahwa mereka bisa sukses hanya dengan mendompleng keringat orang lain, sembari menanamkan doktrin kepada siswa yang rajin bahwa kerja keras mereka akan selalu dieksploitasi oleh lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, berhentilah meromantisasi kerja kelompok seolah-olah hal itu adalah ruang suci yang penuh kedamaian. Nyatanya, ruang tersebut adalah arena bertahan hidup yang sangat egois, tempat sepiring gorengan dan secangkir kopi sering kali lebih berkuasa dalam menentukan kelulusan sebuah tugas dibandingkan argumen ilmiah yang berbobot.