Nggak semua konflik terbesar dalam hidup terjadi karena pertengkaran atau permusuhan. Terkadang konflik paling menyakitkan muncul ketika dua hal yang sama-sama kita cintai begitu sulit berjalan berdampingan. Perasaan itulah yang menjadi jantung cerita film The Little Sister (La Petite Dernière), drama buatan sutradara Hafsia Herzi yang mengajak penonton menyelami pergulatan remaja muslim saat berusaha memahami identitas dirinya tanpa kehilangan keyakinan yang selama ini membentuk hidupnya.
Film berdurasi ±106 menit ini merupakan adaptasi dari novel autofiksi The Last One karya Fatima Daas. Hafsia Herzi bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Film ini diproduksi June Films dan Katuh Studio bersama sejumlah rumah produksi Eropa lainnya.
Pemeran utamanya nggak kaleng-kaleng, lho. Nadia Melliti sebagai Fatima, didampingi Park Ji-min sebagai Ji-Na, serta Amina Ben Mohamed, Rita Benmannana, Melissa Guers, dan Razzak Ridha. Film ini juga meraih Queer Palm dan penghargaan Aktris Terbaik untuk Nadia Melliti di Festival Film Cannes 2025.
Kisahnya menceritakan Fatima, remaja berusia 17 tahun keturunan Prancis-Aljazair yang tumbuh dalam keluarga muslim yang hangat dan religius di pinggiran Paris. Dia baik, rajin belajar, dan dekat dengan keluarganya. Setelah memasuki dunia kampus dan bertemu lingkungan yang lebih luas, Fatima mulai menyadari ketertarikannya pada sesama perempuan. Ups.
Kesadaran tersebut nggak datang seperti petir yang langsung mengubah hidupnya. Sebaliknya, perasaan itu muncul perlahan melalui kebingungan, rasa bersalah, rasa penasaran, dan berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Dalam proses itu, Fatima bertemu Ji-Na yang membuka ruang baru bagi dirinya untuk memahami siapa dirinya sebenarnya. Namun, semakin dekat dia pada pemahaman tentang dirinya, makin besar pula ketakutannya terhadap kemungkinan kehilangan sesuatu yang selama ini sangat berharga: keluarganya dan keyakinannya.
Dilematis banget, ya, Sobat Yoursay?
Terlalu Berani Mengulik Isu Sensitif
Jujur saja aku salut banget atas keberaniannya mengangkat pertanyaan yang sering kali dianggap terlalu sensitif untuk dibicarakan secara terbuka. Apakah iman dan jati diri harus selalu bermusuhan?
Banyak film dengan tema serupa cenderung mengambil posisi yang tegas. Ada yang menjadikan agama sebagai sumber utama penderitaan tokohnya. Ada pula yang menggambarkan kebebasan pribadi sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Namun, sutradara Hafsia Herzi menguliknya dengan jauh lebih rumit.
Film ini nggak sedang menyerang agama, kok. Yup, Fatima nggak digambarkan sebagai seseorang yang membenci keyakinannya. Dia tetap berdoa, mencintai tradisi dan ajaran yang membesarkannya. Bahkan tetap menghormati keluarganya. Termasuk ketika dirinya mulai mempertanyakan banyak hal, nggak ada momen yang menunjukkan dirinya ingin meninggalkan seluruh hidup lamanya begitu saja.
Serius deh, film The Little Sister tampak memahami bahwa kehidupan nyata jarang sesederhana memilih satu sisi lalu membuang sisi lainnya. Banyak orang hidup di tengah wilayah abu-abu. Misalnya, ada yang mencintai keluarga sekaligus merasa tertekan ekspektasi keluarga. Atau mereka yang mencintai keyakinannya, tetapi juga memiliki pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Film ini menangkap wilayah abu-abu tersebut dengan sangat jujur. Aku justru melihat konflik terbesar karakter Fatima bukanlah konflik antara agama dan orientasi seksual. Konflik terbesarnya adalah ketakutan bila kedua hal itu (agama dan orientasi seksualnya) nggak bisa hidup bersama dalam dirinya. Ketakutan itulah yang membuatnya terus menyimpan rahasia, menahan diri, dan terus mempertanyakan tempatnya di dunia.
Menariknya, film ini nggak menawarkan jawaban pasti. Pokoknya nggak ada pidato panjang yang menjelaskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Nggak ada adegan besar dan dramatis yang tiba-tiba menyelesaikan semua persoalan. Fatima nggak mendapatkan pencerahan instan yang membuat seluruh hidupnya menjadi mudah.
Sebaliknya, film ini memperlihatkan proses menerima diri sendiri berlangsung pelan dan nggak sempurna. Pendekatan semacam ini bagiku jauh lebih relevan dengan kehidupan nyata. Sebab, banyak orang nggak pernah benar-benar menemukan jawaban final atas seluruh pertanyaan dalam hidup mereka. Mereka hanya belajar hidup berdampingan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Begitulah. Film The Little Sister bukan kisah tentang memenangkan perdebatan antara agama dan orientasi seksual. Film ini lebih tertarik menunjukkan bagaimana manusia berusaha bertahan ketika dua hal yang sama-sama penting dalam hidupnya tampak saling bertentangan.
Apakah Sobat Yoursay tertarik menonton film The Little Sister?
Baca Juga
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
Artikel Terkait
-
Scary Movie 6 Resmi Kembali! Reuni Core Four yang Siap Mengocok Perut Sampai Kram
-
Film Disclosure Day Mengguncang Iman dan Keyakinan Manusia, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Review Serial Messiah: Drama Thriller Provokatif tentang Iman dan Politik
-
Dibalik Estetika yang Memanjakan Mata, Another World Mengajarkan Cara Berdamai dengan Masa Lalu
-
Disclosure Day: Thriller Sci-Fi Spielberg yang Penuh Emosi dan Ketegangan!
Ulasan
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
Terkini
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?
-
5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!
-
5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!