Nama Steven Spielberg hampir selalu identik dengan film-film yang mengajak penonton memandang langit dan bertanya tentang tempat manusia di alam semesta. Melalui beberapa filmnya, dia berkali-kali menunjukkan pertemuan dengan kehidupan di luar bumi.
Nah, melalui Disclosure Day, Spielberg kembali mengangkat tema serupa. Film produksi Amblin Entertainment dan Universal Pictures ini ditulis David Koepp dan dibintangi Emily Blunt sebagai Margaret Fairchild, Josh O'Connor sebagai Daniel Kellner, termasuk Colin Firth, Eve Hewson, dan Colman Domingo.
Dengan durasi sekitar ±145 menit, film ini tampil sebagai thriller konspirasi yang perlahan berkembang menjadi perenungan tentang posisi manusia di alam semesta.
Sekilas kisahnya mengikuti Daniel yang berusaha membongkar rahasia besar yang selama bertahun-tahun disembunyikan Wardex Corporation. Di saat yang sama, Margaret mulai mengalami fenomena-fenomena yang sulit dijelaskan secara logis.
Ketika keduanya akhirnya terhubung, mereka menemukan berbagai peristiwa yang terjadi berkaitan dengan rahasia terbesar yang pernah disembunyikan umat manusia: keberadaan kehidupan di luar bumi (alien) dan implikasinya terhadap sejarah manusia.
Memahami Ending Film Disclosure Day Terkait ‘Listen’
Sepanjang film, Spielberg dan David Koepp nggak terlalu sibuk memperlihatkan alien sebagai tontonan utama. Fokus mereka berada pada bagaimana manusia bereaksi ketika dihadapkan pada sebuah kebenaran yang berpotensi mengguncang seluruh fondasi keyakinan yang selama ini mereka pegang.
Karena itulah aku cukup terkejut melihat sebagian penonton merasa kecewa terhadap ending film ini, khususnya ketika Margaret mengucapkan satu kata terakhir (menerjemahkan bahasa alien) sebelum layar berubah menjadi hitam: ‘LISTEN’.
Banyak yang menganggap momen tersebut nggak memuaskan. Sebagian berharap ada penjelasan yang lebih konkret. Sebagian lagi ingin mendengar pesan lengkap yang akan disampaikan. Bahkan nggak sedikit yang merasa film sengaja menggantung demi menciptakan misteri yang sebenarnya bisa dijelaskan.
Menurutku, di sinilah banyak penonton salah memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukan Spielberg. Masalahnya bukan pada kata ‘Listen’. Masalahnya ada pada ekspektasi penonton terkait Disclosure Day yang harus memberikan jawaban.
Padahal sejak awal film ini nggak dibangun sebagai kisah tentang jawaban. Film ini lebih tepatnya kisah tentang ketidakpastian.
Coba perhatikan perjalanan cerita yang berlangsung selama lebih dari dua jam. Hampir seluruh konflik dalam film berputar di sekitar pencarian kebenaran. Karakter-karakternya mengejar informasi yang nggak lengkap, mencoba memahami sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang diri mereka sendiri, dan terus mempertanyakan realita yang selama ini mereka yakini.
Dalam situasi seperti itu, mengapa penonton tiba-tiba mengharapkan film memberikan seluruh jawabannya pada lima detik terakhir? Menurutku, keinginan tersebut malah bertentangan dengan tema utama film.
Jika Spielberg membiarkan karakter Margaret menyampaikan pesan lengkapnya, maka seluruh pengalaman misterius yang dibangun selama film akan berubah menjadi ceramah penjelasan. Film yang sebelumnya mengajak penonton berpikir akan berubah menjadi film yang menyuapi kesimpulan. Dan jujur saja, aku rasa itu jauh lebih membosankan.
Yang menarik dari ending-nya terkait ‘Listen’, kata tersebut nggak menjelaskan apa pun. Sebaliknya, kata itu melemparkan tanggung jawab kembali kepada penonton. Dengarkan apa? Dengarkan siapa? Dengarkan pesan dari makhluk lain? Dengarkan alam semesta? Atau justru dengarkan kenyataan yang selama ini nggak ingin kita dengar? Semua kemungkinan itu terbuka.
Banyak orang menganggap ambiguitas sebagai kelemahan. Aku nggak sepenuhnya setuju.
Terlalu sering penonton terbiasa dijejali penjelasan berlebihan. Setiap misteri harus dijawab, kode harus diterjemahkan, pertanyaan harus ada jawaban yang jelas. Akibatnya, ketika sebuah film memilih berhenti tepat sebelum jawaban diberikan, sebagian penonton langsung menganggapnya sebagai kekurangan.
Padahal nggak semua karya seni bekerja dengan cara seperti itu. Kadang-kadang pertanyaan jauh lebih penting dari jawaban itu sendiri.
Disclosure Day sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang sangat besar: kemungkinan manusia selama ini salah memahami tempat mereka di alam semesta. Jika benar demikian, apakah satu kalimat tambahan cukup untuk menjelaskan semuanya? Tentu nggak.
Bahkan jika Margaret berbicara selama sepuluh menit penuh, tetap nggak akan ada jawaban yang mampu memuaskan seluruh penonton. Karena pertanyaan yang diajukan film ini memang terlalu besar untuk diringkas menjadi satu pidato penutup.
Di sinilah aku merasa kritik terhadap ending Disclosure Day salah sasaran. Yang dianggap sebagai kelemahan sebenarnya mungkin merupakan keputusan artistik yang sangat disengaja.
Sepanjang sejarah, manusia selalu lebih sibuk berbicara ketimbang mendengarkan. Kita cepat membangun keyakinan, cepat menyimpulkan sesuatu, dan cepat merasa memahami dunia. Namun, ketika berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri, mungkin langkah pertama yang harus dilakukan memang bukan berbicara. Melainkan mendengarkan.
Karena itulah aku nggak melihat ending Disclosure Day sebagai akhir yang mengecewakan. Sebaliknya, aku melihatnya sebagai tamparan halus kepada penonton yang terlalu terburu-buru meminta jawaban.
Menurut Sobat Yoursay, bagaimana ending Disclosure Day? Memuaskan atau kamu ada di pihak yang nggak terpuaskan?
Baca Juga
-
The Furious, Bukti Film Aksi Asia Masih Sulit Dikalahkan Hollywood
-
Refleksi Film Toy Story 5: Apakah Teknologi dan Mainan Bisa Hidup Berdampingan?
-
Mengapa Film Scary Movie 6 Semakin Sulit Membuat Penonton Tertawa?
-
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
-
The Little Sister: Ketika Iman dan Jati Diri Terjebak dalam Konflik yang Tak Terucapkan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu
-
The Furious, Bukti Film Aksi Asia Masih Sulit Dikalahkan Hollywood
Terkini
-
Pesta 15 Tahun MAPPA: Banjir Pengumuman Anime Kelas Berat yang Wajib Masuk Daftar Tonton!
-
Jujur, Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bikin Gen Z Jadi Kurang Produktif?
-
Piala Dunia 2026 Datang, Waktunya UMKM Panen Cuan Gila-gilaan dari Nobar!
-
Yang Datang Setelah Menggosipkan Orang
-
Bukan Mistis! Ini Alasan Kenapa Kamu Sering Lihat Wajah Makhluk Hidup di Benda Mati