Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Penjagal Iblis: Dosa Turunan (IMDb)
Ryan Farizzal

Penjagal Iblis: Dosa Turunan merupakan film horor Indonesia tahun 2025 yang disutradarai sekaligus ditulis oleh Tommy Dewo. Diproduksi oleh Screenplay Films bekerja sama dengan Rapi Films dan IFI Sinema, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 30 April 2025 dengan durasi 109 menit. Dibintangi oleh Satine Zaneta sebagai pemeran utama Ningrum, Marthino Lio sebagai Daru, serta Niken Anjani dalam peran antagonis Pakunjara, film ini menggabungkan elemen horor supranatural dengan aksi dan thriller investigatif.

Misteri Gelap Sekte yang Kelam

Salah satu adegan di film Penjagal Iblis: Dosa Turunan (IMDb)

Sinopsis film berpusat pada tragedi pembunuhan brutal sebuah keluarga selama ritual ruqyah. Ningrum, seorang gadis berusia 19 tahun, dituduh sebagai pelaku dan dirawat di rumah sakit jiwa. Akan tetapi, pengakuannya mengungkap identitasnya sebagai penjagal iblis yang bertugas memburu makhluk jahat di dunia manusia.

Daru, seorang jurnalis investigatif yang skeptis terhadap hal-hal mistis, ditugaskan meliput kasus tersebut. Wawancaranya dengan Ningrum membawa Daru ke dalam konflik yang lebih dalam, melibatkan jaringan iblis yang dipimpin oleh Pakunjara, seorang pemuja kegelapan yang berambisi membangkitkan kekuatan jahat tertinggi. Cerita mengeksplorasi tema dosa turunan, pertarungan antara kebaikan dan kegelapan, serta batas antara realitas dan supranatural.

Film ini menawarkan pendekatan segar dalam genre horor Indonesia dengan memadukan mitologi lokal, aksi bela diri, dan elemen investigasi. Sutradara Tommy Dewo berhasil membangun dunia cerita yang koheren, meskipun durasi yang relatif singkat membuat beberapa aspek pengembangan karakter dan motivasi terasa kurang mendalam.

Satine Zaneta memberikan penampilan kuat sebagai Ningrum, seorang pemburu iblis yang energik dan meyakinkan dalam adegan aksi. Marthino Lio menyampaikan transformasi Daru dari skeptis menjadi penerima kebenaran supranatural dengan baik, sementara Niken Anjani menghadirkan kehadiran antagonis yang mengancam.

Ulasan Film Penjagal Iblis: Dosa Turunan

Salah satu adegan di film Penjagal Iblis: Dosa Turunan (IMDb)

Aspek teknis film patut diapresiasi. Sinematografi oleh Bagoes Tresna Adji menciptakan suasana gelap dan menegangkan, terutama dalam adegan ritual dan rumah sakit jiwa. Efek spesial, termasuk adegan pertarungan supranatural dan sekuens animasi tiga dimensi yang menggambarkan latar belakang Ningrum serta Pakunjara, menjadi highlight kreatif yang jarang ditemui dalam produksi horor lokal. Penggunaan elemen budaya seperti mantra beraksara Jawa dan ritual ruqyah menambah keautentikan cerita. Skor musik oleh Fajar Yuskemal dan Yudhi Arfani mendukung ketegangan secara efektif tanpa berlebihan.

Kelemahan utama terletak pada pacing yang terkadang terasa tergesa, menyebabkan beberapa klimaks kurang berdampak maksimal. Pengembangan subplot, seperti interaksi di rumah sakit jiwa, meskipun menambah nuansa horor, terasa kurang terintegrasi sepenuhnya. Meski demikian, film ini berhasil menyampaikan kritik sosial ringan terhadap oknum di institusi kesehatan, yang menjadi salah satu momen paling berkesan buatku karena menyuguhkan aksi dan konsep uniknya.

Film ini tersedia untuk streaming di Netflix Indonesia. Berdasarkan data terkini, film mulai dapat ditonton di platform tersebut sejak akhir November 2025, dan hingga saat ini masih dapat diakses olehmu. Rating usia yang diberikan adalah 18+ karena mengandung adegan kekerasan, darah, dan elemen horor intens. Kusarankan memeriksa katalog Netflix secara langsung untuk konfirmasi ketersediaannya.

Salah satu adegan paling menegangkan adalah pembukaan film, di mana sebuah keluarga menjalani ritual ruqyah untuk anak yang kerasukan. Setelah ritual selesai, serangan brutal oleh Ningrum terjadi secara mendadak, disajikan dengan intensitas tinggi yang menciptakan ketegangan luar biasa. Adegan ini efektif membangun rasa takut melalui kombinasi suara, visual kekerasan, dan elemen supranatural yang tiba-tiba, meninggalkan kesan mendalam sejak awal.

Bagian yang paling tak terlupakan adalah saat animasi 3D mengungkap latar belakang Ningrum dan dosa turunan kaumnya, lalu ditutup dengan bentrokan antara Ningrum dan Pakunjara. Adegan pertarungan supranatural ini, meskipun begitu kurasa ini agak antiklimaks sih, tapi juga memorable karena kreativitas efek visual dan tema penebusan dosa. Selain itu, momen di rumah sakit jiwa yang melibatkan pelecehan dan balasan supranatural terhadap oknum penjaga juga sering disebut sebagai bagian yang paling membekas, karena menyatukan horor psikologis dengan kritik sosial.

Jadi bisa kusimpulkan, Penjagal Iblis: Dosa Turunan adalah tontonan yang menghibur bagi penggemar horor aksi Indonesia. Film ini berhasil menyeimbangkan elemen hiburan dengan narasi yang bermakna, meskipun tidak sempurna. Untuk yang mencari cerita supranatural dengan aksi dinamis dan akar budaya lokal, film ini layak ditonton, baik di bioskop maupun melalui Netflix. Dengan kekuatan akting utama dan produksi yang solid, film ini memperkaya khazanah perfilman horor nasional di tahun 2025. Rating pribadi: 7.3/10.