Aroma kopi luwak saset dan asap rokok mengepul di sudut kedai yang bising. Di antara deru motor jalanan, suara Aris mendominasi meja nomor empat. Di hadapannya, Rian dan Doni mendengarkan dengan mata berbinar, membiarkan pisang goreng mereka mendingin. Objek utama malam itu adalah Bayu, anak baru di divisi logistik.
"Gue bilang juga apa, si Bayu itu mukanya dua. Kelihatan kalem, padahal aslinya penjilat ulung," bisik Aris tajam, mencondongkan badannya ke tengah meja agar suaranya tidak tenggelam dalam riuh kedai.
Rian mengerutkan kening, mencoba bersikap objektif meski ketertarikannya mulai tersulut. "Masa sih, Ris? Tapi kemarin dia yang sukarela bantuin divisi kita beresin laporan yang berantakan, kan? Manajer bahkan sempat muji dia." Aris mendengus remeh. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi plastik sambil tertawa sinis, sebuah tawa yang meremehkan ketulusan orang lain.
"Halah, itu cuma taktik murahan dia biar kelihatan kayak pahlawan di depan bos! Lo berdua tahu gak kenapa proposal anggaran tim kita kemarin tiba-tiba ditolak mentah-mentah?"
Doni menggeleng, ikut memajukan kursinya. "Kenapa emang? Katanya karena kurang riset pasar?" "Itu alasan formalnya!"
Aris memotong dengan nada penuh keyakinan palsu. "Gue yakin si Bayu yang ngebajak draf ide kita di komputer umum. Dia modifikasi dikit, terus diajuin sendiri ke atasan lewat jalur belakang atas nama dia pribadi. Dia itu maling ide yang pinter nyari muka. Manfaatin keringat orang lain buat naik jabatan instan."
Doni mendesah panjang, raut wajahnya berubah sinis. "Wah, parah banget kalau beneran gitu. Licik juga tuh anak baru. Keliatannya aja sopan kalau papasan di koridor."
"Makanya, jangan pernah ketipu sama senyum polosnya," pungkas Aris, mengakhiri sesumbar malam itu dengan kepuasan yang meluap-luap.
"Orang kayak gitu bakal halalkan segala cara. Pokoknya kita harus jagain jarak, jangan sampai hasil kerja keras kita dicolong lagi sama ular kayak dia."
Kalimat-kalimat tajam keluar dari mulut Aris seperti semburan racun, disambut anggukan setuju dari kedua temannya. Aris merasa menang. Ia merasa menjadi pria paling jeli di kantor, sang pembuka tabir kemunafikan. Kepuasan instan dari menguliti harga diri orang lain membuat dadanya terasa membusung saat mereka akhirnya bubar menjelang tengah malam.
Namun, kepuasan itu tertinggal di area parkir kedai kopi. Begitu Aris melangkah masuk ke dalam kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter dan memutar kunci dari dalam, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Kamar yang biasanya menjadi tempat perlindungan paling nyaman, mendadak terasa asing dan mengintimidasi.
Udara di dalam ruangan terasa terlampau dingin, jenis dingin yang tidak dihasilkan oleh mesin pendingin ruangan, melainkan dingin yang menusuk lurus ke dalam sumsum tulang. Bersamaan dengan dingin yang ganjil itu, tercium aroma tanah yang basah bercampur bau amis yang pekat. Aris mengendus beberapa kali, mengira ada tikus mati di belakang lemari, tetapi bau ini terasa lebih hidup dan pekat.
Mengabaikan firasat buruknya, Aris melempar tasnya ke lantai. Ia langsung merebahkan diri di atas kasur. Begitu ia memejamkan mata, kesadarannya tersedot dengan cepat ke dalam pusaran kegelapan.
Malam itu, Aris tidak mendapatkan istirahat yang tenang. Ia justru terlempar ke dalam sebuah mimpi yang sangat aneh, kotor, dan sensual. Dalam tidurnya yang gelisah, ia berada di sebuah ruangan gelap gulita tanpa ujung.
Sesosok makhluk tanpa wajah dengan tubuh yang dipenuhi sisik hitam legam mendekatinya. Makhluk itu, dengan kulitnya yang sangat dingin, melilit tubuhnya dengan mencekam sekaligus membingungkan. Mimpi erotis yang ganjil itu terasa begitu nyata, membuat napas Aris memburu dan jantungnya berdetak liar di bawah alam sadarnya.
Aris tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram oleh sisa pantulan lampu jalan dari sela-sela gorden. Dada Aris naik turun dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang bagai dipukul talu, dan seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin.
Ia menghela napas panjang beberapa kali, mencoba menyatukan kembali kepingan logikanya yang berserakan. "Cuma mimpi kotor biasa... cuma bunga tidur," bisiknya lirih, mencoba menenangkan diri sendiri. Suaranya terdengar parau dan asing di telinganya sendiri.
Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Aris berniat untuk bergeser, turun dari kasur demi mengambil segelas air putih yang ada di meja sudut kamarnya. Namun, tepat saat ia mencoba menggerakkan kedua pergelangan kakinya, tubuhnya menolak untuk patuh.
Selimut tipis yang menutupi tubuhnya mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat. Ada sebuah tekanan berat, dingin, dan kokoh yang mengunci pergelangan kakinya, perlahan merayap naik ke arah betis.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan detak jantung yang makin tidak terkendali, Aris perlahan-lahan menyibak ujung selimutnya. Di balik kegelapan kamar yang remang, seluruh pasokan darah di tubuhnya mendadak terasa membeku seketika.
Sesosok ular kobra berwarna hitam dengan corak sisik berkilau keperakan sedang berada di atas kasurnya. Makhluk melata itu tidak diam; ia bergerak lambat, tetapi pasti, membuat Aris tidak bisa bergerak sama sekali.
Aris seketika terkunci dalam keadaan lumpuh total. Ia mengalami kelumpuhan tidur (sleep paralysis). Setiap kali ia mencoba menarik napas untuk berteriak meminta tolong, lilitan kobra itu makin mengencang, menekan paru-parunya hingga batas maksimal.
Ular kobra itu kemudian menegakkan sepertiga tubuhnya tepat di atas dada Aris. Tudung lehernya mengembang lebar, mengeluarkan suara desisan yang teramat nyaring, berat, dan dipenuhi getaran mistis yang mengintimidasi ruangan. Mata Aris melebar karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Makhluk itu mendekatkan kepalanya yang mengerikan, hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidung Aris, seolah bersiap menyemburkan bisanya tepat ke arah wajah pemuda itu.
Sentuhan hawa dingin yang keluar dari mulut ular itu meninggalkan rasa pahit yang membakar di lidah Aris, disertai aroma pembusukan yang sangat pekat.
"Ini adalah wujud dari racunmu sendiri," sebuah suara tanpa wujud mendesis langsung di dalam pusat kepala Aris, terasa tajam dan menyakitkan telinga batinnya.
Aris tahu ia sedang berada di ujung ajalnya. Di tengah keputusasaan yang menghimpit fisik dan mentalnya, sebuah kesadaran spiritual yang jernih tiba-tiba menghantam hatinya. Rasa bersalah yang teramat kuat muncul dari dalam dadanya.
Ia tersadar seketika. Roh ular kobra ini tidak datang secara acak dari alam gaib. Makhluk ini adalah perwujudan konkret dari kata-kata busuk, fitnah, dan racun lisan yang ia lontarkan tentang Bayu beberapa jam yang lalu. Setiap spekulasi liar yang ia karang, tuduhan keji sebagai maling ide, dan sebutan "ular" yang ia sematkan pada Bayu di depan teman-temannya telah mewujud menjadi monster nyata. Aris tersadar bahwa dirinya sendirilah yang telah mengundang petaka ini masuk ke kamarnya.
Dalam kepasrahan yang memuncak, dengan air mata penyesalan yang mengalir deras, Aris memejamkan mata erat-erat. Lidah dan tenggorokannya terkunci secara fisik, membuat ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berteriak, menangis hancur memohon ampunan kepada Yang Mahakuasa.
Aku salah! Aku salah telah membicarakan Bayu. Aku salah telah menyebar fitnah dari lidahku sendiri. Aku berjanji demi Tuhan, aku tidak akan pernah lagi menggosipkan orang lain, aku tidak akan lagi membicarakan keburukan orang. Tolong ampuni aku... tolong lepaskan aku dari maut ini!
Tudung leher kobra yang tadinya mengembang lebar perlahan-lahan mengempis. Sepasang taring tajam yang siap mengoyak wajah Aris ditarik kembali masuk ke dalam rahangnya.
Lilitan itu mendadak melonggar seketika. Aris membuka matanya yang sembap, dan dalam satu kedipan mata, ular kobra raksasa itu lenyap tanpa bekas.
Aris langsung terduduk di atas kasurnya. Ia terengah-engah, rakus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil memegangi dadanya yang masih terasa ngilu. Di bawah temaram kamar, Aris menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja diselamatkan dari gerbang kematian dan diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki tabiat buruknya. Malam itu, ia bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan lidahnya menyebar gosip kepada siapa pun.
Baca Juga
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global
-
Ternyata Kita Salah, 19 Juta Lapangan Pekerjaan Itu untuk TNI dan Polisi
-
Kisah Dua Sisi di Lembah Hijau: Rahasia di Balik Rumah Busuk
-
Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
-
Tiru Cara Orang Jepang: Bawa Kantong Plastik Kecil untuk Wadah Sampah Kita
Artikel Terkait
-
Tak Cukup Dipenjara, Migrant Watch Desak Mafia TPPO Dimiskinkan Lewat Jerat TPPU
-
Disebut Meninggal karena Kurang Minum, Migrant Watch Soroti Bekas Sayatan di Jenazah PMI NTT
-
Sering Dianggap Cerewet, Ini 5 Pesan Cinta di Balik Kisah Masa Lalu Orang Tua
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
-
Siapakah Dua Bocah yang Bermain di Kuburan Tua Dini Hari itu?
Cerita-misteri
Terkini
-
Bukan Mistis! Ini Alasan Kenapa Kamu Sering Lihat Wajah Makhluk Hidup di Benda Mati
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Bukan Karena Malas, 5 Hal Ini Jadi Alasan Utama Kenapa Kamar Anak Kos Cepat Berantakan
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Tanpa Jeda