Sekar Anindyah Lamase | Taufiq Hidayat
The Motorcycle Diaries. (IMDb)
Taufiq Hidayat

Sinema bertema perjalanan (road movie) sering kali menawarkan lebih dari sekadar panorama visual yang memanjakan mata, melainkan juga sebuah transformasi batin yang mendalam bagi para karakternya. Hal inilah yang teperikan secara magis dalam The Motorcycle Diaries (2004).

Film ini mengisahkan tentang dua pemuda asal Argentina yang menjalani petualangan besar menjelajahi bentangan benua Amerika Selatan dengan mengendarai sepeda motor tua yang mereka namai La Poderosa (Si Perkasa).

Namun, alih-alih sekadar berkelana mencari kesenangan duniawi, kedua pemuda ini mengusung sebuah misi kemanusiaan kecil yang mulia: memberikan perawatan medis secara sukarela kepada orang-orang sakit yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Tujuan ini tentu berkelindan erat dengan latar belakang akademis mereka sebagai mahasiswa kedokteran.

Kedua pengembara tersebut adalah Ernesto Guevara (Gael García Bernal) dan Alberto Granado (Rodrigo de la Serna). Meski sama-sama bernaung di bawah payung ilmu medis, mereka mengambil spesialisasi jurusan yang berbeda.

Pertemanan karib yang telah terajut lama mendorong keduanya untuk merancang sebuah ekspedisi lintas negara selama beberapa bulan.

Di paruh awal film, penonton disuguhi atmosfer yang penuh letupan antusiasme; raut penuh sukacita dan gairah masa muda terpancar jelas saat mereka melakukan berbagai persiapan logistik sebelum roda sepeda motor mulai berputar menembus batas negara.

Rute perjalanan yang luar biasa ini dirancang dengan titik awal dari Buenos Aires, Argentina. Dari sana, mereka bergerak melintasi terjalnya medan menuju Kolombia, merambah eksotisme Peru, hingga akhirnya dijadwalkan berakhir di Venezuela.

Perjalanan yang semula diperkirakan berlangsung singkat ini rupanya molor hingga memakan waktu satu tahun penuh. Durasi yang panjang tersebut menjadi saksi bisu atas banyaknya rintangan, konflik internal, serta tantangan alam yang harus mereka hadapi dengan taruhan fisik dan mental.

Retorika Komedi yang Bermutasi Menjadi Empati Sosial

Pada babak pengenalan, sutradara Walter Salles membungkus film ini dengan nuansa komikal yang jenaka. Penonton akan dibuat tersenyum melihat betapa konyolnya interaksi kedua sahabat ini saat bercanda di atas sepeda motor yang sarat muatan perlengkapan.

Akibat terlalu asyik bersenda gurau tanpa memedulikan kontur jalan, mereka bahkan sempat terjatuh dan terperosok ke dalam lubang di pinggir jalan yang rusak.

Mengingat perjalanan mereka yang baru seumur jagung, insiden jatuh tersebut sempat terasa sebagai sebuah indikasi masalah besar yang akan menggagalkan ekspedisi. Namun, kenyataannya, mentalitas masa muda yang tangguh membuat mereka tetap mampu melanjutkan perjalanan dengan kepala dingin dan tawa yang tetap renyah.

Sentuhan romansa yang getir juga sempat singgah ketika mereka memutuskan bermalam di rumah kekasih Ernesto untuk melepas rindu sekaligus mengucapkan salam perpisahan.

Momen ini dipenuhi oleh jalinan janji untuk saling setia dan titipan barang yang harus dibeli di kemudian hari. Namun, takdir berkata lain. Di tengah kelanjutan perjalanannya, Ernesto mendapati sebuah surat layang dari sang kekasih yang menyatakan bahwa hubungan mereka telah kandas, dan perempuan itu telah berpaling ke pelukan pria lain.

Sebuah kenyataan yang meremukkan hati, tetapi di titik inilah film memperlihatkan betapa beruntungnya Ernesto memiliki Alberto, seorang sahabat sejati yang siap merangkul dan menyembuhkan luka emosionalnya melalui humor dan kesetiaan perjalanan.

Medan yang mereka lalui pun tidak main-main. La Poderosa dipaksa mengarungi lanskap geografi yang ekstrem. Salah satu sekuens visual yang paling memikat adalah ketika mereka harus menyeberangi sebuah danau luas menggunakan perahu, untuk kemudian langsung disambut oleh hamparan salju tebal yang menutupi jalur lintasan mereka.

Kendati penuh keindahan, petualangan ini mencapai titik balik yang menyulitkan saat sepeda motor mereka mengalami kerusakan fatal.

Di tengah keterbatasan, mereka terpaksa menjual motor tersebut karena sudah tidak layak pakai. Namun, hancurnya kendaraan tidak lantas menghentikan langkah kaki mereka.

Perjalanan tetap diteruskan secara manual dengan berjalan kaki; melewati gurun gersang, bermalam di alam terbuka tanpa tenda, menyusuri perbukitan sunyi, hingga mulai bersinggungan langsung dengan penduduk lokal yang hidup merana akibat impitan ekonomi dan benturan konstelasi politik daerah setempat.

Kontemplasi di Machu Picchu dan Panggilan Jiwa Kemanusiaan

Satu titik krusial yang menjadi generator penggerak pemikiran Ernesto adalah ketika mereka tiba di Machu Picchu, Peru. Situs bersejarah yang keagungan budayanya sudah mendunia ini menyuguhkan arsitektur bangunan batu yang berdiri kokoh dan anggun di atas puncak bukit yang curam.

Di tempat ini, dialog-dialog yang dihadirkan mulai bergeser ke arah yang lebih filosofis, merenungkan bagaimana peradaban yang sekuat itu bisa runtuh dan menyisakan keturunan yang kini hidup dalam garis kemiskinan yang akut.

Setibanya di pelabuhan kota berikutnya, mereka berkesempatan menginap di kediaman seorang dokter yang dermawan. Di sanalah ruang dialektika mereka semakin diperkaya lewat aktivitas membaca buku, berdiskusi, dan berinteraksi secara intens dengan sang tuan rumah.

Setelah mendengar misi kemanusiaan yang diusung oleh dua pemuda ini, dokter tersebut menyarankan mereka untuk mendedikasikan diri di sebuah koloni penderita kusta di San Pablo, Peru.

Di koloni yang terisolasi tersebut, mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berkontribusi nyata: merawat, menyelamatkan, dan memanusiakan rakyat kecil yang sakit serta luput dari perhatian pemerintah.

Melalui sekuens di koloni kusta inilah, penonton dapat melihat dengan benderang fajar pertama dari keinginan Ernesto untuk memperjuangkan hak-hak serta martabat masyarakat kelas bawah.

Dari segi teknis penceritaan, alur yang diusung oleh The Motorcycle Diaries sangat bersahabat dan tidak akan membuat kepala penonton pening.

Narasi bergulir secara linear atau satu arah tanpa interupsi adegan kilas balik (flashback). Dari departemen visual, sinematografi film ini memancarkan estetika yang sangat alami (raw) dan organik. Dominasi lanskap alam terbuka, mulai dari gersangnya gurun, putihnya salju, tenangnya danau, hingga dinamika sudut-sudut kota kuno, disajikan dengan komposisi warna yang menangkap atmosfer orisinal Amerika Latin pada era 1950-an.

Kesimpulan

Pada konklusi cerita, barulah penonton disadarkan dengan hantaman realitas sejarah yang kuat bahwa salah satu mahasiswa kedokteran yang lugu, berpenyakit asma, dan penuh empati dalam perjalanan tersebut kelak bertransformasi menjadi salah satu tokoh revolusioner paling ikonik di abad ke-20.

Siapa yang tidak mengenal nama Che Guevara? Film ini bertindak sebagai sebuah biografi sinematik yang manis dan subtil, yang memetakan dari mana asal-usul, pengaruh ideologis, serta bagaimana sudut pandang kedaruratan sosial itu pertama kali menyusup ke dalam sanubari sang tokoh.

The Motorcycle Diaries berhasil membuktikan sebuah tesis sejarah yang indah: bahwa sebuah perjalanan dengan sepeda motor mengelilingi Amerika Selatan-lah yang mendisrupsi takdir seorang calon dokter muda, mengubahnya menjadi seorang pejuang revolusioner yang abadi dalam ingatan dunia.